LEMBATA: PENDIDIKAN, GURU, DAN POLITIK

Berbicara tentang pendidikan di Lembata, kita harus angkat topi dan berterima kasih pada para misionaris yang telah sangat sukses membuka dan memulai pendidikan di Lembata dan Flores pada umumnya. Para misionaris Katolik yang biasa dikenal dengan misi, telah berhasil memelopori pembangunan sekolah-sekolah sampai di pelosok-pelosok, dan meyakinkan anak-anak dan para orang tua, mengenai pentingnya pendidikan. Untuk tujuan itu, misi tidak hanya membangun sekolah guru dan mendidik anak-anak Lembata, melainkan juga terus menerus mendampingi para guru itu dalam mengemban tugas-tugas mereka sebagai pendidik.

Dalam rangka membangun gedung-gedung sekolah, misi juga telah membuka sekolah tukang (ambachtschool), yang pada gilirannya bisa membangun sekolah-sekolah di berbagai pelosok daerah. Sekolah pertukangan di Larantuka itu telah mencetak tukang-tukang handal yang dididik, tidak untuk membangun gedung-gedung kosong dan mati, melainkan untuk membangun gedung-gedung yang hidup dan berjiwa, dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia.

Untuk menerobos dan membangun sekolah-sekolah di wilayah-wilayah terpencil, misi telah menggunakan kapal motor sebagai alat transportasi perlengkapan-perlengkapan sekolah sampai ke wilayah-wilayah terpencil. KM Teresia, KM Siti Nirmala, KM Arnoldus, adalah kapal-kapal motor yang sering menjelajahi perairan Flores, Lembata, Alor, untuk melayani kegiatan-kegiatan misi, termasuk mengangkut orang, perlengkapan, serta bahan-bahan untuk gereja dan sekolah.

Demi menjalankan kegiatan misinya, Gereja berkonsentrasi pada pendidikan. Misi di Flores dan Lembata sepertinya telah membuat pendidikan menjadi identik dengan misi Katolik. Misi seolah-olah telah mengkontekstualisasikan pesan  Yesus yang tiga kali disampaikan kepada Petrus di tepi pantai danau Tiberias, “Gembalakanlah domba-dombaku” (Yoh. 21: 15-17), menjadi “Didiklah anak-anakku.”  Misi menjalankan tugas kegembalaan, dengan membangun manusia Flores dan Lembata, melalui pendidikan. Memang tidak bisa disangkal, pendidikan telah membawa perubahan besar pada manusia Lembata.

Guru itu panggilan

Dalam rangka membangun landasan yang kokoh pada pendidikan, misi juga telah membuka sekolah pendidikan guru. Pendidikan ini pun tidak sekadar untuk menghasilkan ijazah guru, melainkan mendidik guru yang berkepribadian dan berkarakter guru. Pendidikan guru dilakukan secara intensif bahkan dalam asrama. Pendidikan guru di sini bukan sekadar dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agar guru menjadi pandai dan terampil, melainkan juga untuk melengkapi ilmu pengetahuan pada guru itu dengan pengembangan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan kepribadian guru.

Guru adalah profesi, dan bukan sekadar pekerjaan. Maka guru pertama-tama harus mampu menjadi guru. Kemampuan pokok ini kemudian dilengkapi dengan penguasaan materi yang pada gilirannya bisa difungsikan dalam aktivitas pendidikan. Guru tidak hanya menguasai materi yang akan diajarkan tetapi juga mampu membuat materi itu sampai pada sasaran. Itu berarti anak didik harus menyerap apa yang diajarkan guru. Tugas guru bukan terutama menyampaikan materi, melainkan juga membuat anak mampu menerima materi itu. Ibaratnya, guru tidak bisa hanya bertindak sebagai seorang pemilik kuda, yang hanya mengantar kudanya ke mata air, sementara apakah kuda itu minum airnya atau tidak, adalah urusan kudanya sendiri dan bukan urusan pemilik kuda. Tidak.  Pemilik kuda harus mengkondisikan kuda itu agar mau minum. Tujuan utama si pemilik kuda bukanlah menghantar kuda ke air, melainkan agar kudanya minum air. Kalau kuda berhasil dihantar ke mata air tetapi tidak berhasil minum, maka tidak ada kesuksesan apa pun yang diraih si pemilik kuda.

Begitu juga sikap guru terhadap anak didik. Guru tidak cukup hanya menyajikan materinya, lalu terserah pada anak, mau mengambil dan memanfaatkannya atau tidak. Guru harus bertindak lebih dari itu, yakni secara kreatif mencari jalan untuk membuat anak didiknya tertarik dan penuh semangat, mau mengambil materi itu. Tujuan pendidikannya adalah bukan sekadar untuk menyampaikan materi kepada anak didik, melainkan supaya anak didik menerima atau menyerap dan mengembangkan materi itu sendiri. Kembali ke analogi kuda tadi, bisa dikatakan bahwa, tak ada gunanya menghantarkan kuda ke mata air, kalau si kuda sendiri tidak bisa dan tidak mau minum.

Guru yang tidak punya panggilan untuk menjadi guru tetapi telah terpaksa menjadi guru,  akan mereduksi profesi guru menjadi sebatas tugas. Dulu di Flores, termasuk Lembata, guru adalah pilihan dan cita-cita. Anak bercita-cita jadi guru. (Mendiang bapak Frans Seda selalu mengatakan bahwa bagi anak-anak Flores hanya ada dua cita-cita: menjadi pastor atau guru.) Sekarang guru hanya menjadi lowongan, dan tidak lagi menjadi cita-cita. Guru hanya berfungsi sebagai sekadar batu loncatan untuk mendapatkan status PNS. Artinya, kalau lowongan lain tidak ada, maka jadi guru pun tidak apa-apa.

Dulu guru mengabdi pada anak didik dan masyarakat, sekarang guru mengabdi pada negara. Masalah akan muncul ketika negara tak sejalan dengan masyarakat.  Dulu guru diatur oleh etika moral dan hati nurani. Sekarang guru diatur oleh peraturan dan kontrol negara. Itu artinya dulu guru mendapatkan motivasi dan dorongan dari dalam, sekarang guru adalah bentukan dari luar. Selama guru hanya termotivasi dari luar, maka peningkatan kesejahteraan guru dan peningkatan anggaran pendidikan, tidak akan membawa dampak perubahan apa pun.

Guru dan Lembata

Kebijakan yang ditempuh misi pada awal karyanya di Lembata, telah membuat guru menjadi sosok yang sangat terkemuka dalam masyarakat. Dan istimewanya bahwa para guru pun menari dalam irama itu dan sangat menjaga citra mereka. Guru harus jadi panutan. Mereka adalah tenaga lapangan yang langsung berada di tengah masyarakat. Mereka bekerja keras mendampingi para misionaris tidak hanya dalam mengembangkan misi Gereja Katolik khususnya, melainkan juga mengembangkan dunia pendidikan pada umumnya. Seperti sudah dikatakan, guru itu merupakan panggilan, seperti halnya pastor. Karena itu profesi guru benar-benar menyatu dengan budaya profesinya. Seluruh hidupnya adalah guru. Bahkan sebutan guru pun sudah lengket menyatu dengan nama pribadinya.

Guru di Lembata telah tampil sebagai kelompok intelektual pertama, yang berjasa membuka wawasan masyarakat. Pantas kalau mereka tampil gencar melakukan advokasi-advokasi melawan feodalisme,  ketidak-adilan, dan penindasan yang masih kental di Lembata pada zaman itu. Mereka aktif berpolitik dalam partai politik (Katolik); di sana mereka dididik menjadi politisi militan yang bermartabat; politisi yang berkeyakinan bahwa politik adalah untuk kebaikan bersama. Maka boleh dikatakan, politik pada zaman guru adalah politik dengan moral (moral) dan moril (morale) guru, dengan  roh dan semangat guru. Politik ala guru adalah politik berhati nurani, politik yang cerdas dan bermartabat. Politik untuk kebaikan bersama. Kiranya politik ala guru ini perlu dihidupkan lagi di Lembata.

Sejarah Lembata sepertinya sudah menyatu dengan jiwa guru. Kegiatan-kegiatan berpolitik di Lembata dilakukan oleh para guru. Peristiwa Statement 7 Maret 1954 pun dipelopori oleh para politisi guru, dan sebagian terbesar tokohnya adalah  guru. Para guru itulah  yang pertama kali mencetuskan tuntutan agar Lembata mendapatkan otonomi. Apa yang dicetuskan para guru sejak zaman orde lama tersebut, terpendam selama masa orde baru dan akhirnya baru mengemuka lagi pada zaman reformasi. Barangkali itulah yang namanya semangat guru; tidak mengharapkan hasil jangka pendek melainkan jangka panjang. Sekali lagi, Lembata perlu belajar dari para guru politisi ini. Guru politisi tidak hanya melihat hasil jangka pendek. Mereka punya visi jauh ke depan. Mereka mengacu pada model pembangunan manusia. Manusia harus menjadi tujuan pokok dan tidak boleh menjadi alat. Membangun rumah semegah dan seindah apa pun, kalau yang tinggal di dalamnya adalah sapi, ya tetap namanya kandang. Tetapi membangun kandang sesederhana apa pun, tetapi kalau yang tinggal di dalamnya adalah manusia, tetap disebut rumah, home,  bahkan sweet home.

Sayangnya, semangat guru model awal itu telah meredup. Hal ini tentu disebabkan karena telah terjadi banyak perubahan. Sekarang guru sudah menjadi pegawai negeri, yang berarti dia harus loyal pada negara. Guru tidak boleh lagi berpolitik, karena guru yang berpolitik dianggap tidak loyal pada negara. Guru tidak bisa lagi bersikap kritis pada negara. Selanjutnya, dengan adanya semakin banyak orang terdidik, guru seperti kehilangan wibawa karena tidak lagi menjadi satu-satunya kelompok intelektual yang bisa memberikan pencerahan pada masyarakat.

Namun perkembangan ini sebenarnya bisa membuat guru lebih terfokus pada profesinya sebagai guru. Guru malah bisa menjadi lebih kreatif, dan berkonsentrasi memikirkan dan menemukan jalan, tidak hanya untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan untuk membuat anak didik menjadi haus akan pelajaran. Guru hendaknya menjadi kreatif memikirkan bagaimana membuat sekolah menjadi menarik, sehingga anak senang datang ke sekolah, dan dengan senang hati belajar. Dengan kata lain, guru memang tidak bisa lagi berpolitik praktis, tetapi masih bisa berpolitik kreatif, berhadapan dengan anak didiknya untuk membangun semangat dan motivasi.

Kalau begitu, yang menjadi pertanyaan adalah, ketika guru lebih terfokus pada pendidikan di Lembata, mengapa pendidikannya malah merosot dan tertinggal? Angka kelulusan yang rendah, meningkatnya jumlah anak putus sekolah, sering diangkat sebagai tanda-tandanya. Kita bisa saja menuding berbagai faktor lagi, seperti fasilitas yang tidak cukup, atau kesejahteraan guru yang tidak memadai, dan sebagainya, sebagai biang ikutan masalahnya. Tetapi harus disadari bahwa semua faktor luar itu tidak akan secara otomatis mengubah apa pun, kalau tidak ada gerakan bebas dari dalam hati nurani para guru yang merdeka untuk bertindak. Mobil akan berjalan kalau sopir menginjak gas, dan berhenti ketika sopir menginjak rem. Tetapi gas seberdaya apa pun, atau rem sepaten apa pun, tidak akan berfungsi kalau sang sopir enggan menginjaknya. Maka yang perlu dibuat adalah supaya para sopir ini tidak enggan memfungsikan kakinya. Para guru adalah sopir bagi pendidikan di Lembata. Semua pihak yang berkepentingan lainnya dapat berbuat banyak untuk meringankan kaki para guru ini supaya beraktivitas, tetapi, tentu saja, yang memutuskan untuk mengangkat dan memfungsikan kakinya adalah para guru itu sendiri, bukan orang lain.

Dengan kata lain, peningkatan mutu guru demi peningkatan mutu pendidikan di Lembata, tidak bisa lepas dari kehendak bebas guru itu sendiri. Maka pendampingan guru tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuannya menguasai materi melainkan membangun moralitas, etika, dan semangat untuk secara kreatif menjalani profesinya. Sebagai penutup wacana ini, ajakan Eric Jensen dalam bukunya Super Teaching, kiranya cukup relevan untuk dikutip di sini: “It’s time to stand back, take a deep breath, and rethink what it means to be a teacher.” (Sekarang tiba saatnya untuk menengok kembali, menarik napas dalam, dan memikirkan ulang apa artinya menjadi seorang guru.) Masalahnya bukan pada kurangnya kemampuan untuk menjadi guru, melainkan pada kurangnya kemampuan untuk melihat apa artinya menjadi guru.

Benyamin Molan Amuntoda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s