PELAJARAN DARI ANGKOT

“Di mobil juga ada masalah. Dia kira saya takut. Sampai di Ujung Menteng saya pecahin kepalanya.” Ini adalah kata-kata ancaman yang mampir ke kuping saya dari pembicaraan seorang anak remaja laki-laki, dengan teman ceweknya melalui telepon. Sayup-sayup memang terdengar suara cewek yang berbicara dengannya di telepon. Walaupun tidak mengenakan seragam sekolah, remaja itu mestinya seorang pelajar. Menurut perkiraan saya, kalau bukan kelas 3 SMP, dia mestinya kelas 1 SLA.

Sore itu saya dan sejumlah penumpang lain sedang bersama si remaja itu dalam sebuah angkot. Itu berlangsung ketika saya sedang keluar sebentar mengunjungi seorang teman di sebuah perumahan tidak jauh dari tempat saya tinggal. Berita ancaman di atas yang disampaikan dalam percakapan per telepon dengan teman putrinya itu, saya duga, ditujukan kepada seorang bapak berusia sekitar 60 tahun-an di samping kanan saya, yang duduk berdampingan dengan si remaja itu.

Ketika menaiki angkot, bapak itu saya beri tempat di antara saya dan si remaja tadi, sementara si remaja duduk di pojok kiri paling belakang. Saya sengaja menjauhi si remaja, karena dia merokok dalam angkot yang sudah mulai penuh.  Si remaja itu juga rupanya sedang bermasalah dengan temannya, dan mencurhatkan masalah tersebut pada ceweknya di telepon. Memang sebelumnya juga sudah terdengar kata-kata ancaman yang mungkin ditujukan pada lawannya, yang sedang jadi obyek pembicaraan mereka. Terdengar dia bilang “dia kira saya takut, mau ke polisi pun saya tidak takut”.

Sementara itu rokoknya yang sedang berasap kecil, tetap terjepit di jarinya. Begitu si remaja ingusan itu menyedot rokoknya dan menghembuskan lagi asap berikutnya, ruang sempit di angkot pun dipenuhi asap. Si bapak di samping saya pun angkat bicara, “Dek, matikan saja rokoknya; kalau mau terus merokok, pindah saja ke dekat pintu.” Si preman kecil itu terlihat kesal, acuh, dan tidak serta merta mematikan rokokya. Dia terus menelepon, dan baru akhirnya mematikan rokoknya ketika ibu-ibu di depannya mulai mengibaskan tangan mengusir asap rokoknya.

Pembicaraan per telepon berjalan terus, dan mulai terdengar ucapan-ucapan bernada ancaman seperti di awal artikel, yang kali ini sepertinya diarahkan kepada bapak di sampingnya, yang tadi menegur dia. Saya khawatir, bahwa si bapak itu akan menggamparnya. Ternyata tidak. Dia tenang-tenang saja. Ketika angkot mendekati wilayah perumahan saya permisi turun, dan ternyata bapak itu pun ikut turun. Saya penasaran, dan bertanya pada si bapak:

“Maaf pak, apakah bapak tadi tidak mendengar ancaman anak muda tadi?” Dan tanggapan si bapak menjadi pelajaran berharga buat saya.

“Ngapain ditanggapin ancaman anak ingusan itu. Dia bilang tidak takut; padahal kalau memang tidak takut, mestinya dia sudah pecahin kepala saya di mobil. Biasa, dia kan lagi telepon sama ceweknya; dia harus tunjukkan bahwa dia jantan dan pemberani di depan ceweknya. Dan yang penting, tujuan saya kan agar dia mematikan rokoknya. Kalau sudah mati rokoknya, tercapailah tujuan saya. Dia mau marah keq, mau ngedumel keq, itu urusan dia.” Saya terkesima. Kata-katanya tetap saya ingat, “tujuan saya adalah agar dia mematikan rokoknya, yang lain-lain itu urusan dia.”

Dalam banyak hal di kehidupan kita, tujuan justru tidak kita perhatikan. Boro-boro  setia pada tujuan, menetapkan tujuan saja sering tidak dilakukan. Mestinya orang yang berkarakter adalah orang yang berani menetapkan tujuan dan setia pada tujuan itu. Mungkin banyak masalah akan muncul dalam usaha mengejar tujuan, tetapi masalah-masalah itu tidak boleh menghela dan menyeret kita ke luar dari koridor tujuan. Banyak orang lupa pada tujuannya ketika timbul berbagai hal yang merintangi tujuan mereka. Mereka lalu sibuk, tenggelam, asyik, dan hanyut dalam mengurusi rintangan itu, dan selanjutnya melupakan sama sekali tujuan aslinya.

Banyak guru mengajar tanpa mengingat lagi tujuan. Tujuan seorang guru adalah mencerdaskan anak murid. Tetapi ketika gaji, gedung, fasilitas, menjadi masalah misalnya, maka segala konsentrasi tercurahkan pada masalah-masalahnya dan tujuan pun bergeser pada penyelesaian masalah dan tujuannya sendiri dilupakan. Anggaran pendidikan dinaikkan supaya para guru tidak lagi sibuk ngojek, ngobyek, ngeles, melakukan pungutan, agar bisa lebih berkonsentrasi pada profesionalismenya sebagai guru. Tetapi nyatanya, anggaran naik, kegiatan-kegiatan ngobyek yang sudah telanjur jalan, sayang untuk dihentikan.

Tujuan pemerintah adalah mensejahterakan rakyatnya. Tetapi ketika banyak masalah mendera, tujuan bisa bergeser menjadi mengamankan citra, dan bukan lagi mensejahterakan rakyat; padahal tujuan pokok —mensejahterakan bangsa—itu sering bisa tercapai justru kalau sang pemimpin berani mengorbankan citra, dan berani bertindak tidak populer.

Ekonomi punya tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama, tetapi ketika ekonomi menjadi ajang perlombaan untuk mensejahterakan diri dan ajang pengembangan modal tanpa-batas, maka ekonomi seperti lepas dari tujuan awalnya. Pantas Karl Polanyi bilang, ekonomi sudah tercerabut dari akarnya. Artinya ekonomi sekarang adalah ekonomi mekanik, ekonomi virtual, ekonomi tanpa rasa dan urat nadi, maka bisa berkembang menjadi monster yang tidak bisa dibayangkan seperti apa besarnya karena tak ada batasnya. Dalam ekonomi ini modal hanya soal digit yang tak ada batasnya. Ekonomi bukan balon seperti yang dibayangkan Marx, dan akan meledak sampai batas tertentu. Digit itu bukan balon, tidak ada batasnya, tidak ada ujungnya.

Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, tetapi ketika kita sibuk membangun sekolah dan menyelenggarakan ujian yang diperlukan untuk pendidikan, maka tujuan pendidikan pun bisa bergeser menjadi membangun sekolah dan menyelenggarakan proyek-proyek ujian. Proyek-proyek pendikan lebih menarik daripada kecerdasan anak bangsa. Sekolah didirikan bukan untuk mendidik melainkan untuk bisnis. Maka yang ada cuma sekolah-sekolahan. Pantas kalau anak didiknya lebih merupakan gerombolan pengacau di jalanan dan doyan tawuran, serta merasa hebat kalu bisa membuat gemetar ibu-ibu penumpang bis kota.

Rumah sakit didirikan untuk menyehatkan masyarakat, tetapi ketika rumah sakit bisa dijadikan bisnis, maka tujuannya pun bergeser, berikut semua perangkat yang ada di dalamnya. Dan kalau ada yang mau mengingatkan dan meluruskan akan dianggap merugikan bisnis dan bisa dituntut oleh hukum yang lebih memihak kepada yang punya bisnis daripada orang kere yang, alih-alih punya bisnis, membayar dokter untuk meletakkan stetoskop di dadanya saja tidak mampu.

Agama yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan di hati dan membawa keselamatan pun, mulai melenceng ketika ternyata bisa juga dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan politik. Karena yang dilihat pada agama itu, bukan keselamatannya melainkan jumlah suaranya. Maka yang penting dalam agama itu bukan praktik hidupnya melainkan atributnya, formalitasnya, tampilannya, karena itulah aspek yang bisa dimanipulasi, bukan kesejatian batiniahnya.

Militer dan polisi yang bertujuan untuk menciptakan keamanan bagi masyarakat dan negara malah dilembagakan menjadi keamanan itu sendiri. Akibatnya, keamanan hanya nyangkut di pengaman tetapi tidak sampai pada yang diamankan. Aturan-aturan hanya berfungsi untuk meningkatkan kesempatan penilangan dan bukannya untuk mencapai keamanan berlalu lintas.

Jadi teringat kita pada Ivan Illich yang melancarkan kritik tajam tentang pelembagaan nilai. Mengapa membangun pendidikan menjadi sama dengan membangun sekolah? Mengapa membangun keselamatan menjadi sama dengan membangun agama? Mengapa membangun keamanan menjadi sama dengan membangun militer? Mengapa membangun kesehatan menjadi sama dengan membangun rumah sakit?

Itulah yang terjadi kalau kita menjadikan tujuan intrumental menjadi tujuan terminal.  Sekolah, kuliah, doktor, insinyur, mendapatkan pekerjan, punya rumah, punya isteri, punya anak, punya mobil, menjadi kaya  itu bukan tujuan terminal melainkan instrumental, yang mudah-mudahan pada gilirannya bisa menghantar ke tujuan terminal. Tetapi perlu dicatat bahwa tujuan instrumental itu tidak serta merta bermuara pada tujuan terminal.

Tujuan terminal adalah nilai. Apa gunanya punya karir yang bagus kalau tidak pernah mengalami ketenangan hidup. Apa gunanya punya isteri yang cantik, kalau keluarga malah berantakan dan tak pernah tenteram. Apa gunanya punya kekayaan segunung, kalau tidak pernah mendatangkan ketenangan.  Apa guna punya negara yang kaya kalau tak pernah mensejahterakan rakyatnya. Apa gunanya membangun partai yang besar kalau hanya mampu mengumpulkan uang tetapi tidak bisa menghasilkan pemimpin yang bermartabat dan mampu mensejahterakan rakyat.

Terima kasih preman kecil; terima kasih bapak penumpang angkot yang telah memberikan pencerahan ini. Saya telah mendapatkan pelajaran berharga. Tetapi pelajaran pun tentu bukan tujuan. Tujuan pelajaran adalah kecerdasan yang kalau ditelusuri terus harus berujung pada kebahagiaan. Ah jadi teringat juga pada Sokrates yang bilang tujuan hidup manusia adalah eudaimonia. Hanya orang bodoh yang tidak mengejar kebahagiaan. Semua yang tidak membawa kebahagiaan adalah kebodohan. Bodoh bukan lawannya pintar, melainkan tidak bahagia. Maka orang pintar yang tidak bahagia adalah orang bodoh juga. Orang yang pintar, kaya, punya isteri cantik tetapi tidak bahagia adalah orang bodoh. Orang pintar, kaya, tetapi tidak damai hatinya adalah orang bodoh. Orang beragama, saleh, pandai dan mulutnya penuh dengan ayat-ayat kitab suci, tetapi sarat dengan dendam kesumat dan rasa permusuhan mestinya adalah orang bodoh. Hanya orang bodoh yang tidak mau bahagia. Berbahagialah orang yang menetapkan kebahagiaan sebagai tujuan dan terus mengejarnya dan hidup di dalamnya. Selamat berbahagia, kini, di sini, dan selamanya.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s