PILKADA LEMBATA: PERTARUNGAN DUA TITAN

Seperti sudah banyak diduga, keputusan MK akhirnya membuka jalan bagi berlanjutnya pemilu kada di Lembata. Tanggal 19 Juli 2011, pemilu kada putaran kedua akan berlanjut di Lembata. Dua paket akan bertarung lagi, yakni paket Lembata Baru (Eliazer Y. Sunur & Viktor Mado Watun) dan Paket Titen (Herman Wutun & Viktus Murin). Kalau orang Lembata bertanya pada orakel, “siapa yang akan menang,” maka orakel akan menjawab: Bupati Lembata Baru Titen.  Artinya apa? Kalau Titen menang, orakel akan mengatakan: betul kan? Karena dii sini, Titen dirujuk sebagai nama paket. Tetapi kalau Lembata Baru yang menang maka orakel juga akan mengatakan: betul kan apa kata saya? Karena di sini, titen dirujuk sesuai artinya dalam bahasa Lamaholot artinya punya kita (ours).  Dengan kata lain, kalau paket Lembata baru yang menang, maka dia akan jadi bupati titen (kita). Atau sebaliknya kalau paket Titen yang menang, berarti bupati Lembata yang baru adalah dari paket Titen.

Pertarungan dua titan

Tampak bahwa orakel bingung untuk meramal hasil pemilukada lanjutan ini.  Mengapa? Karena pertarungan kali ini adalah pertarungan dua titan. Mengapa titan? Pertama, karena keduanya adalah paket besar yang sudah mengumpulkan suara terbanyak pada pemilu kada Lembata putaran pertama.  Paket Titen yang mengantongi suara terbanyak sebesar 15.101 (26,4 persen), dan paket Lembata Baru yang mengumpulkan 13.083 suara (22,9 persen), telah menyingkirkan keempat paket lainnya.

Kedua, karena keduanya berasal dari partai besar, Golkar dan PDI Perjuangan.  Saat ini kedua partai nasionalis besar ini sedang berbenah dan mengatur langkah mempersiapkan diri untuk menghadapi perhelatan besar 2014 dan 2015. Bupati Lembata pasti merupakan posisi yang diincar demi melapangkan perjalanan menuju perhelatan akbar itu nantinya. Kursi bupati Flores Timur sudah dikantongi PDI Perjuangan. Bagaimana dengan kursi bupati Lembata? Apakah akan diamankan Golkar lagi, atau bakal beralih ke PDI Perjuangan?

Ketiga, perlu diingat bahwa PDI Perjuangan adalah partainya gubernur, dan Golkar adalah partainya ketua DPRD Lembata. Pasti masing-masing pihak sesuai posisi dan pengaruhnya sendiri terhadap rakyat, akan dengan gigih mengunjuk gigi untuk memperebutkan posisi penting ini.

Keempat, kedua paket sama-sama punya dukungan logisitik yang memadai. Dukungan ini akan membuat masing-masing mereka lebih leluasa berkreasi merebut simpati dan mendulang suara. Tetapi mudah-mudahan keduanya tidak bersaing, lagi-lagi hanya dengan mengandalkan taktik klasik murahan serangan fajar yang semakin memupuk bertumbuh-kembangnya mental anti-demokrasi di Lembata.

Pelanduk

Pertarungan para titan pasti akan membuat suasana bisa panas. Apa lagi jumlahnya juga cuma dua pasangan. Artinya para pendukung akan mudah menggumpal menjadi dua kubu yang bisa berhadapan secara frontal. Mudah-mudahan tidak sampai ada pelanduk yang harus kejepit di tengah pertarungan para titan.  Pelanduk itu tidak harus dalam bentuk individu, melainkan justru dalam bentuk kepentingan rakyat. Artinya sasaran memenangkan pertarungan bisa menjadi jauh lebih utama ketimbang kepentingan rakyat di belakangnya. Jangan sampai pemilukada justru menjadi arena pertarungan habis-habisan sehingga kedua peserta terkuras dan kehabisan tenaga dengan akibat bahwa yang kalah akan terhempas dan tidak lagi peduli dengan Lembata dan yang menang hanya akan ngos-ngosan dan menghabiskan waktunya untuk memulihkan tenaga dan menyembuhkan  “luka-luka” yang timbul akibat pertarungan akbar itu.

Apa lagi isu-isu etnis, agama, kehidupan pribadi,  sentimen wilayah, suku, sudah mulai ikut digulirkan untuk saling menjatuhkan. Isu-isu tersebut biasanya akan dilemparkan sesuai kebutuhan. Kalau isu agama lebih berpengaruh, maka isu itulah yang akan ditiupkan. Kalau isu etnis yang lebih efektif, maka isu itulah yang akan dihembuskan. Dalam kasus Lembata, kedua cabub punya agama sama. Maka peluang isu yang bisa dihembuskan adalah siapa yang lebih saleh. Sayangnya, yang lebih saleh selalu diukur dengan menuding pihak lawan sebagai yang lebih berdosa.  Keduanya sama-sama punya isteri tunggal. Maka isu yang dicari-cari adalah siapa yang punya isteri ganda atau barangkali punya simpanan. Keduanya sama-sama orang Lembata, maka mulai dipersoalkan siapa yang kurang kadar ke-Lembataannya, entah diukur dari aspek mana. Mengapa isu terakhir ini begitu kencang ditiupkan? Entahlah. Pada hal yang penting adalah bahwa sang bupatinya itu mampu mensejahterakan rakyat Lembata. Isu terakhir ini bahkan bisa menjadi basi ketika ide tentang naturalisasi kepala daerah sudah mulai dipertimbangkan. Kalau perlu kita “naturalisasikan” saja Wali Kota Solo, pak Jokowi, untuk menjadi bupati Lembata. Yang penting bahwa bupati itu bisa menata Lembata menjadi sejahtera. Jika tidak, rakyat akan menyingkirkannya. Dan jika tidak juga, maka waktu yang akan menyingkirkannya. Bukankah masa jabatannya cuma lima tahun?

Perlu diperhatikan juga adalah bahwa isu-isu yang ditimbulkan saat pemilu kada bisa menjadi isu yang akan tergores tinta hitam dan bertahan terus setelah berlalunya pemilu kada. Jangan sampai isu-isu pemecah-belah yang sudah lama terkubur dibangkitkan lagi. Bahkan demi kepentingan sesaat, isu-isu pemecah belah yang sebenarnya lebih merupakan isu masyarakat di luar Lembata, bisa saja digotong masuk ke Lembata dan menetap di sini. Dengan kata lain jangan sampai pemilu kada hanya menjadi momen untuk memproduksi berbagai isu, entah membangkitkan isu bekas atau menciptakan isu baru, atau mengimpor isu dari luar, dan terus mendarah daging menjadi isu orang Lembata.

Percaya Diri

Maka cara yang paling etis, gentle, sehat, dan tanpa efek samping, dalam mendulang suara adalah, bukan dengan menjelekkan pihak lain, melainkan dengan memaparkan kemampuan sendiri. Cara ini tidak akan menciptakan perpecahan berkelanjutan pada pihak para pendukung. Dengan cara ini, pendukung tidak akan kecewa, karena yang mereka inginkan adalah bupati yang mampu mensejahterakan rakyat Lembata. Dengan demikian pendukung paket yang kalah tidak akan kecewa kalau ternyata yang terpilih adalah bupati yang mampu mensejahterakan rakyat. Jika paket lawan yang menang dan ternyata paket itu bisa mensejahterakan Lembata, maka kubu kedua pendukung pasti senang. Jika tidak, maka akan timbul kekecewaan berlipat ganda. Mengapa? Karena, seandainya yang menang adalah bupati yang tidak mampu mensejahterakan rakyat, maka pendukungnya pun akan kecewa karena tidak sesuai dengan harapan mereka. Sementara non-pendukung akan mengalami kekecewaan ganda. Pertama, mereka akan kecewa karena paket dukungan mereka tidak sukses, dan kedua, karena paket yang terpilih ternyata tidak mampu mensejahterakan rakyat. Atau bisa juga terjadi bahwa pendukung pihak yang kalah akan mempersalahkan pendukung pihak yang menang. Apa lagi kalau proses pemilihannya telah memproduksi friksi-friksi yang sifatnya lebih ad personam (pribadi) dan bukannya ad rem (kemampuan mensejahterakan).

Lembata membutuhkan pemimpin yang percaya diri dan mengandalkan kemampuannya, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan kekurangan-kekurangan dari pesaingnya. Tanggal 19 Juli 2011, rakyat Lembata akan menentukan pilihannya. Kedua calon akan diuji, dan akan terlihat siapakah yang bakal mendapatkan mandat dari rakyat Lembata. Kedua calon sebenarnya sama-sama baik (nice), tetapi yang dibutuhkan tentunya adalah calon yang tepat (right). Semoga Lembata menemukannya.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s