PILKADA LEMBATA: MAHALNYA “INSTRUMEN”

Pilkada Lembata yang tadinya diinginkan berjalan lancar, bahkan hanya satu putaran, sekarang menjadi tersendat menuju dua putaran. Dana yang tadinya mau dihemat, sekarang harus dikeluarkan untuk putaran kedua. Tetapi putaran kedua pun rupanya tidak semulus yang diharapkan. Bupati menolak mencairkan dananya, karena gugatan tiga paket yang disingkirkan KPUD dari perhelatan pemilu kada, sudah mulai disidangkan di MK. Nah kalau gugatan mereka diterima MK maka, kemungkinan pilkada yang lebih mahal bisa terjadi, karena pemilu kada diulang sama sekali. Wah, mahal jadinya bupati Lembata periode berikut ini.

Instrumen

Dalam pemilu kada kita baru memilih bupati, yang nota bene adalah “instrumen” atau istilah yang lebih bermartabat “adminstrator” untuk mengusahakan kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan rakyatnya sendiri. Artinya, instrumen itu sendiri pun belum pasti mensejahterakan rakyat. Rakyat seperti diajak berjudi (gambling) dengan harapan bahwa mudah-mudahan bupati yang dipilih itu nantinya bisa mensejahterakan rakyat. Jika ternyata “instrumen” itu tidak berfungsi sesuai dengan harapan, maka kita telah sia-sia mengeluarkan biaya yang besar. Pantas kalau orang bisa saja nyeletuk, bahwa seandainya biaya besar itu tidak dihabiskan untuk menciptakan instrumen yang nantinya berikhtiar untuk mensejahterakan rakyat, melainkan dipakai langsung pada sasaran untuk mensejahterakan rakyat sendiri, barangkali akan lebih berarti.

Pendapat terakhir ini memang benar. Tetapi juga harus disadari bahwa bagaimana pun juga dana-dana itu harus ada pengelolanya. Kalau dana-dana itu jatuh ke tangan pengelola yang tidak dapat dipercaya, maka dana-dana tersebut juga menjadi sia-sia dan hanya menguntungkan pengelolanya. Karena itu, menentukan siapa pengelolanya juga penting. Tetapi yang tetap harus menjadi pertanyaan adalah apakah memang harus semahal itu?

Karena itu mahalnya pilkada harus membuat kita berpikir terbalik. Bukannya karena pilkada mahal pada hal kita hanya pilih instrumen, melainkan bahwa pemilihan instrumen itu mahal, maka kita seharusnya lebih cerdas dalam memilih instrumen. Dengan demikian instrumen itu bisa berfungsi optimal dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada modal yang sudah diinvestasikan untuk pemilihan. Jika tidak, kita akan mengalami kerugian, karena istrumen biaya tinggi itu ternyata tidak mampu menghasilkan produk yang menutup biaya tinggi tersebut; sekurang-kurangnya, bisa balik modal. Tentu saja balik modal di sini menyangkut investasi rakyat, bukannya balik modal untuk investasi pribadi calon bupati. Balik modal untuk investasi kedua pasti akan sangat mungkin diupayakan; tetapi yang pertama? Wallahualam.

Tentu sekali kenyataan ini membuat kita harus berpikir, apakah pengadaan instrumen harus dilakukan dengan biaya yang begitu tinggi? Apakah biaya instrumen yang tinggi itu realistis untuk bisa ditutupi setelah instrumen itu difungsikan, selama 5 tahun? Jika tidak maka perlu dicari satu sistem yang lebih realistis berupa penyederhanaan sistem pemilihan, biar biaya pengadaan instrumen tidak lebih besar dari hasil yang akan dicapai oleh instrumen tersebut. Tetapi hitung-hitungan ini bukan hanya merupakan urusan orang Lembata saja, melainkan urusan nasional.

Yang mungkin lebih menjadi faktual urusan orang Lembata adalah kenyataan bahwa pilkada itu mahal. Maka harus dilakukan secara serius dan matang agar membawa hasil yang optimal untuk kepentingan kesejahteraan rakyat Lembata.

Golput

Ada kesan bahwa pemilukada Lembata mulai kehilangan daya tariknya setelah putaran pertama. Banyak pemilih yang mungkin kecewa karena calon mereka gugur dalam pemilu kada pertama. Sebenarnya ini sudah terjadi pada pilkada pertama. Buktinya pilkada pertama pun menunjukkan angka golput yang  cukup tinggi. Golput ini sering dianalisis dengan tolok ukur yang sok ilmiah, bahwa rakyat sudah kritis karena hasil pendidikan politik. Kiranya kurang realistik. Pendapat yang kiranya lebih realistik adalah bahwa  golput itu disebabkan karena paket dukungan para golput tersebut sudah tercoret KPU dari perhelatan pemilu kada Lembata periode pertama. Pantas saja kalau ada kekhawatiran, bahwa angka golput akan meningkat pada putaran kedua, seiring bertambahnya paket yang yang turun dari gelanggang pilkada. Kalau sebelumnya hanya tiga paket yang gugur hasil seleksi KPU, sekarang ditambah lagi empat paket yang kalah dalam pemilu kada pertama.

Karena itu mahalnya instrumen tidak menjadi pemikiran orang Lembata. Yang besar pengaruhnya adalah fanatisme primordialistik. Pemilih di Lembata itu mirip suporter sepak bola. “Klub dari kampung saya tidak main lagi maka saya juga malas untuk menonton.” Karena itu pilkada kedua yang mahal ini hanya akan diikuti oleh suporter pendukung kedua klub yang masuk final. Dengan demikian mahalnya instrumen menjadi setali tiga uang dengan mahalnya turnamen. Yang untung adalah klub yang menang karena mendapatkan piala yang mahal dan bergengsi itu. Lain kali kami akan berjuang supaya klub kami yang akan menang.

Menantang bupati terpilih

Kalau ini yang terjadi, maka sampai kapan pun pilkada yang mahal ini tidak pernah akan memadani kualitasnya. Biasanya dikatakan bahwa barang yang mahal itu mestinya sesuai dengan kualitasnya. Makin mahal harganya, mestinya semakin tinggi kualitasnya. Apakah pemilukada Lembata yang mahal itu akan menghasilkan produk yang berkualitas pula?

Pertanyaan ini tidak bisa lagi dijawab oleh rakyat dalam kondisi seperti ini. Yang harus menjawabnya adalah calon yang memenangkan pilkada. Kita tantang dia untuk menyadari bahwa dirinya adalah instrumen alias administrator yang mahal, dan menuntut dia untuk menunjukkan kualitas kinerjanya yang memadai. Jika tidak dia harus mundur, atau akan dicatat dan dikenang dalam sejarah Lembata sebagai bupati yang mahal tetapi tidak bermutu.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s