PANTEKOSTA: SELEBRASI KEBERAGAMAN

Kalau Natal adalah narasi solidaritas Tuhan terhadap manusia, ketika Sabda Tuhan tidak lagi disampaikan secara verbal nir-wujud, melainkan turun ke dunia dalam wujud manusia, Paskah adalah promulgasi bangkitnya martabat manusia. Dan kalau Kenaikan adalah naiknya citra manusia kembali kepada citra sejatinya, maka Pantekosta adalah selebrasi terwujudnya manusia original: manusia dalam kesatuan dengan Roh Tuhan sendiri, Roh Kudus. Dalam kesatuan itulah seharusnya manusia hidup, bukan dalam keterasingan tanpa roh Tuhan yang membuat hidup manusia menjadi pincang dan tanpa arah.

Dalam peristiwa Pantekosta, manusia disejatikan kembali dengan Rohnya yakni Roh Tuhan sendiri, untuk hidup dalam persekutuan dengan sesamanya. Roh itu telah membuat para rasul mampu menyatukan umat pertama bukan dalam bahasa yang sama melainkan dalam Roh yang sama. Roh yang sama itu bisa menyekutukan berbagai bahasa dan suku yang berbeda. Orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Pontus, Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan lain-lain, memahami apa yang dikatakan para rasul bukan dalam bahasa Galilea melainkan dalam bahasa mereka masing-masing. Artinya suku, identitas budaya, dan bahasa itu bersekutu dengan tetap mempertahankan identitasnya masing-masing. Identitas budaya mereka tidak dileburkan oleh Roh Kudus. Malah Roh Kudus telah menciptakan persekutuan tanpa menciptakan keseragaman. Dengan kata lain Roh yang diutus Yesus kepada para rasulNya itu bukan roh yang hanya mampu menciptakan kesatuan melalui penyeragaman, melainkan Roh yang mampu membangun persekutuan tanpa melalui penyeragaman.

Menciptakan kesatuan melalui penyeragaman sebenarnya adalah penggembosan. Karena itu penyeragaman hanya bisa terwujud dengan pengosongan dari roh. Artinya kesatuan atau persekutuan dengan penyeragaman adalah persekutuan tanpa roh, dingin, kaku, tanpa kehidupan, tanpa dinamika. Kesatuan macam ini hanya menghasilkan kumpulan massa tanpa identitas, bukan persekutuan. Karena itu di mana ada Roh di situ mesti ada keanekaragaman. Di dalam keanekaragaman orang bisa mendapatkan kebebasan dan keleluasaan mengembangkan karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus, yang justru penting untuk membangun kehidupan bersama. Dalam jiwa yang gembos tanpa roh, tidak ada semangat, tidak ada energi untuk membangun kebersamaan selain menyisahkan kebersamaan yang terwujud karena orang tidak beraktivitas lagi.

Hal ini juga dikatakan Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus. Karena itu ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan tetapi hanya ada satu Tuhan. Dan ada berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu. Manusia dilengkapi dengan berbagai karunia Roh Kudus, yang berbeda-beda untuk mewujudkan persekutuan yang hidup dan dinamis. Berbagai karunia yang berbeda itu dimaksudkan untuk membangun persekutuan, dan bukan untuk merusak. Ini harus menjadi identitas bagi Roh yang datang dari Tuhan. Roh yang datang dari Tuhan, Roh Kudus, itu adalah Roh yang mempersatukan, bukan roh yang memecah belah.

Karunia suku, bahasa, budaya, agama, tidak dimaksudkan untuk memecah belah melainkan memberi ruang bebas bagi ekspresi jiwa, dan pengembangan diri menjadi lebih baik, di mana orang bisa membangun hidup yang berkualitas, yang tumbuh dari dalam diri sendiri, dan bukannya menjadi sempit dan kejepit karena hanya meniru dan menjiplak model kehidupan orang lain. Berarti hidup berkualitas hanya bisa dibangun dalam keanekaragaman. Dan tidak ada Roh tanpa keanekaragaman. Karena dalam keanekaragaman itulah orang mengekspresikan kebebasannya untuk menjalankan berbagai macam karunia untuk kepentingan bersama.

Karena itu Pentakosta adalah selebrasi keanekaragaman. Keanekaragaman yang kita alami sebagai manusia patut kita rayakan karena pada saat yang sama kita juga merayakan persekutuan. Semoga perayaan Pentakosta menyadarkan kita akan pentingnya keberagaman bagi meningkatnya kualitas kehidupan bersama kita sebagai manusia. Selamat Hari Raya Pantekosta.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s