KENAIKAN YESUS KE SURGA: PERJUMPAAN CITRA TUHAN DAN CITRA MANUSIA

Mengapa peristiwa kebangkitan tidak disatukan saja dengan peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga? Artinya mengapa Yesus tidak langsung naik ke surga setelah kebangkitan? Mengapa Yesus masih tinggal dulu di dunia setelah kebangkitanNya? Bukankah karya peneyelamatanNya telah berakhir? Tidak. Karya penyelamatan Yesus adalah bukan karya untuk mempertontonkan kehebatanNya, atau untuk meledek dan menertawakan mereka yang telah menyalibkanNya; juga bukan untuk menunjukkan kuasaNya bahwa Dia bisa mengalahkan kematian. Itulah sebabnya Yesus tidak mau menunjukkan kuasaNya untuk mengubah batu menjadi roti ketika diminta oleh setan (Luk 4: 3). Seluruh peristiwa Yesus tetap berfokus pada karya penyelamatan. Sementara karya penyelamatanNya tetap berfokus pada manusia. Dan karya penyelamatan itu adalah memulihkan martabat manusia.

KenaikanNya setelah kembangkitan adalah peristiwa iman yang menunjukkan bahwa Yesus yang sudah bangkit sebagai manusia, dan hidup di dunia setelah kebangkitan sebagai manusia, Dia itulah yang diangkat ke ranah Tuhan. Artinya bukan Yesus sebagai Tuhan yang diangkat ke surga melainkan Yesus sebagai manusia. Maka peristiwa ini adalah peristiwa pemulihan citra dan martabat manusia. Manusia itu diciptakan serupa dengan Tuhan, citra Tuhan sendiri. Citra dan martabat manusia itu begitu tingginya di hadapan Tuhan, sehingga Tuhan berani mewujudkan diri sebagai manusia untuk memulihkan kembali martabat manusia. Tuhan tidak segan-segan merendahkan dan menghinakan diriNya dan tampil dalam rupa manusia agar manusia bisa diselamatkan; agar manusia sadar bahwa citranya itu adalah citra Tuhan sendiri, dan bahwa penghinaan terhadap manusia adalah penghinaan terhadap citra Tuhan sendiri. Pantas kalau kini rupa manusia itulah yang kembali kepada Tuhan, karena memang manusia adalah citra dan gambaran Tuhan sendiri.

Karenanya peristiwa kenaikan adalah bukan sekadar kenaikan Yesus saja, melainkan justru kenaikan citra manusia kembali ke posisi originalnya. Citra yang pernah terpuruk oleh manusia sendiri itu mau diangkat kembali oleh Tuhan dan ditempatkan pada posisinya yang sesungguhnya. Peristiwa kenaikan adalah peristiwa perjumpaan dan pemulihan kembali citra Tuhan dan citra manusia.

Dengan demikian peristiwa kenaikan Yesus ke surga sebenarnya merupakan peristiwa gemerencingnya canang peringatan agar manusia kembali menyadari betapa luhurnya martabatnya itu. Karenanya tak sepantasnya bahwa manusia saling merendahkan, saling menindas, saling memanipulasi, bahkan saling meniadakan, bahkan dengan mengatas-namakan kepentingan Tuhan. Peristiwa kenaikan mempertanyakan secara kritis mengapa kita begitu lancang untuk saling menyingkirkan karena mau membela kepentingan Tuhan. Peristiwa ini menyindir kita yang sering berbohong dan tidak segan-segan mengangkat sumpah atas nama Tuhan demi menyembunyikan perilaku kita yang tidak menunjukkan martabat kita sebagai manusia. Peristiwa kenaikan menyoal mengapa kita sering hanya mau menyelamatkan wajah kita dengan mencederai martabat kita sendiri dalam kebohongan-kebohongan publik. Peristiwa kenaikan berbisik d ikuping kita, mengapa kita mau mengejar kedudukan dan kekuasan dengan segala macam cara, bahkan dengan tidak malu-malu mengorbankan martabat kita sendiri dan martabat orang lain sebagai manusia?

Di hari Kenaikan Yesus ke Surga kita perlu bersyukur bahwa kita punya Tuhan yang peduli kepada martabat dan citra kita yang begitu tinggi di saat kita sudah tidak mempedulikannya lagi, ketika citra kekuasaan, citra kekayaan, citra pencitraan, telah menguburkan martabat manusia secara memalukan. Yang tidak kalah pentingnya juga kita patut bersyukur bahwa kita masih punya segelintir orang yang masih tetap terinspirasi untuk tetap berjuang dengan bebas dan jujur untuk meluhurkan citra dan martabat manusia dalam karya-karya yang membebaskan. Dan jangan lupa pada kesempatan ini juga kita mendoakan mereka yang sudah mengorbankan nyawanya dalam perjuangannya untuk menegakkan citra dan martabat manusia. Mereka telah menyatukan karyanya bersama Tuhan untuk mengembalikan citra dan keluhuran martabat kita sebagai manausia. Kiranya mereka juga boleh naik ke surga, dengan membawa keluhuran citra manusia untuk berjumpa dan menyatu kembali dengan citra Tuhan.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s