RESENSI BUKU: PEREMPUAN ITU BERMATA SAGA

Judul Buku: PEREMPUAN ITU BERMATA SAGA

Penulis: Agust Dapa Loka

Penerbit: Elex Media Komputindo, tahun 2011;

Ukuran buku: 14 x 20 cm;

Jumlah halaman: x + 199.

ISBN 978-979-27-9752-7

Di tengah minimnya hasil karya sastrawan NTT, munculnya novel “Perempuan Bermata Saga” karya Agust Dapa Loka ini, telah menjadi setetes embun yang menyejukkan. Sayangnya, kesejukan itu harus lahir dari satu pengalaman getir, sangat getir, yang harus dilalui penulisnya.

Novel ini membuat saya teringat akan apa yang ditulis Eric Jensen dalam bukunya Super Teaching: There may be gifts in every so-called disability (ada banyak anugerah yang bisa didapatkan dari setiap apa yang kita sebut cacat); juga kata-kata bijak Richard Bach“ You are never given a problem without a gift for you in its hands” (Anda tidak pernah diberikan masalah tanpa anugerah bagi Anda di tangannya); atau pun yang lebih menantang dari Nietzsche, “That which does not kill me, makes me stronger.” (Apa pun yang tidak berhasil membunuh saya, membuat saya menjadi lebih kuat).

Ada tiga hal yang membuat novel ini menarik. Hal pertama menyangkut latar belakangnya. Novel ini termasuk buah karya yang ditulis, setelah si penulisnya mengalami musibah. Tanda survive dan semangat hidup yang tak pernah surut dalam diri sang penulis, terpapar secara transparan dalam novel ini. Penulis telah berhasil mengubah kelemahannya menjadi kekuatan, musibah menjadi berkat, dan menemukan pintu lebih lebar lainnya yang dibukakan Tuhan baginya, setelah satu pintunya ditutup. Pengalaman ini memuat inspirasi tersendiri bagi mereka yang menggeluti pengalaman serupa.

Kedua: Cerita dalam novel ini bukan semata-mata fiktif, melainkan dikemas dari kisah nyata pengalaman hidup penulis sendiri. Penderitaan fisik, mental, spiritual, morale, dan psikologis, telah dirasakannya secara utuh dalam peristiwa naas yang harus diterima sebagai bagian hidupnya. Dia menyaksikan sendiri gelombang badai yang menerpa biduk keluarganya. Dan pada akhirnya dia tiba pada titik pencerahan bahwa bukan lautan yang tenang, melainkan gelombang dan badailah yang telah melahirkan pelaut-pelaut tangguh bermata saga.

Ketiga: Novel ini telah dikemas secara sederhana, dengan jalan cerita yang lancar, menarik, inspiratif, dan dinamis. Kekuatan cinta yang tak pernah bisa teramputasi, mencuat dalam novel ini. Cinta tampil ibarat ular berkepala tujuh yang dihadapi Herkules dalam mitologi Yunani. Dari satu kepala yang berhasil dipotong Hercules, justru bertumbuh lagi tujuh kepala baru. Dan anehnya kekuatan cinta itu justru ditemukannya pada diri orang yang selama ini dia anggap makhluk lemah: perempuan (isterinya, anak-anaknya (semuanya perempuan), dan juga ibunya).

Di saat tak berdaya, tokoh dalam novel ini berkesempatan untuk kembali menyaksikan betapa cinta yang telah dia semaikan selama ini, telah melahirkan beribu-ribu cinta; cinta dari si mata saga, cinta dari anak-anaknya, cinta dari keluarga besar, rekan guru, para siswa, para alumni, para sahabatnya, orang-orang yang disapanya, dan tentu sekali cinta dari Tuhannya.

Terungkap juga dalam novel ini bahwa hanya cinta itulah yang bisa dibawa berliku melewati kelok-kelok perubahan, bahkan perubahan yang paling dahsyat sekali pun. Tanpa cinta maka hanya ada jalan pintas. Dan tanpa cinta, jalan pintas itu bisa berefek domino.  Amputasi faktual malah, bisa saja melahirkan amputasi-amputasi semu baru, yang justru bisa melahirkan masalah-masalah aktual baru yang paada gilirannya membuat si penderita menjadi semakin terhempas tak berdaya.

Dalam novel ini pun terpampang cinta yang juga selalu dinamis, tidak selalu berwajah lembut, melankolis, dan bermata sendu; cinta juga tampil dalam wajah-wajah tegar, menantang, dan  bermata saga. Maka jangan melihat cinta dari kemasannya, tetapi dari isinya. Cinta itu seperti emas, di letakkan di mana pun emas tetap emas.

Ketika membaca novel karya pak guru dari Sumba, NTT,  ini, sebenarnya tersirat juga harapan di benak saya untuk menemukan nuansa-nuansa khas Sumba yang akan sedikit banyak memberi warna pada novel ini.  Namun mungkin karena sasarannya adalah pembaca nasional, maka kekhasan-kekhasan itu sepertinya sedikit terpangkas pisau editor.  Bahkan tempat-tempat yang dilalui dalam perjalanan dari Sumba Timur ke Sumba Barat pun tidak banyak disebut, kecuali Waingapu yang memang merupakan ibu kota Kabupaten Sumba Timur.

Memang, masih saja ada satu dua kalimat tertinggal yang tetap tak bisa menyembunyikan kekhasan yang dimaksudkan di atas. Salah satu contohnya terpampang dalam dialog dengan perawat pada halaman 48:

“Sakit ya, Pak?” tanya perawat. “Ya pastilah, masa gatal.” Kataku. “Hahaha…!” Perawat itu tertawa. “Pak ini lucu” “Habis ibu tanya-tanya lagi na. Kalau luka disentuh pasti sakit kan?”. Kalimat  Habis ibu tanya lagi na, adalah dialeg khas Waingapu.

Tetapi hal hal kecil ini —termasuk juga beberapa salah ketik dan salah eja yang lolos dari pengamatan pembaca akhir— tidak mengurangi kehebatan novel ini dalam menyampaikan pesan utamanya. Novel ini patut dibaca oleh siapa pun yang ingin membaca kehidupan; dan bahwa kehidupan itu setali tiga uang dengan cinta, karena kehidupan itu pun berasal dari cinta. Proficiat bagi Agust Dapa Loka yang telah sukses menulis novel istimewa ini. Kami menanti karya-karya berikutnya.

Benyamin Molan

4 thoughts on “RESENSI BUKU: PEREMPUAN ITU BERMATA SAGA

  1. Pak Benya, terima kasih atas resensi Bapak. Soal harapan akan muncul karya-karya berikut, Pak Agust sedang menggarap sequel kedua novel tersebut. Bahkan dia juga punya antologi puisi yang sedang saya baca ulang.
    Semoga terbit dalam waktu dekat.

    Salam hangat,

    Eman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s