LEMBATA: KUALITAS PILKADA DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN

Beberapa waktu lalu,  saya berkesempatan jalan-jalan, dan menemukan diri saya nongkrong di sebuah tenda di pinggir jalan, daerah Tebet Timur, menunggu hidangan mie ayam. Karena lama menunggu pesanan mie ayam yang tidak kunjung nongol,  seorang ibu di samping saya pun mengeluh, “lama ya..” kata sang ibu. “Ya, lama bu,  itu artinya mie pesanan kita pasti tambah enak, karena waktu persiapannya lebih panjang”,  canda saya. Ibu itu tersenyum, dan mudah-mudahan senyum itu bisa sedikit mengurangi kekesalannya. Itu adalah sekeping rasionalisasi yang bisa menjadi hidangan aperatif untuk menenangkan perut yang sudah mulai keroncong atau menghilangkan kebosanan menunggu.

Tambah satu putaran

Pilkada Lembata juga berlangsung lama. Setelah kelelahan mengikuti seluruh proses pemilu kada mulai dari persiapan hingga pemungutan suara 19 Mei 2011 lalu, ternyata rakyat Lembata belum boleh beristirahat. Proses yang panjang dan melelahkan itu belum cukup untuk menghasilkan pemimpin yang kerkualitas bagi kabupaten pulau ini. Pilkada Lembata akhirnya harus menempuh lagi putaran kedua, yang akan diikuti oleh dua paket pengumpul suara terbanyak, yakni paket Titen dan Lembata Baru.

Tambahan satu putaran ini akan berarti menambah lama proses, dan menambah biaya tentunya. Tetapi apakah lamanya proses ini, dengan konsekuensi tambahan biaya, energi, dan konsentrasi, nantinya akan menjamin kualitas  pemimpin yang terpilih nantinya?  Sepertinya tidak;  karena yang akan didapatkan di sini sebenarnya hanyalah kualitas dukungan yang diukur dengan kuantitas jumlah suara, untuk menunjang kualitas legitimasi. Sayangnya, yang  biasa dikejar dalam pemilu kada adalah kuantitas suara dan kuantitas dukungan untuk mendapatkan legitimasi.  Kualitas dukungan terkesan bukan yang utama, karenanya dianak-tirikan, dan bahkan pantas untuk diabaikan. Dengan demikian, segala upaya bisa dilancarkan untuk mendapatkan kuantitas dukungan tanpa terlalu peduli pada soal kualitasnya. Pada hal kuantitas dukungan hanya bermanfaat untuk mendapatkan legitimasi kepemimpinan, sementara kualitas dukungan justru penting untuk kesuksesan dalam mewujudkan legitimasi itu.

Dukungan yang berkualitas harus benar-benar datang dari nurani yang bebas, tidak tertekan atau tertindas oleh ketakutan, dan terdorong iming-iming. Karenanya dukungan macam ini bisa diharapkan akan tetap konsisten dan bertahan. Dukungan berkualitas inilah yang sebenarnya juga diharapkan bagi pemimpin, untuk menambah bobot kualitas kepemimpinan yang diraih melalui pemilu kada.

Kualitas dukungan

Maka kalau ingin menilai apakah pilkada Lembata ini berkualitas dan apakah didukung oleh suara-suara berkualitas, kita harus bertanya kepada paket-paket peserta pemilu kada. Misalnya, apakah mereka menggunakan uang atau tidak; atau menurut istilah Lembata, apakah para pemilih dibom atau tidak? Atau kita juga bisa bertanya kepada rakyat pemunya suara, apakah mereka dibom pada saat terakhir masa tenang sebelum menuju ke bilik TPS?

Jawaban atas pertanyaan ini akan memperlihatkan apakah suara-suara pemilih Lembata memang berkualitas. Dengan menggunakan akal sehat, kita sebenarnya bisa juga sampai pada kesimpulan bahwa suara-suara yang didapatkan oleh paket-paket yang cekak dananya sangat mungkin adalah suara-suara Lembata bebas bom yang militan, setia, kritis dan patut diacungi jempol.  Dan kalau betul bahwa paket-paket yang tersingkirkan itu adalah paket-paket dengan dana yang cekak, maka sangat mungkin bahwa suara-suara pendukung mereka adalah suara-suara merdeka dari Lembata, ditambah lagi dengan suara-suara pendukung paket pemenang yang mungkin juga memberikan dukungan atas dasar keyakinan dan pertimbangan merdeka.  Dan harus dicatat bahwa pendukung paket yang tersingkir itu jumlahnya tidak sedikit.

Mengukur kualitas pendukung itu penting, karena pendukung yang tidak berkualitas cenderung tidak akan perduli lagi dengan akibat pilihannya. Dukungan mereka hanya sementara, sesaat, dan bersifat transaktif.  Begitu deal tercapai, transaksinya pun selesai.

Dan kalau pemenang pemilu kada nantinya adalah pemimpin yang hanya mendapatkan kuantitas dukungan tanpa kualitas, maka kita bisa membayangkan kualitas kepemimpinan macam apa yang didapatkan sang pemimpin.  Terlebih lagi kalau golput makin meningkat. Mereka akan tampil menjadi suara-suara kritis yang tak hentinya merongrong.

Lagi pula, walaupun pemimpinnya berkualitas, tetapi nyatanya tidak didukung oleh suara-suara yang berkualitas, maka kepemimpinannya cenderung kehilangan mutu dan wibawa.  Dan kepemimpinan yang tidak berkualitas akan diremehkan terutama oleh pemilih-pemilih berkualitas.  Maka pemimpin macam ini akan kehilangan wibawa, dan bisa bertindak laku macam-macam untuk menegakkan kuasa dan wibawanya.

Atas kenyataan ini bisa di siimpulkan bahwa pemilukada putaran pertama adalah pemilukada yang cukup bermutu. Sementara pemilukada putaran kedua berpotensi menjadi kurang bermutu, karena suara-suara bermutu itu harus digiring ke pilihan-pilihan kedua yang cenderung tidak diminati. Maka banyak pemilih akan menjadi apatis, dan tidak heran kalau angka golput  pun bisa saja meningkat.

Dengan demikian terlihat bahwa kualitas pilkada berkaitan erat dengan kualitas kepemimpinan. Kepemimpinan yang berkualitas hanya muncul dari pilkada yang etis dan berkualitas.  Pilkada Lembata putaran kedua hanya akan bermutu kalau diselenggarakan secara etis dan konstitutif.  Jika tidak, pilkada hanya akan menghasilkan pemimpin yang curang, yang pada gilirannya akan menciptakan kecurangan berefek domino berikutnya, guna menutupi rangkaian mata rantai kecurangan yang  tak berujung. Semoga perangkat pilkada Lembata dan semua pihak yang bertanggung jawab, mampu menjaga kualitas pilkada Lembata putaran kedua,  agar tidak tercemar oleh kiat-kiat dan strategi yang tak elok. Maka kita pun boleh berharap bahwa dari pilkada yang bermutu akan lahir pemimpin dan kepemimpinan yang bermutu untuk membangun manusia-manusia Lembata yang berkualitas.

Benyamin Molan Amuntoda

2 thoughts on “LEMBATA: KUALITAS PILKADA DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN

  1. Halo Om Yamin Apa kabar ? ei numpang tutuq ko hara e ?

    Realita pilkada yang selama ini sudah berlangsung di bumi Lembata menunjukkan harapan hampa seperti yang om ungkapkan diatas . Pemilih tidak menggunakan rasionalitas dalam memilih, tetapi cenderung pragmatis dengan janji-janji yang bersifat materi para calon. Fenomena itu kemudian diperparah oleh kandidat yang juga lebih pragmatis ketika berusaha memperoleh kemenangan. Mereka tidak memiliki visi dan misi yang jelas, belum mengetahui persoalan yang dominan di bumi Lembata,karena ada kandidat yang baru pulang kampung dan sebagian lagi yang di cap perusak kampung selama ini.

    Kandidat Calon Kepala Daerah secara faktual adalah bagian penting dari proses pelaksanaan pilkada. Seperti digambarkan om Yamin di atas, kualitas, kapasitas, integritas dan akuntabilitas kandidat yang tampil dalam pilkada akan sangat menentukan kualitas pilkada. Sebagai bentuk evaluasi pilkada selama ini, maka pada momentum Pilkada putaran kedua kali ini perlu upaya yang kongkrit untuk berpartisipasi melahirkan kandidat yang mampu mewarnai peningkatan kualitas Lembata kedepan. Peningkatan kualitas kandidat akan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepercayaan publik (rakyat) terhadap penyelenggaraan pilkada.

    so,kita tunggu bukti nya,bukan janji……………

    • Silahkan saja. Menulis itu penting. Sesuai moto saya: docendo disco,scribendo cogito (Dengan mengajar saya belajar, dengan menulis saya berpikir). Memang kualitas kandidat bisa ikut menentukan kualitas pilkada, tetapi sebaliknya juga kualitas pilkada ikut menentukan kualitas pemimpin dan kepemiminan. Pilkada yang curang dan tidak dipercaya akan menghasilkan kepemimpinan yang juga tidak bisa dipercaya. Lulus ujian karena hasil nyontek itu tidak membanggakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s