PILKADA LEMBATA: KRITIS MENILAI JANJI MANIS

Pemilu kada Lembata sudah memasuki tahap yang sedikit memanas, yakni tahap kampanye. Dan tidak lama lagi, yakni tanggal 19 Mei 2011,  pemungutan suara pun akan segera terselenggara. Melihat janji-janji manis saat kampanye, rasanya Lembata akan segera maju. Semuanya indah. Tetapi apakah realitas nantinya juga akan seindah tuturan dalam kampanye? Wallahualam.

Pacaran, kodok ngorek, sampai sinterklas

Macam-macam analogi sering digunakan orang untuk menggambarkan situasi indah saat kampanye ini. Ada yang menganalogikannya dengan masa pacaran. Pada masa itu dunia terlihat indah, kemilau, dan berbunga-bunga, karena sarat dengan janji-janji, sehingga gombal (kain lap yang kotor) pun bisa terlihat indah. Pikiran sudah terasuk dan terpukau oleh janji-janji manis sehingga malah kehilangan sikap kritisnya dalam melihat kenyataan. Yang ada cuma mimpi.

Ada pula yang menganalogikannya dengan suara kodok di musim hujan. Saat ada banyak genangan air, kodok biasanya ramai bernyanyi; dan kalau musim hujan lewat, dan tak ada genangan air lagi, maka suara kodok pun menghilang dan tidak ngorek lagi. Maka di saat musim hujan, biarkan kodok bernyanyi pada waktunya, dan akan berhenti pada waktunya pula. Begitu juga dengan kampanye. Biarkan janji-janji kampanye berlalu seiring dengan waktunya untuk itu. Semuanya akan lewat.

Yang lebih hebat lagi, janji-janji muluk kampanye itu bisa membuat si calon bupati terlihat seperti sinterklas. Apa yang diinginkan rakyat semuanya seolah-olah bisa terpenuhi oleh si calon. Mau air minum? Ada. Mau jalan raya? kenapa tidak. Mau sekolah gratis? Okey deh. Mau jalan-jalan? Tentu saja. Mau studi banding? Asyik. Mau pengobatan gratis, iyalah, masa’ iya dong. Semuanya seolah memberi kesan betapa dungunya pemerintahan yang lalu itu, sehingga tidak bisa memenuhi berbagai keinginan rakyat itu. Selain berpenampilan sinterklas yang siap membagi-bagi hadiah, calon bupati semacam ini juga bersikap seperti kasir yang siap membayar apa pun yang menjadi kebutuhan rakyat.

Pertanyaannya adalah dari mana dana yang bisa dikeruk untuk memenuhi semua janji manis itu? Seolah-olah tugas pemerintah hanya memenuhi kebutuhan rakyat tanpa memberi penjelasan yang cukup masuk akal mengenai darimana pemasukannya? Jangan-jangan Lembata diam-diam sudah digadai tanpa disadari rakyat, untuk memenuhi seabrek kebutuhan rakyat juga. Yang penting bagi rakyat sebenarnya bukan pemerintah memenuhi kebutuhan mereka melainkan pemerintah bisa membuat rakyatnya menjadi mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Mungkin saja bahwa bupati yang bersedia jadi kasir atau sinterklas itu punya banyak uang pribadi, yang bisa digunakan untuk rakyat. Tetapi bagaimana kalau bupati yang murah hati ini nanti tidak menjabat lagi, apakah ada sinterklas atau kasir baru yang mampu meneruskan karya model dan tipe ini?

Kritis dan realistis

Karena itu rakyat Lembata perlu lebih kritis dan realistis dalam mengamati janji-janji kampanye. Janji-janji yang begitu gampang diumbar harus benar-benar dilihat secara realistis, karena masa kampanye adalah masa di mana para calon tidak mampu menolak tuntutan atau permintaan pemilih. Menolak keinginan pemilik suara, sama artinya dengan ditolak rakyat, alias tidak dipilih.

Maka calon yang serius dan pantas dipilih tidak diukur dari seberap muluknya janjinya. Dia seharusnya bisa teridentifikasi dan terendus dari janji-janji yang diumbarnya. Janji-janji yang diumbar tanpa pola adalah janji-janji keblinger; janji-janji kodok ngorek yang hanya nyaring waktu musim hujan, tetapi akan langsung meredup dan menghilang suaranya seiring dengan datangnya musim kemarau.

Karena itu yang penting dalam kampanye bukan mencatat janji-janji muluknya untuk ditagih, melainkan untuk menilai secara kritis janji-janji itu. Apakah janji-janjinya itu cukup realistis dan bisa terpenuhi, atau cuma sekadar pemanis bibir supaya bisa meraih simpati dan meraup dukungan suara.

Perlu disadari juga bahwa bupati tidak hanya bekerja untuk kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh rakyat Lembata. Janji-janji yang disampaikan kepada kelompok tertentu sebenarnya juga bisa nantinya berujung pada pengguntingan jatah dari kelompok lain. Maka di masa kampanye, sekali lagi jangan kita hanya mencatat janji-janji para calon dengan harapan untuk nanti ditagih kalau sudah menjabat; janji-janji itu sebaiknya dimanfaatkan sekarang sebelum si calon itu menjabat, sebagai sarana untuk menilai kualitas calonnya. Dari janji-janji kampanyenya bisa terbaca apakah calonnya memang berkualitas, menguasai persoalan dan mampu menata-kelola programnya dengan rencana-rencana yang matang, atau sekadar mengumbar janji untuk mendulang suara. Atas dasar itulah pemilih nantinya menjatuhkan pilihannya.

Dengan kata lain, perhatikanlah janji-janji dari si calon. Dari janji-janjinya itu bisa terlihat, seperti apa sebenarnya si calon. Jangan berdasarkan kemulukan janji, seorang calon dipilih, lalu pada gilirannya nanti janji akan ditagih. Percuma. Yang tidak percuma adalah perhatikan janjinya, nilailah janjinya, dan tentukan pilihanmu berdasarkan penilaianmu terhadap janji-janji itu. Kembali ke analogi orang pacaran tadi, jangan hanyut dengan janji-janji gombal pacar Anda melainkan amatilah baik-baik janji-janjinya, dan berdasarkan janji-janji itu Anda akan mampu menilai siapa sesungguhnya pacar Anda itu. Lalu, tentukan pilihan Anda.

Calon yang terlalu gampang mengobral janji, sebenanrya patut dicermati secara kritis. Di sinilah fungsinya janji-janji kampanye, yakni untuk membantu kita mendapatkan gambaran seperti apa sebenarnya si calon, dan apa maunya. Itu saja. Selamat menilai janji manis para calon dan selamat menjatuhkan pilihanmu. Yang mengobral janji tanpa pola pasti adalah calon keblinger; dan tentu saja . . . .  tak pantas untuk dipilih.

Benyamin Molan Amuntoda

2 thoughts on “PILKADA LEMBATA: KRITIS MENILAI JANJI MANIS

  1. Selamat pagi amo Molan,numpang comen e ?

    Gagal berencana sama dengan berencana untuk gagal. Agaknya hal ini juga yang dapat kita lihat dari pasangan calon bupati dan calon wakil Bupati Lembata sekarang.

    Dimasa kampanye seperti ini,para kandidat pastinya mengobral segudang janjinya kepada publik.Disini perlu di perhatikan penggunaan Bahasa yang baik dan kepiawaian orator untuk mempromosikan diri serta seabrek program kerjanya. Gagal berbahasa sama artinya membahasakan kegagalan.

    Lepas dari materinya, yang menurut saya sebagai orang awam dalam berpolitik,saya dapat menilai sepintas bahwa para kandidat sekarang ini sebenarnya banyak yang tidak dapat mengkomunikasikan dengan baik apa yang menjadi inti kampanye.

    Jadi, kalau kemudian kita berpendapat bahwa para (calon) pejabat itu hanya ingin mendapatkan penghasilan yang besar dari jabatannya, atau hanya ingin mencari simpati dari rakyat, pendapat ini bisa saja mendekati kebenaran,namun lagi-lagi itulah politik,ibarat menjual barang bekas,lebih besar teriakan penjual dari kwalitas barang yang hendak di jualnya.so,rakyat Lembata sedang menanti bukti bukan janji untuk mengatasi realitas hampa dari janji kampanye tempo dulu.

    • Tepat sekali no Athanasius. (1) Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Lihat saja, visi misinya asal jadi. (2) Barang yang tak berkualitas biasanya harus didorong dengan berbacgai trik dan akal bulus, didongkrak janji-janji palsu, dan ironisnya lagi, pembelinya malah disogok supaya datang membeli. Pemimpin macam ini mestinya tau dan malu bahwa bukan dia yang sesungguhnya dicintai rakyatnya, melainkan janji-janji-palsu dan uangnya. Semoga Lembata dijauhkan dari pemimpin-pemimpin palsu yang hanya mau sukses menjadi bupati, dan bukannya sukses membangun Lembata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s