UANG MASIH MENDOMINASI PEMILU KADA LEMBATA?

Hari ini, 2 Mei 2011, kampanye pemilu kada sudah mulai bergema di Lembata. Apa yang kira-kira akan didengungkan oleh para calon dalam kegiatan kampanye di Lembata untuk menarik simpati dan mendapatkan suara?

Nampaknya yang tidak bakal banyak diumbar adalah visi, misi dan program. Mengapa? Karena kebanyakan pemilih Lembata adalah pemilih emosional dan hanya sedikit pemilih rasional. Visi misi hanya akan dikumandangkan saat pembukaan kampanye (dan debat?) di depan anggota DPRD untuk kemudian dimasukkan kembali dalam kantong masing-masing. Yang akan banyak dimainkan dalam pasar kampanye adalah uang, walaupun yang akan ikut dijadikan isu juga adalah relasi, ketokohan, dan karakter.

Relasi, Ketokohan, dan Karakter

Mengamati para calon yang ada, tampak bahwa masing-masing mereka punya sesuatu yang patut dipromosikan dalam kampanye pemilukada. Membangun relasi melalui pengenalan, keakraban, familiaritas, untuk mendapatkan simpati, pasti merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam kampanye. Tetapi apakah ini cukup untuk menggerakkan rakyat memilih?

Ketokohan juga adalah hal yang dikagumi orang Lembata. Tetapi para tokoh itu pun biasanya hanya sebatas dikagumi. Rakyat tidak ingin tinggal bersama dengan sang tokoh; rasanya merepotkan. Mereka lebih suka menjaga jarak dengan sang tokoh. Karena tokoh adalah bentukan dari dalam dan bukan dibentuk dari luar, maka bagi mereka, ketokohan tidak perlu dipilih, dan akan muncul dengan sendirinya. Dengan demikian, perlu dipertanyakan juga apakah ketokohan itu bisa dikumandangkan sebagai nilai yang bisa menarik suara para pemilih?

Karakter juga sebenarnya sesuatu yang mampu menarik masyarakat pemilih yang demokratis. Tetapi pemimpin berkarakter tidak otomatis diterima. Orang yang ceplas ceplos berbicara jujur dan seadanya (bahkan terkesan seenaknya), terutama menyangkut adat kebiasaan dan tradisi yang dianggap ketinggalan, cenderung tidak disukai dan dianggap sombong atau suka menghina. Pemimpin macam ini tidak akan mereka pilih, tetapi kalau diberikan ya mereka terima. Maka karakter juga patut dipertanyakan untuk dijadikan modal pendulang suara pemilih dalam kampanye.

Memberi kasih dan terima kasih

Masyarakat Lembata adalah masyarakat yang seimbang dan harmonis. Bagi mereka memberi kasih dan terima kasih itu merupakan tanda keharmonisan paling konkrit dalam hidup. Kalau orang datang berkunjung membawa sesuatu untuk tuan rumah, misalnya, maka tuan rumah akan berusaha untuk memberikan sesuatu sebagai balasan. Tuan rumah, misalnya,  akan mengatakan “aduh kamu sudah membawa pisang untuk saya, saya tidak punya apa-apa, cuma ada dua ekor ikan ini saja yang bisa kamu bawa pulang”. Pemberian orang harus dibalas atau diimbangi, supaya dia tidak punya beban, lalu merasa seimbang dan harmonis.

Pencontrengan adalah tanda terima kasih. Orang yang datang membawa sesuatu saat serangan fajar, akan mengganggu hati nurani pihak yang menerima, dan si penerima akan terus memikirkan cara untuk membalasnya. Apa yang mesti diberikan sebagai balasannya, supaya terasa seimbang dan harmonis? Pantas kalau pencontrengan bisa menjadi tanda terima kasih itu. Itulah sebabnya mengapa serangan fajar sangat efektif di Lembata. Relasi, perhatian, senyum, salam, semuanya bisa langsung dibalas dengan perhatian, tegur dan sapa, lalu langsung menjadi harmonis dan seimbang tanpa perlu dibawa sampai ke bilik TPS.

Berdasarkan itu saya memprediksi bahwa politik uang masih tetap punya peranan dalam pemilu kada Lembata kali ini. Politik bagi-bagi uang untuk mendapatkan suara, kasarnya membeli suara, masih cukup efektif di Lembata. Walaupun cukup kencang isu yang beredar bahwa rakyat Lembata sudah cerdas dan politik uang tidak akan memengaruhi pilkada Lembata, isu tersebut hanya berkembang di lingkup pemilih demokratis modern tetapi tidak pada pemilih tradisional. Sementara jumlah pemilih tradisional  jauh lebih besar ketimbang pemilih rasional. Dan uang untuk masyarakat tradisional di Lembata cukup terlihat sebagai tanda perhatian yang perlu dibalas. Apa yang terjadi pada pemilihan legislatif 2009 yang lalu masih cukup mengukuhkan kesan itu. Relasi-relasi yang sudah lama dibangun malah bisa digemboskan oleh serangan fajar.

Sementara itu jangka waktu 2 tahun pasti bukan waktu yang cukup untuk bisa melakukan pendidikan politik yang memadai dan menghasilkan kesadaran politik yang berarti pada rakyat Lembata. Walaupun sudah mulai meningkat, toh kesadaran itu tetap belum signifikan. Pengaruh uang masih sangat besar. Berarti kalau tidak ada kontrol yang cukup ketat soal politik uang (money politics), maka yang menang pada pemilukada di Lembata nantinya adalah uang. Jika serangan fajar tidak dicegah secara ketat, maka pememang pemilukada Lembata adalah uang.

Sebenarnya politik bagi-bagi uang ini bukan tindakan yang bisa dibenarkan secara etis, tetapi nyatanya tetap saja marak di setiap pemilu entah pemilu kada atau pemiliu legislatif, dan terkesan ada pembiaran. Pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin tindakan ini diangggap sudah menjadi tindakan publik dan karena itu sudah tidak asing lagi, alias wajar. Bahasa kontradiktifnya, politik bagi-bagi uang itu sudah dianggap membudaya, seperti halnya saudara sepupunya  korupsi.

Tambang

Sejalan dengan masih menguatnya politik uang dalam pemilu kada Lembata, tentu saja orang-orang yang punya uang akan cenderung memanfaatkan momentum ini dengan baik. Itu berarti bahwa penghambur-hamburan uang dalam pemilu kada harus ditanggapi secara kritis, jangan-jangan itu merupakan tanda-tanda intervensi tambang yang masih terus mengintai. Dengan mengamati daftar kekayaan para calon yang ada, kita juga bisa membangun sikap kritis. Apakah masuk akal bahwa dengan kekayaan terukur, calon bisa menembus perjalanan panjang menuju pemilu kada yang bergelimang uang, bahkan terkesan ada penghamburan. Jangan-jangan dana-dana yang dikucurkan kepada sang calon adalah dana-dana ijonisasi yang didapatkan dengan sistem penggadaian.

Maka para pemilik suara di Lembata perlu berhitung lebih cermat; seruan teliti sebelum memilih harus terus dikumandangan supaya jangan terjadi salah pilih. Jangan hanya demi 30 keping peraknya Yudas, kita tega menggadai Lembata. Kalau Lembata sudah dibayat menjadi lembah tambang, maka pada gilirannya tanah Lembata akan menjadi lembah tangisan, dan pada akhirnya menjadi lembah tanpa asa bagi orang Lembata.

Perhatikan sungguh-sungguh, adakah para calon yang tegas-tegas menolak tambang? Kalau memang ada yang menyatakan menolak, perhatikan baik-baik, apakah penolakan itu berciri etis atau politis? Penolakan secara etis artinya penolakan yang dilakukan dalam kesungguhan, secara jujur dan integral, berdasarkan hati nurani. Penolakan secara politis artinya, semuanya tergantung pada situasi. Sekarang dia mungkin berteriak menolak, tetapi nantinya berbalik mendukung. Ingat, tidak ada teman abadi dalam politik, yang abadi cumalah kepentingan.

Jika Lembata ingin memilih pemimpin yang etis dan tidak hanya politis, maka satu-satunya jalan adalah cegalah politik uang dan serangan fajar. Biarkan orang Lembata memilih dengan bebas, lepas, tanpa terpedaya oleh segala bentuk tekanan. Selamat memasuki masa kampanye hai orang-orang merdeka, dan tentukan secara cerdas siapa pemimpin pilihanmu.

Benyamin Molan Amuntoda

2 thoughts on “UANG MASIH MENDOMINASI PEMILU KADA LEMBATA?

  1. Mat pagi om Molan…

    Salah satu tantangan demokrasi adalah bagaimana kita minimalisir dan menghapus politik uang. Ini adalah suatu masalah,

    Seperti yang kita ketahui, uang selalu ada di ranah politik dalam berbagai cara.Disini kita dapat menyadarkan masyarakat kita bahwa sesungguhnya politik uang itu dapat merusak dan menurunkan kualitas demokrasi karena menyebabkan pemimpin atau politisi yang terpilih harus `melayani` pihak yang memberi uang dengan mengorbankan kepentingan publik,”

    Lihat potret Pilkada Lembata edisi lalu yang penuh dengan nuansa money politic yang akhirnya melahirkan kebijakan pemerintah Lembata yang pro dengan Pengusaha tambang dan mengorbankan hati nurani rakyat dengan isu tambang tersebut.

    Bila itu terjadi lagi ,maka akan timbul demokrasi yang palsu dan
    mengkhianati kepercayaan publik serta merusak proses demokrasi di bumi Lembata.

    “Saya yakin bila politik uang timbul maka aspirasi masyarakat Lembata akan semakin sedikit didengar yang pada gilirannya akan menyebabkan penderitaan bagi rakyat Lembata dan demokrasi itu sendiri.

    Juga apabila analisis Bapak Molan ini menjadi realita maka rakyat Lembata harus siap untuk menerima konsekwensi akan hasil pemilihan nanti,siap dalam hal merelakan bumi Lembata di koyak-koyak demi kebutuhan pengusaha tambang yang di bonceng oleh para kandidat kali ini.

    Kita berharap banyak kepada KPU dan Panwaslu agar pelaksanaan Pemilu nanti berjalan lancar; aman, tertib, damai, jujur dan adil. Sehingga pelbagai persoalan sekitar pelaksanaan Pemilu seperti; politik uang, manipulasi suara, serta sejumlah bentuk pelanggaran lainnya dapat diantisipasi.
    Partisipasi Aktif Masyarakat
    Sebagai upaya check and balances dalam pelaksanaan Pemilu nanti, disamping berharap totalitas serta kualitas kinerja KPU, Panwaslu serta elemen-elemen terkait, partisipasi aktif masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar.
    Dalam hal ini masyarakat Lembata HARUS menjalankan peran sebagai pengawas, pengontrol, sekaligus melakukan pressure (menekan) terhadap partai politik kontestan pemilu yang kerap melakukan sejumlah pelanggaran. Di sini, masyarakat dapat melakukan pressure melalui dua arah, internal dan eksternal.
    Pressure internal dapat diwujudkan melalui partisipasi langsung masyarakat sebagai panitia pengawas pemilu (panwaslu). Melalui lembaga ini, masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap pesta demokrasi nanti secara langsung. Belajar dari pengalaman pemilu kali lalu, di mana sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan beragam nama menjadi pengawas pemilu, belum menunjukkan hasil maksimal, maka sekaranglah saatnya masyarakat mencari alternatif serta format baru untuk menjalankan fungsi kepengawasan yang lebih efektif.
    Di sisi lain, pressure eksternal dapat dijalankan dengan menyatukan gerak dan langkah, menyamakan visi dan misi, membentuk common platform dengan maksud dan tujuan mengkritisi segala kebijakan dan peraturan berkaitan dengan Pemilu kali ini yang dianggap menguntungkan pihak-pihak tertentu dan merugikan rakyat banyak.
    Bukti konkrit dari langkah ini adalah dengan menyosialisasikan pembelajaran kesadaran berpolitik bagi masyarakat melalui sejumlah media; cetak dan elektronik. Langkah lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan aksi turun ke jalan menentang kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan kepentingan masyarakat secara luas.
    Dua langkah antisipatif ini, pressure internal dan eksternal, jika dilaksanakan secara maksimal, disertai dukungan penuh segenap elemen masyarakat, akan membawa angin perubahan yang signifikan dalam pelaksanaan Pemilu nanti. Imbas dari semua ini adalah lahirnya kehidupan berpolitik, berbangsa dan bernegara pascapemilu yang lebih menjanjikan dan menguntungkan semua pihak,serta menjaga keutuhan tanah Lembata yang kita cintai.
    Salam,

    ATANASIUS de ANLLY
    BATAM

    • Terima kasih Athanasius. Komentar Anda telah melengkapi artikel ini. Itulah harapan kita, semoga pengawasan bisa berjalan dengan baik untuk mencegah maraknya politik uang, dan semoga rakyat semakin cerdas agar politik uang bisa dimandulkan, demi keselamatan Lembata. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s