HARAPAN DAN DARATAN

Salib sudah menjadi icon untuk perayaan Jumat Agung. Salib ditafsirkan sebagai penderitaan dan perjuangan menuju kebangkitan. Maka salib itu bukan tujuan melainkan proses. Bagi Yesus salib adalah konsekuensi dari satu perjuangan. Yang menjadi tujuan adalah kesuksesan pada perjuangan itu sendiri. Berarti dia tidak menghendaki menderita dan memikul salib. Kita harus bangkit. Yang perlu kita selebrasikan dalam hidup kita adalah kebangkitan, bukan salib. Artinya kita tak perlu putus asa dalam penderitaan. Penderitaan adalah proses, yang pasti akan lewat. Tujuan final kita adalah kebangkitan.

Ps Indri Gautama dalam khotbah-khotbahnya senang membandingkan Yesus dengan Yusuf. Yusuf harus menderita dalam lubang sumur, dijual dan dikhianati oleh saudara-saudaranya, dan kemudian dipenjara karena ulah Putifar. Tetapi Tuhan membimbing Yusuf melalui proses itu dan akhirnya mencapai istana Firaun. Melalui lubang sumur (pit) akhirnya Yusuf mencapai istana (palace). Ketika Yusuf mencapai istana, dia juga tidak lupa daratan. Dia tetap ingat akan saudara-saudaranya dan orang tuanya.

Hal serupa terjadi pada Yesus. Yesus pun dikhianati oleh muridnya, dan harus melewati kesengsaraan dan penderitaan di salib, masuk lubang kubur, dan melalui proses itu Dia sampai pada Kebangkitan. Melalui lubang kubur Yesus sampai pada kebangkitan. Salib dan kebangkitan, merupakan dua sisi mata uang yang hanya bisa dibedakan tetapi tak bisa dipisahkan.

Jumat Agung menghantarkan kita kepada salib, tetapi bukan salib sebagai tujuan, melainkan salib sebagai proses. Salib tidak akan menghancurkan kita, kalau kita melihatnya sebagai exercise. Salib justru akan membuat kita tegar. Dan apabila kita sanggup melewati salib itu, kita akan mencapai kebangkitan.

Karena itu bagi mereka yang sedang menderita dan berjuang memikul salib, kebangkitan harus menjadi  titik harapannya. Sementara bagi mereka yang sedang dalam euforia kebangkitan, jangan serta merta lupa pada salib. Tidak ada kebangkitan tanpa salib. Maka dalam kebangkitan kita memandang salib untuk menyatakan syukur kita.

Maka dalam penderitaan hendaknya kita tetap semangat melalui jalan salib kita untuk mencapai kebangkitan. Dan dalam kebangkitan, hendaknya kita tak hentinya menatap salib untuk menyatakan syukur kita. Artinya dalam salib, dalam kegagalan, dan dalam penderitaan, kita tetap menatap Paskah dan kebangkitan,  biar tak sampai kehilangan harapan; dan dalam kebesaran hati, serta kesuksesan hidup, kita tetap menatap salib untuk tetap merasa bersyukur, agar kita tak sampai lupa daratan. Melalui salib kita mampu menatap kebangkitan untuk mengukir harapan. Dalam euforia kebangkitan pun kita tak lupa menatap salib agar tak kehilangan daratan. Dalam salib ada harapan akan kebangkitan, dalam kebangkitan ada salib untuk mengingatkan daratan. Salib adalah landas pacu kita untuk tinggal landas, tetapi juga sekaligus menjadi landas bandar kita untuk tak lupa mendarat. Jadilah orang yang senantiasa gigih berjuang, tanpa putua asa dengan tetap menatap salib. Jadilah juga orang yang menikmati anugerah-anugerah Tuhan, dengan tetap menatap salib agar tak pernah berhenti mensyukuri anugerah-anugerah dan kebaikan Tuhan itu.

Benyamin Molan Amuntoda

Jumat Agung 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s