CINTA DAN PENGKHIANATAN

Perayaan Kamis Putih adalah perayaan yang sarat dengan pesan cinta. Pada saat-saat akhir hidupnya, Yesus tidak memberikan banyak pesan verbal yang teoritis, melainkan mempratikkan dua hal praktis yang sederhana sebagai bekal kehidupan bagi para rasulnya: perjamuan untuk mengenang kasihNya, dan perintah saling mencuci kaki untuk menyatakan kasih dan pelayanan satu sama lain. Dua paket cinta telah dikemas Yesus juga untuk kita. Tetapi paket cinta ini tampaknya lebih mudah diupacarakan daripada dipraktikkan dalam kehidupan.

Bersama dengan paket cinta Yesus ini, pada saat yang berdekatan, ada praktik faktual berbeda yang sangat tidak sejalan, yang ditampilkan oleh Yudas. Yudas menunjukkan satu sikap yang sangat bertolak belakang dengan pesan cinta, yakni pengkhianatan. Yudas lari meninggalkan perjamuan dan persekutuan para rasul, untuk kemudian mempraktikkan penghianatan, dengan cara yang justru biasa digunakan untuk mengungkapkan cinta: sebuah ciuman. “Orang yang aku cium, itulah dia, tangkaplah dia” (Mat. 26: 48). Dengan ciuman Yudas menyampaikan racun yang dikemas dengan madu. Ciuman yang adalah tanda cinta telah direkayasa Yudas menjadi tanda pengkhianatan. Maka Yesus sepertinya tidak mau menggunakannya lagi. Yesus punya cara baru untuk menyatakan cinta: saling mencuci kaki.

Yudas sepertinya tidak bisa lagi membedakan antara ekspresi cinta dan pengkhianatan. Itu adalah konsekuensi yang dia dapatkan setelah dia meninggalkan perjamuan para rasul dan tidak mau lagi saling mencuci kaki. Dengan kata lain, ketika orang menjauhkan diri dari komunitasnya, dari kelompok imannya, dia akan kehilangan arah dan tak mampu membedakan lagi antara cinta dan pengkhianatan.

Narasi Kamis Putih ini sebenarnya adalah narasi hidup kita sendiri. Dalam kesibukan setiap hari, rasanya sulit sekali mendapatkan waktu untuk bisa duduk makan bersama sekeluarga. Yang terjadi adalah setiap orang makan sendiri-sendiri pada waktu yang berbeda-beda. Atau malah tidak mau makan lagi di rumah. Padahal makan bersama adalah kesempatan semua orang berkumpul dan membicarakan berbagai masalah dalam keluarga, berbagi makanan yang sama dalam kekurangan dan kelebihan. Makan bersama adalah saat-saat semua anggota keluarga berkumpul dan bertukar cerita dan pengalaman setiap hari. Makan bersama menjadi tempat untuk mencairkan suasana kekeluargaan, membangun keakraban dan keceriahan yang membuat anak-anak selalu merasa lebih dekat dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Betapa seringnya kita meremehkan kekuatan cinta yang terwujud dalam peristiwa ini. Bahaya Yudas bisa mengincar kita saat kita tidak lagi menciptakan rasa nyaman di tengah keluarga. Kita bisa pada akhirnya tidak mampu membedakan lagi antara ciuman cinta dan ciuman pengkhiatan.

Cuci kaki adalah bagian dari perjamuan. Orang yang mengikuti perjamuan perlu dicuci kakinya supaya layak mengikuti perjamuan itu. Maka cuci kaki adalah juga bagian dari maaf dan pegampunan. Ketika tidak ada lagi saling mencuci kaki, dan tidak ada lagi pengampunan dan maaf, maka orang mudah meninggalkan perjamuan. Dan itulah awal dari sebuah ciuman pengkhianatan. Ciuman-ciuman pengkhianatan mudah terjadi ketika kita tidak lagi saling mengampuni, tidak lagi saling melayani, tidak lagi saling mendengarkan, tidak lagi saling berkomunikasi, tidak lagi saling menyapa, tidak lagi saling mengapresiasi, tidak lagi mau bercanda ria. Berapa banyak anak yang kehilangan orientasi dan tidak bisa membedakan lagi antara cinta dan pengkhianatan, karena stres dengan berbagai masalah-masalah dalam keluarga. Narkoba, obat-obatan terlarang, pornografi, kenakalan adalah bagian-bagian dari sikap-sikap kehilangan orientasi ketika tidak ada lagi “perjamuan” dan “saling cuci kaki” dalam keluarga, dalam kelompok iman, sesama remaja, dan sebagainya.

Maka kita perlu mengisi hidup kita dengan perjamuan, dan saling mencuci kaki. Meninggalkan perjamuan, dan tak lagi mau saling mencuci kaki, akan membuat kita mudah terkucil dari komunitas atau keluarga dan membuat kita tidak sanggup lagi membedakan antara cinta dan pengkhianatan.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s