BURUK RUPA CERMIN DIBELAH

Unjuk rasa seperti yang sudah diawali oleh paket Kasih, sebenarnya merupakan bagian dari taat asasnya pilkada. Sepertinya pilkada di Lembata pun harus menjadi setali tiga uang alias tidak ada bedanya lagi dengan pilkada di tempat lain. Seolah-olah kericuhan itu sudah menjadi iconnya pemilu kada. Kericuhan dalam proses pemilu kada ini memang tidak bisa dibenarkan, tetapi bisa dimengerti. Kekecewaan pasti tak bisa terbendung, ketika sebuah upaya besar yang menyita biaya, waktu, pikiran dan tenaga untuk mengusung sebuah paket, ternyata bermuara pada kebuntuan; apa lagi kalau paket ini begitu diandalkan dan ikut menjadi kendaraan serta tumpuan harapan tunggal bagi sejumlah stakeholder yang mengusungnya.

Namun berbagai pertanyaan pun sempat mencuat. Misalnya, mengapa mesti ditunjukkan dengan kericuhan dan kekerasan yang tak terkendali? Lagi pula, mengapa tuntutannya adalah pembubaran KPUD dan penangguhan pilkada? Mengapa tidak ada tuntutan agar paket Kasih tetap boleh mengikuti pemilu kada Lembata 2011? Sepertinya sudah terendus kegagalan di pelupuk mata lalu serta merta berlakulah apa yang digambarkan dalam pepatah klasik kita, “buruk rupa cermin dibelah”. Orang Kedang punya istilah higor hagor, yang sebenarnya juga mirip dengan tindakan mengobok-obok sumur. Ketika rupa ternyata tak cantik, cermin yang jadi kambing hitam pun pun dibelah biar semua peserta tidak bisa bersolek lagi. Ketika tak kebagian kesempatan untuk minum, sumur pun diobok-obok, biar semua pihak sama-sama tidak bisa minum, alias gigit jari. Mirip juga dengan taktik seorang grandmaster catur kelas terminal, yang ketika ada tanda-tanda akan kalah, sengaja menyenggol papan catur sehingga semua bidaknya berantakan, dan terpaksa main ulang.

Tokoh pun tampil

Tetapi tindakan ini tentu saja bukan tindakan yang terpuji.  Ini malah bisa menjadi blunder final yang menjadi bumerang bagi seluruh kiprah paket Kasih dalam pemilu kada kali ini. Persis seperti balon lampu pijar, yang biasanya sempat berpijar sangat-terang sesaat, sebelum akhirnya byar dan pet, alias putus, dan selanjutnya tidak berpijar lagi. Namun tetap sangat disayangkan bahwa semuanya harus berujung pada kericuhan. Pemilukada Lembata yang sejatinya mau dijadikan pemilu kada teladan pun telah ikut tercoreng.

Yang menarik adalah bahwa tokoh Statement 7 Maret 1954 Petrus Gute Betekeneng tampil dan mengutuk peristiwa ini. “Kita di pulau ini harus hidup saling menghargai, saling menghormati dan hidup bersaudara. Itulah jiwa dari Statement 7 Maret 1954. Persatuan ini mesti dijaga oleh siapa saja yang berada di tanah Lomblen. Siapa yang mengadakan perpecahan maka terkutuklah orang itu,” kata Betekeneng seperti dilaporkan Pos Kupang (huruf italic dari Molansio).

Kerisauan yang sempat diangkat dalam artikel “Lembata: Ketokohan dan Narsisme” di blog ini, bahwa Lembata sedang mengalami krisis tokoh, yang pada gilirannya diisi oleh kaum narsis, sedikit terhapus dengan turunnya berita ini. Dengan menggelegarnya suara yang mewakili suara-suara old soldiers never die ini, terasa ada angin segar bertiup di Lembata. Mudah-mudahan suara tokoh Statement 7 Maret ’54 kali ini menjadi gong bagi bangkitnya para tokoh sejati untuk menyuarakan suara-suara kenabian yang mengecam dan meluruskan kembali langkah-langkah yang sudah melenceng dari akar dan cita-cita sejarah Lembata. Termasuk di sini tentunya suara-suara dari Gereja yang juga sudah mencatat sukses besar dalam sejarah Lembata antara lain menghapuskan perseteruan berdarah antar suku (pembunuhan dan kekerasan).

Antisipasi

Bisa saja terjadi, bahwa ini bukan menjadi satu-satunya peristiwa yang bisa timbul. Tidak tertutup kemungkinan bahwa peristiwa sejenis bakal berulang pada paket lainnya, setelah KPUD mengumumkan ketetapan mengenai para calon bupati dan wakil bupati pemilu kada Lembata 2011, pada tanggal 23 Maret 2011 mendatang. Pasti sudah ada langkah antisipasi di pihak KPUD. Dan langkah antisipasi ini tidak hanya akan menjadi ujian bagi polisi dan KPUD untuk menunjukkan profesionalitasnya, melainkan juga ujian bagi para politisi, khususnya para bakal calon alias elit politik, untuk memeragakan kematangan berpolitiknya. Ini merupakan kesempatan untuk melihat siapa sesungguhnya pemimpin sejati dan siapa yang hanya sekadar mengejar jabatan.

Dalam politik, kemenangan dan kegagalan itu hanya berbeda sebesar tebal tipisnya kepentingan. Kegagalan menjadi bupati, misalnya, bisa menjadi bagian dari kematangan untuk meraih loncatan pada langkah politis berikutnya yang mungkin lebih tinggi. Politik adalah roda, yang terus berputar. Kadang-kadang bisa berada di bawah tetapi bisa juga di atas. Politik adalah proses, bukan destinasi, karena itu politik tak ada ujungnya. Konsep Hannah Arendt yang mengacu pada Aristoteles, tetap relevan: politik adalah aksi, bukan karya yang menghasilkan produk, apa lagi disetarakan dengan kerja yang bisa juga dilakukan oleh kerbau. Aksi itu lebih luhur daripada karya dan kerja. Politik itu aksi, karenanya luhur dan harus dilakukan dalam kesetaraan dan saling penghargaan dengan yang lain.

Politik juga adalah aksi yang berproses dan karena itu bervariasi dan berfluktuasi. Di satu kala, aksi itu bisa buntu, menjemukan, pesimistik, tidak menggairahkan, dan melenceng dari kepentingan. Tetapi di kala lain, aksi itu bisa lempeng, menggairahkan, mengasyikkan, penuh rasa optimistik, dan sesuai dengan kepentingan.

Tetapi lepas dari soal kejemuan atau kegairahan pihak politisi tertentu, the show must go on. Pemilu kada tetap harus berjalan. Itu tugas KPUD. Dan tepat sekali kalau aktivitas KPUD tetap berjalan normal, seperti yang diberitakan Pos Kupang hari ini. Cermin harus tetap dibela dari berbagai pihak yang mau membelahnya. Cermin harus difungsikan untuk membantu kita memoles wajah kita agar tampil cantik dalam parade demokratis ini. Sumur tidak boleh diobok-obok, biar semua peserta tetap mendapat air minum yang menyegarkan untuk meramaikan dan memeriahkan perhelatan demokratis ini. Semua harus berjalan dalam damai, saling menghargai, cerdas, dan bermartabat, serta tetap menjaga kesatuan, sesuai semangat 7 Maret 1954. Sejarah persatuan Lembata hendaknya terus dikumandangkan untuk menjadi pedoman arah bagi Lembata ke depan, yakni Lembata yang damai, dinamis, dan kreatif. Dengan kata lain sesama orang Lembata harus saling menjadi reu, mitra debat/tanding, dan pesaing yang sehat, dalam membangun Lembata yang satu.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s