LEMBATA: KETOKOHAN DAN NARSISME

Ternyata pilkada di Lembata tidak hanya menjadi arena publik bagi para balon bupati dan wakil bupati untuk menunjukkan kualitasnya menjadi pemimpin, melainkan juga menjadi arena bagi kaum pendompleng, para narsis, dan para carpe-diem-ers (orang yang memanfaatkan kesempatan alias mumpungisme) untuk ikut serta mencitrakan dirinya sebagai tokoh. Ini mungkin merupakan bagian dari efek samping, efek depan, atau barangkali efek ikutan pilkada.

Orang Lembata yang tadinya rendah hati, malu-malu menampilkan diri sebagai tokoh, kini berani tampil, mengobralkan kehebatannya bahkan cenderung narsis supaya menjadi tokoh. Sepertinya tak ada rasa malu lagi, tampil percaya diri dan memproklamirkan diri sebagai tokoh, seiring dengan hilangnya kemampuan untuk membuat refleksi secara jujur dan serius, sekadar mengaca dan bertanya — apa lagi menertawakan diri sendiri— “apakah saya memang layak disebut tokoh?” Apa lagi kalau ketokohan itu cuma dikukuhkan dengan kisah-kisah avontur, diembel-embeli dengan bukti-bukti dokumentatif seperti foto bersama, kartu nama, tanda tangan, cindera mata dan sebagainya. Semuanya akan menjadi bahan narsis yang sangat laku buat diobral.

Ketokohan yang narsis dan bersifat carpe-diem serta main dompleng-domplengan ini sepertinya mendapatkan tempat yang bernas di tengah kita masyarakat Lembata yang memang cenderung mengagumi dan mudah percaya pada orang yang sudah pernah merantau, tanpa mengamati secara kritis mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan orang ini di tanah rantau. Konon ceritanya, ada orang yang ke luar dari kampunya karena menjadi nara pidana, pulang ke kampungnya malah diangkat jadi kepala desa.

Kondisi ini ikut membuat orang suka merantau agar menjadi terpandang. Makin jauh dari daerah makin mantap. Ilustrasi berikut memang tidak terjadi di Lembata, tetapi sedikit banyak menggambarkan mental masyarakat serumpun. Pernah terjadi, seorang mahasiswa yang selalu membanggakan dirinya karena kuliah di negeri sultan tanah keraton alias Yogyakarta, mudik dan berkunjung ke kerabatnya di kampung halamannya di NTT. Ketika ditanya oleh tetangganya apakah dia kuliah di Kupang, seorang kerabatnya pun langsung menglarifikasi, “bukan di Kupang. Kalau cuma di Kupang, ayam berkokok juga kita dengar. Dia kuliah di Jawa, di tanahnya sultan dekat presiden.” Kebanggaan memancar dari raut wajah sang kerabat, karena tertitis gengsi perkerabatan.

Tokoh?

Pada hal ketokohan itu semestinya datang dengan sendirinya dan serta merta melalui pengakuan yang jujur dari orang-orang yang jujur, atas perilaku dan sepak terjang yang bernilai, seperti terpadu, jujur, adil, humanis, berkarakter, mampu mengendalikan diri, seimbang, rendah hati. Jika tidak, maka ketokohan itu seharusnya menjadi rancu dan lebih pantas menjadi obyek cemoohan orang.

Pepatah lama yang mengibaratkan tokoh sebagai padi yang “makin berisi makin merunduk”, sepertinya tidak berlaku lagi. Tokoh zaman sekarang malah justru digambarkan dengan pepatah, yang sebenarnya mau mengatakan yang sebaliknya, “ tong kosong nyaring bunyinya”; atau diibaratkan dengan “air beriak tanda tak dalam.” Bunyinya saja hebat, tetapi kosong. Makin banyak beriak, justru mengindikasikan kedangkalannya. Maka yang sebaliknya juga benar, justru karena dangkal maka harus banyak riak, atau karena kosong maka harus bersuara lantang, sebagai bagian dari kompensasi atau sublimasi.

Selain itu, keengganan dari para tokoh sejati untuk sesumbar sebagai tokoh, ikut menyebabkan kita kehilangan tokoh-tokoh sejati tersebut, dan peluang pun menjadi terbuka bagi pihak-pihak yang ingin mempromosikan dirinya untuk tampil sebagai tokoh. Sementara itu, mata kita pun lebih terpukau pada perilaku sandiwara sang narsis daripada bersusah-susah mengarahkan mata ke sang tokoh sejati. Karena tokoh sejati sesungguhnya tak akan heqeng weq (sesumbar) sebagai tokoh. Dia hanya melakukan perbuatan-perbuatan bernilai yang akan dengan sendirinya meneguhkan ketokohannya.

Tak pantas kalau ketokohan lebih dikaitkan dengan sepak terjang yang bergaung, menarik perhatian, walaupun dengan cara-cara yang licik, dan dikemas dengan penampilan yang sangat meyakinkan, apa lagi dipoles dengan kecerdikan untuk tipu sana tipu sini (tipsani). Pantas kalau para koruptor dan penipu lebih dihargai daripada orang yang jujur. Para koruptor itu tidak jujur terhadap orang lain dan terutama terhadap dirinya, tetapi licik. Mereka dihargai terutama lantaran mereka tak segan menghamburkan hasil korupsinya dalam kemasan amal bakti bernama besar untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa saleh, sosial, dan karitatif.

Pecunia non olet (uang memang tidak berbau), kata orang Latin. Tetapi kiranya ini hanya berlaku untuk uang masuk daripada uang keluar. Uang masuk hasil korupsi atau hasil keringat yang halal, sama-sama tidak berbau. Tetapi saat dikeluarkan, uang itu justru bisa beraroma. Uang yang didapatkan lewat tangan setan bisa keluar dengan wajah malaikat. Dan yang terlihat secara transparan atau ditransparankan adalah saat keluarnya, bukan masuknya. Harummm, karena sudah dilondri atau malah dibaptis.

Rindu Tokoh

Gejala di atas memberi isyarat tersamar bahwa ada kebutuhan akan tokoh dalam hati orang Lembata. Tokoh itu perlu, karena tokoh itu berkaitan dengan panutan dan tradisi. Bangsa yang tidak punya panutan dan tradisi itu miskin nilai, mengambang, tidak punya akar, mudah goyah atau digoyang. Bangsa yang tak punya tradisi gampang terbawa angin. Tradisi berfungsi sebagai akar yang membuat orang menyikapi segala perubahan menjadi beridentitas dan berpola. Jika tidak, maka perubahan hanya akan menabur angin ribut dan akhirnya menuai kekacauan tanpa arah.

Tetapi sayangnya bahwa kebutuhan Lembata akan tokoh itu tidak disuplai dengan produk yang memadai. Kehausan akan tokoh sejati itu ditanggapi dengan produk tokoh yang tidak bermutu. Maka saatnya Lembata menampilkan tokoh-tokoh bermutu, supaya tempat mereka tidak tergantikan oleh para tokoh jadi-jadian, tokoh-tokoh narsis yang menjadikan ketokohan sebagai tujuan. Ketokohan itu bukan tujuan melainkan hasil (outcome). Tindakan-tindakan besar membuat orang menjadi tokoh, dan bukannya omongan-omongan besar , membangun citra, supaya pada akhirnya menjadi tokoh.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s