LEMBATA: KEPANIKAN MELANDA PARA BALON

Mengamati perkembangan proses pemilukada Lembata, terkesan adanya suasana yang tak banyak beda dengan ulah para penumpang kapal yang panik lantaran takut tak kebagian tiket. Ada yang cepat-cepat beli tiket, walaupun belum tahu-pasti, akan berangkat atau tidak. Bahkan beberapa pasangan balon berjuang memperebutkan tiket yang sama. Balon yang kalah harus cepat-cepat cikar kanan, vaya condios, dan … cari lain. Yang penting segera dapat tiket baru, supaya masih tetap mengantongi harapan untuk bisa berangkat. Ya, sekedar memperpanjang asa, agar tidak terlalu dini menemui kenyataan bahwa memang telah gagal. Pasangan yang jelas-jelas tidak dapat tiket pun, belum benar-benar menghentikan langkahnya. Berbagai manuver dan pendekatan pun dilancarkan kembali, untuk, kalau boleh, diperkenankan menjadi pendompleng (free-riders). Siapa tahu bisa sekalian menawarkan jasa-jasanya dan mendapatkan sedikit cucuran (trickle-down) dari romantismenya pesta demokrasi.

Itulah sedikit gambaran analogis mengenai perilaku bara balon bupati dan wakil bupati Lembata 2011-2016, yang dituntut untuk segera mendaftarkan diri ke KPUD Lembata, lantaran tenggat waktunya sudah mulai mepet. Ada yang sukses menyatukan acara deklarasi dengan pendaftaran. Tetapi ada juga yang seusai deklarasi malah urung mendaftarkan diri karena partai pendukung tak lengkap saat deklarasi. Ada pula yang mendaftarkan diri dulu baru deklarasi; sekadar mengamankan langkah dan menyatakan eksistensinya.

Di tengah kepanikan para balon itu, penyaji berita amatiran pun ikut-ikut jadi bingung dan kehilangan jejak, menyangkut siapa saja yang sebenarnya sudah mendaftarkan diri di KPUD Lembata. Habisnya, penyaji berita profesional pun tidak menyajikan berita seutuhnya, kalau tidak mau dikatakan tak berimbang. Website KPUD Lembata saja, tidak pernah diupdate; kalah sama para facebookers. Ironis sekali bahwa hari gini, lajunya informasi masih kalah cepat sama gerak langkah manusia. Kalau jadul, tidak aneh, kalau orang tiba lebih dahulu dari berita telegramnya. Tetapi sekarang hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Bagaimana mungkin di zaman informasi berjarak hanya satu kali klik jauhnya, berita-berita publik dari Lembata ke Jakarta, masih kalah cepat dari waktu tempuh perjalanan manusia untuk jarak yang sama. Pantas kalau mesin pencari google hanya penuh dengan entri-entri pilkada Lembata, yang berujung pada kekecewaan, karena berita-berita yang paling mutakhir tak kunjung nongol.

Berita tentang pasangan balon yang sudah mendaftar ke KPUD saja, susah didapatkan. Dan menurut informasi yang masih simpang siur itu, pasangan balon yang sudah mendaftar adalah Yohanes Lake dan Simon Krova (Johnson), Sius Amuntoda dan Bernard Boli Hipir (Sinar), Herman L. Wutun dan Viktus Murin, Lukas Witak dan Muhidin Ishak (Kasih). Selanjutnya yang perlu dikonfirmasi lagi adalah Philipus Bediona dan Fredy Wahon. Saat berita ini diposting ada kabar bahwa pasangan Yance Sunur dan Viktor Mado Watun akan segera mendaftarkan diri hari ini. Siapa lagi yang menyusul, silahkan cari informasi sendiri.

Rupanya pendaftaran di KPUD hanya merupakan langkah-langkah panik, yang belum cukup jelas memberikan sinyal dan gambaran, pasangan mana yang bakal ditetapkan sebagai calon bupati dan wakil bupati yang siap bersaing mendapatkan restu dari Lembata. Semua langkah panik ini baru akan menjadi jelas setelah ada verifikasi di KPU. Kita tunggu saja tanggal mainnya dengan sabar dan tenang.Mudah-mudahan , setelah berlalunya langkah-langkah panik ini, kita akan mendapatkan penyajian program-program para calon, yang sampai saat ini belum banyak ditebarkan, karena masing-masing pasangan masih sibuk mencari tiket untuk bisa memasuki arena persaingan ini.

Kita harapkan juga bahwa langkah-langkah panik para elit ini pun tidak sampai meneteskan gejolak pada lapisan bawah. Semoga para pelaku politik Lembata tetap arif, dan tidak bersikap ceroboh dan tega mengorbankan rakyat demi melampiaskan dendam dan ambisi politiknya yang tak kesampaian. Hindarilah politik carpe diem alias mumpungisme, yang berorientasi pada keserakahan sendiri. Ingat, saat jadi petinggi, perjuangkan kepentingan rakyat, sehingga ketika tiba saatnya Anda kembali jadi rakyat lagi, Anda pun bisa ikut menikmatinya.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s