PILKADA LEMBATA: MORALITAS DAN SIKAP TAAT ASAS

Pilkada Lembata semakin asyik aja. Ada tukang sulap yang bisa menghidupkan orang mati. Ada paranormal yang punya kemampuan bilokasi. Ada bayi ajaib yang begitu lahir bisa menandatangani surat keterangan domisili. Ada sinterklas yang tak hentinya membagi-bagi hadiah. Ada narsis yang senang pasang aksi di baliho dan spanduk. Ada broker yang mendapatkan peluang bisnis dan komoditas dadakan berwujud KTP dan dukungan. Belum lagi upaya jegal menjegal berebut pintu partai, dengan memanfaatkan segala kiat dan strategi, termasuk strategi klasik yang sangat menggoda iman namanya duit, yang bisa dilancarkan dengan berbagai tahap, pola, dan modus. Semua hal ini adalah tipikal pemilukada, yang memang sepertinya sudah menjadi bagian dari sistem yang melekat. Lembata pun sepertinya pada gilirannya, akan cenderung menjadi taat asas, tidak bisa berbuat lain daripada ikut saja dan terhanyut oleh sistem ini.

Karena itu yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana, dalam hal dan kondisi seperti ini, Lembata bisa mendapatkan pemimpin yang berbobot kalau para calon pemimpinnya itu ikut hanyut terseret oleh, dan senang memanfaatkan, proses ini secara taat asas. Seperti biasanya orang akan berjuang dengan segala macam cara agar bisa sukses bersaing, bahkan sambil menjegal kandidat yang berpeluang sukses dengan berbagai cara agar calon yang berpeluang itu tidak ikut berdendang dalam pesta demokrasi. Ini bukan hanya kelemahan orang Lembata, melainkan juga turut terkondisikan oleh sistem yang telah ikut membuka peluang.

Namun demikian sistem tidak selalu harus menjadi kambing hitam. Sistem bisa dipersalahkan karena telah memberikan kondisi sedemikian rupa sehingga orang hanya bisa menjadi taat asas. Tetapi kita sebenarnya tahu dan terus menyadari bahwa manusia itu bukan makhluk deterministik. Manusia adalah makluk bebas yang bisa bertindak lain dari yang bisa diperhitungkan. Sebagai misal, walaupun sistem biologis memberi sinyal bahwa manusia lapar karena tidak makan, tetapi sistem biologis itu tidak serta merta secara deterministik membuat manusia harus makan. Manusia justru bisa mengatakan tidak makan alias puasa. Hanya manusia yang bisa puasa, kucing tak mengenal puasa. Manusia itu tidak sama dengan kucing, yang kalau diberi daging mesti dimakan. Dia bisa menolak, atau menunda makannya. Manusia tidak seperti tikus yang kalau ada makanan yang tergeletak pasti dicolong. Manusia yang bertindak seperti itu sebenarnya sudah menjadi tidak lebih dari kucing atau tikus. Pantas kalau koruptor selalu dianalogikan dengan tikus.

Maka dalam situasi dan kondisi seperti ini, yang membuat manusia menjadi terbedakan adalah moralitas. Dalam kondisi-kondisi determinstik inilah kebebasan moralitas serta kejujuran manusia ditantang. Moralitas itu tidak hanya memungkinkan manusia menjadi taat asas melainkan membuat dia berani mengatakan “tidak” terutama pada asas yang tidak bermoral. Moralitas tidak hanya taat asas dan menyerah pada fakta, apa lagi memanfaatkan fakta, melainkan berorientasi pada cita-cita moral. Moralitas bukan sekadar is (fakta) melainkan ought to (cita-cita).

Karenanya moralitas tidak bicara tentang manusia yang deterministik melainkan tentang manusia yang bebas. Bebas dalam arti bahwa dia tidak sekadar ditentukan, melainkan menentukan. Hanya dalam konsep moralitas yang bebas orang bisa memasang pipi kanannya setelah pipi kirinya ditampar. Bukankah orang yang ditampar pipi kiri akan secara taat asas membalas tamparannya? Memasang pipi kanan setelah pipi kiri ditampar adalah tindakan yang memeragakan ciri manusia yang bebas, yang tidak sekadar bertindak secara taat asas. Dan ini hanya terjadi dalam manusia dengan kepribadian yang matang. Hanya manusia semacam itu yang berani mengatakan tidak. Penjegalan dalam pesaingan tidak sehat adalah cara-cara yang mungkin sekadar taat asas tetapi tidak bermoral. Tindakan semacam ini pun akan menghasilkan pemimpin yang tidak bermoral juga.

Karena itu harapan-harapan bahwa Lembata mendapatkan pemimpin yang berbobot itu tidak ditentukan oleh tua dan muda, birokrat atau bukan, asli atau naturalisasi, kaya atau miskin, rajin berdoa atau tidak, melainkan ditentukan oleh apakah si calon pemimpin itu memang manusia yang bermoral atau sekadar taat asas. Dan ciri-ciri itu tidak akan tampak dalam situasi yang biasa (normal), melainkan akan lebih tampak dalam situasi krisis. Dalam situasi semacam ini, biasanya dikatakan “aslinya” keluar. Maka seluruh proses pemilukada akan menjadi arena yang baik untuk mengamati siapa sesungguhnya pemimpin yang bermoral. Itu akan teramati tidak dalam hasil melainkan dalam proses. Karenanya jangan hanya mengamati hasilnya tetapi amatilah juga prosesnya untuk melihat siapa sesungguhnya sang calon pemimpin itu. “Success is a journay, not a destination” (Eric Jensen). Sukses adalah perjalanan (proses), bukan tujuan (hasil). (Baca juga “Bijaksini” pada Blog ini)

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s