PILKADA LEMBATA 2011: PEJABAT YANG BERMARTABAT

Pemilukada Lembata sudah mulai menghangat. Berita-berita mulai berseliweran bersama para pencarinya. Komentar-komentar dan opini-opini mulai menyemarak bersama pewartanya. Blog dan face book serta twitter tak mau ketinggalan. Semuanya sangat variatif. Dan variatifnya itu bukan hanya menyangkut informasi dan konten, melainkan juga soal kebenaran dan tingkat keakuratannya. Bahkan berita-berita yang bombastis dan berlebihan, atau pinjam istilah yang lagi populer akhir-akhir ini, berita-berita “bohong”, juga ikut menambah keramaian. Sayangnya berita-berita yang dimaksudkan untuk mendukung itu, justru bisa menjadi bumerang dan malah bisa menjerumuskan kandidat yang didukungnya.

Sangat disayangkan kalau kandidat bermutu yang mau didukung, bisa terkesan kurang bermutu dan jadi bahan cemoohan, hanya karena dukungan keropos yang dilancarkan melalui berita-berita bombastis yang sifatnya melebih-lebihkan. Dukungan macam itu perlu dicermati secara kritis, agar bisa terendus lebih dini, kalau-kalau ada maksud-maksud oportunistik dan tidak terpuji yang bisa saja menyelinap di baliknya. Jangan-jangan ada rendang di balik bumbu.

Etika jaminan mutu

Politik itu seperti bisnis, juga harus dijalankan secara etis. Konsep menjual kucing dalam karung atau trik pemasaran caveat emptor (pembeli harus awas) itu bukan zamannya lagi. Bisnis yang melibas etika-bisnis, tentu saja akan mendapatkan laba, tetapi hanya untuk sesaat dalam jangka pendek. Bisnis tersebut selanjutnya tak bakal langgeng. Dia akan kehilangan pelanggan bersama dengan bisnisnya sendiri.

Produk-produk yang diiklankan dengan kebohongan adalah produk-produk tak bermutu. Karena itu, premis dan konklusinya jelas. Kalau produknya memang bermutu, maka janganlah produk tersebut dipromosikan dengan sarana promosi yang tidak bermutu. Sarana tak bermutu akan ikut memengaruhi —dalam hal ini memerosotkan— mutu produknya. Begitu juga dalam mempromosikan kandidat. Kandidat yang bermutu harus dipromosikan dengan cara yang bermutu. Dan dalam hal ini etika adalah jaminan mutu, karena di situ ada kejujuran, kebebasan dan niat baik. Dan kejujuran dan niat baik itu akan membangun kepercayaan. Bagaimana orang bakal mau memilih kandidatnya, kalau si kandidat sendiri berada dalam lingkaran yang tidak dapat dipercaya? Kebohongan akan melahirkan kepalsuan, dan kepalsuan melahirkan lagi kebohongan, sehingga terjadilah lingkaran setan yang pada gilirannya akan melahirkan setan-setan yang melingkar-lingkar.

Sekarang ini zamannya etika. Tindakan-tindakan yang tidak etis (bukan sekadar tidak punya etiket) adalah tindakan tidak bermutu, yang merendahkan martabat orang lain dan martabat diri sendiri sebagai manusia. Hanya manusialah yang bisa bertindak etis. Maka konklusinya sederhana, yang tidak bertindak etis tidak pantas menyandang martabat sebagai manusia. Dia pantas diberi label infrahuman.

Membeli Suara

Praktik membeli suara juga adalah bagian dari model trik yang tidak bermutu. Karena merasa diri tidak bermutu, maka timbullah rasa tidak percaya diri. Dan untuk mendapatkan serta menunjang kepercayaan diri, orang yang nekat akan cenderung membelinya demi mendongkrak mutu. Orang yang mengandalkan sesuatu di luar dirinya untuk mendapatkan kepercayaan diri, adalah orang yang tak bermutu dan tak bermartabat. Orang macam ini tidak pernah bisa melahirkan proses dinamika yang bermutu karena semua bisa dipersingkat dengan uang. Pada hal politik adalah arena untuk beradu argumentasi. Makin diadu makin kincrong. Bagaimana argumentasi bisa berjalan dalam proses yang sehat untuk mencapai ide yang cemerlang, kalau prosesnya sudah dipotong di tengah jalan dengan uang. Uang bisa membeli jabatan tetapi tidak bisa membeli martabat. Artinya pemimpin yang tidak bermutu hanya bisa mendapatkan jabatan tetapi tidak bisa mendapatkan martabat.

Dengan kata lain, kalau politik adalah adu argumentasi maka yang harus menjadi andalan adalah akal sehat, karena akal sehat merupakan arena bersama bagi segala lapisan masyarakat manusia untuk beradu argumentasi. Setiap orang yang punya akal sehat bisa ikut berkiprah dalam dunia politik. Tetapi ini semua akan mudah dipintas tuntas, kalau ada pihak yang datang dan menyelesaikan seluruh proses ini dengan uang. Politik uang adalah politik-tujuan tanpa proses. Yang penting hasilnya (output), bukan prosesnya. Ini tak beda dengan politik nyontek, karena dalam nyontek pun yang penting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.

Hasil (outcome) yang bermutu pasti didapatkan melalui proses yang bermutu pula. Semoga dengan proses yang bermutu Lembata akan mencapai hasil (outcome) yang bermutu. Dan semoga pula melalui proses yang bermutu, Lembata akhirnya mendapatkan pemimpin yang bermutu pula, yakni pemimpin yang tidak hanya keren karena punya jabatan tetapi terutama bermutu karena punya martabat.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s