SELAMAT JALAN BAPAK PIET BOLI WARAT

Hari Kamis, tanggal 13 Januari 2011 kemarin, Bapak Piet Boli Warat telah mengabadikan hidupnya dengan menghirup nafas terakhirnya pada pukul 15.45 WIB. Hampir 80 tahun dia telah menjalani kehidupan sementara di dunia ini.

Beliau sebenarnya tetap hidup, karena kematian adalah juga bagian dari historisitas manusia; dan historisitas manusia itu tak berujung, dan tak pernah selesai dengan kematian. Pinjam pemikirannya Plato, kematian melepaskan kita dari dunia inderawi yang terus berubah dan bergejolak dan membawa kita ke dunia ide, dunia sejati, yang tak pernah berubah lagi. Atau dari kaca mata Iman, kita bahkan berkeyakinan bahwa kematian adalah jalan menuju kehidupan abadi.

Pangggilan Guru

Bukan kebetulan bahwa almarhum bapak Piet adalah seorang guru. Dia seolah-olah tercipta untuk menjadi guru. Dia masuk seminari Mataloko untuk menjadi imam. Tetapi sekolah calon imam itu justru menghantar dia menemukan dirinya sebagai guru. “Lepas dari Mataloko beliau ke Larantuka dan diangkat menjadi guru tanpa ijazah guru”, tutur bapak Anton Tifaona. Seolah-olah dia salah mendengar panggilannya. Dia mendapat panggilan untuk menjadi guru tetapi yang terdengar adalah panggilan untuk menjadi imam. Mirip cerita panggilan Samuel. Samuel yang dipanggil Tuhan, malah mengira bahwa sedang dipanggil Eli (1 Sam, 3: 4-10).

Namun harus diakui bahwa panggilannya sesungguhnya tidak benar-benar melenceng, karena panggilan sebagai guru pun adalah bagian dari tugas keimaman. Dan tugas itu dijalaninya dengan teguh dan setia. Sekali guru tetap guru. Bahkan ketika Iwan Fals meratapi nasib guru Umar Bakri, dan himne guru mengumandangkan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, beliau tetap teken mati menjadi guru, mulai dari Lembata hingga ke Jakarta.

Orang Lembata

Bukan keterlemparan bahwa beliau terlahir sebagai orang Lembata. Menjadi orang Lembata adalah pilihannya. Seperti halnya dia tetap setia sebagai seorang guru mulai dari Lembata hingga ke Jakarta, dia juga tetap setia sebagai orang Lembata, mulai dari desa Uror sampai ke Jakarta. Di Jakarta nama Piet Boli Warat seolah menjadi identik dengan Lembata. Beliau bukan miniatur Lembata melainkan ekspresi kebesaran jiwa Lembata. Beliau mengumpulkan orang-orang Lembata di Jakarta untuk meniupkan kebesaran jiwa itu agar tidak hanyut dalam arus dan tenggelam dalam anonimitas dan keterasingan di ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri ini. Dia ajak orang-orang Lembata untuk ikut membangun Lembata. Dan ketika ada gerakan untuk mendorong Lembata menjadi daerah otonom, beliau tidak tinggal diam, dan ikut serta pontang panting bersama utusan dari Lembata memperjuangkan otonomi Lembata. Ketika Lembata sudah otonom pun beliau tidak segan-segan melakukan pendekatan-pendekatan kepada berbagai pihak, terutama menyangkut berbagai masalah yang terjadi di Lembata, mulai dari soal rekonsiliasi pascapemilukada sampai masalah tambang.

Kini bapak Piet telah beralih dari tengah kita. Jenazahnya telah dikremasi pada hari ini tanggal 14 Januari 2011 di New Oasis. Requiescat in pace. Selamat jalan bapak pejuang Lembata. Jasamu kami kenang dan semoga teladan serta semangatmu tetap tinggal di tengah keluarga, dan kami orang-orang Lembata.

Benyamin Molan Amuntoda

(Catatan: untuk mendapat gambaran tentang New Oasis simak tulisan di blog ini berjudul New Oasis, 25 April 2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s