KEMENANGAN YANG IRONIS

Melawan Malaysia dalam final leg kedua Piala AFF, hari ini 29 Desember 2010, Indonesia telah bermain habis-habisan dan menang. Tapi sayangnya tidak jadi juara. Menang tetapi kalah. Itulah ungkapan yang ironis. Betapa tidak. Tiga kali bertanding melawan Malaysia dalam turnamen Piala AFF ini, Indonesia menang dua kali, dan kalah sekali, tetapi yang juara justru Malaysia. Dalam ketiga pertandingan itu Indonesia memasukkan 7 gol ke gawang Malaysia dan kemasukan 5 gol. Sementara Malaysia memasukkan 5 gol dan kemasukan 7 gol. Dalam 7 pertandingan di seluruh turnamen ini, Indonesia menang 6 kali dan kalah sekali. Malaysia hanya menang 3 kali, kalah 2 kali dan seri 2 kali. Selain itu, Malaysia justru lolos ke semi final karena diselamatkan Indonesia. Dalam babak penyisihan, Indonesia menyingkirkan Thailand, dan meloloskan Malaysia ke semi final. Malaysia sempat berterima kasih kepada Indonesia, dan ironisnya lagi, Malaysia justru bangkit dan mempecundang Indonesia di final. Tetapi itulah sepak bola.

Dalam pertandingan di seluruh turnamen, dan pada pertandingan terakhir ini pun, tampak bahwa Indonesia sebenarnya lebih baik dari Malaysia. Indonesia lebih menguasai bola dan melancarkan serangan bertubi-tubi, tetapi sayangnya tak banyak menghasilkan gol. Pada hal kesempatan untuk menciptakan banyak gol itu ada. Gol yang sebenarnya sudah di tangan pun lepas lantaran Firman Utina gagal mengeksekusi pinalti. Pada hal kalau gol itu terjadi ceritanya bisa menjadi lain.

Dalam tiga pertemuan dengan Malaysia pada turnamen ini, Indonesia menang dua kali dan kalah sekali, sementara Malaysia memang menang sekali dan kalah dua kali, tetapi kemenangan Malaysia, justru kemenangan strategis; kemenangan di saat-saat yang menentukan. Mirip dengan yang terjadi pada Piala Dunia yang lalu, Belanda yang tak pernah kalah, dan berhasil menumbangkan raksasa Brazil, justru tak bisa menjadi juara karena kalah di final. Sementara Spanyol yang pada awalnya terseok-seok justru bangkit dan menang di final sekaligus menjadi juara.  Sepertinya tidak adil, tetapi yang berlaku di sini adalah keadilan dalam arti fairness dan bukan justice. Maka dari segi justice Indonesia juaranya, tetapi dari segi fairness Malaysia juaranya.

Yang jelas tim Garuda sudah memberikan kita pelajaran berharga untuk bola kehidupan. Tim ini sudah melakukan yang terbaik, cuma kurang beruntung saja. Bermain baik dan sungguh-sungguh dengan seluruh jiwa raga, dengan mengerahkan roh dan eros, sudah ditampilkan tim Garuda. Usaha yang baik ini pasti akan ada hasilnya, hanya soal waktu. Begitu juga dalam bola kehidupan. Yang penting adalah tekun melakukan upaya terbaik, dengan seluruh kemampuan dan motivasi. Hasilnya akan datang pada waktunya. Selamat untuk tim Garuda, semoga lebih beruntung di lain turnamen.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s