“ANOMALI” MENJELANG PEMILUKADA LEMBATA

Pemilukada Lembata semakin dekat, tetapi dunia maya semakin sepi dari hingar bingar pemilukada. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya, dunia maya sudah mulai panas. Ini bisa dianalogikan sebagai anomali pertama. Mungkin para penggiat dunia maya sudah terjun langsung dan berkecimpung di dunia nyata dan meninggalkan dunia maya. Mudah-mudahan demikian yang terjadi, dan bukan karena mulai ada rasa ketidak-pedulian.

Semakin dekat pemilukada ada dua berita yang menarik dari Lembata yang saya baca dari freddywahon.blogspot.com. Pertama bahwa ada pertambahan besar jumlah pemilih saat dilakukan pendaftaran pemilih sementara untuk pemilukada di Lembata bulan Mei mendatang. Pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa terjadi demikian? Mengapa kenaikannya begitu signifikan? Pertanyaan sudah diajukan tetapi jawabannya masih dinantikan. Ini juga boleh dianggap sebagai anomali kedua yang harus dijelaskan secara transparan. Sekurang-kurangnya serentetan pertanyaan lain bisa muncul seperti efek domino. Bagaimana bisa terjadi anomali dalam daftar pemilih sementara di Lembata yang begitu kecil? Bagaimana kalau menyangkut daftar pemilih seluruh Indonesia? Selanjutnya untuk Lembata sendiri, apa artinya? Ada kekawatiran yang tersemat. Dalam pembuatan daftar pemilih saja sudah muncul anomali, bagaimana dengan penghitungan hasil pemilukada? Apakah akan terjamin kebenaran dan kejujurannya?

Ini tentu saja tidak hanya menyangkut pemilu atau pemilukada yang lalu melainkan terlebih untuk pemilukada mendatang. Jangan-jangan anomali itu berlatar belakang rekayasa. Rakyat hendaknya mengamati dengan teliti dan cermat. Ini harus menjadi tanda-tanda zaman yang perlu mendapat perhatian, supaya tidak terjadi anomali-anomali ciptaan siluman yang memutar-balikan hasil pemilukada Lembata nantinya. Orang Lembata itu mengaku beragama semua. Para pemuka agama juga harus tampil tidak hanya sebagai nabi yang meramalkan dan menjaga masa depan Lembata, melainkan juga sebagai gembala yang menggiring domba-dombanya di jalan yang benar, dengan cara yang baik, berdampingan dengan aparat negara yang punya tugas menegakkan konstitusi, dan didukung seluruh rakyat Lembata.

Berita menarik lainnya adalah bahwa Bupati Lembata sudah mengingatkan agar dalam kegiatan pemilukada nanti jangan sampai terjadi fitnah-fitnahan, atau fitnah terhadap bupati. Fitnah memang tidak boleh. Orang punya hak untuk tidak difitnah. Tetapi orang juga punya kewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Batas antara hak dan kewajiban dalam hal ini sebenarnya merupakan wilayah karet yang bisa ditarik ulur sesuai penafsiran masing-masing pihak. Orang yang mudah tersinggung akan mudah menafsirkan pengungkapan kebenaran sebagai fitnah. Orang yang ingin memfitnah mudah berlindung dibalik kewajiban untuk mengungkapkan kebenaran. Maka prinsip yang paling wajar adalah biarkan kebenaran yang berbicara, dan hukum dan konstitusi yang mengatur. Kalau merasa diperlakukan tidak adil silahkan menempuh jalur hukum. Ini anomali ketiga.

Mungkin ada anomali-anomali lain yang lolos dari pengamatan saya, tetapi sepertinya anomali-anomali lain akan muncul dengan semakin dekatnya pemilukada. Semuanya perlu mendapat perhatian agar kita terhindar dari membangun dan membudayakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dicapkan pada politik. Politik itu tidak kotor. Politik itu mulia karena itu Aristoteles dan kemudian Hanna Arendt menempatkannya pada kelas tindakan manusia yang paling luhur yakni action. Dua gugus tindakan manusia lainnya yang lebih dan paling rendah adalah labor (kerja) yang merupakan tindakan manusia yang bisa juga dilakukan oleh kerbau. Pada tingkat ini orang bisa dipaksa untuk bekerja. Ini bukan politik. Yang kedua adalah work (karya). Ini adalah tindakan manusia yang memproduksi sesuatu. Produk adalah hasil karya. Pada tingkat ini orang bisa melakukannya tanpa kebebasan alias bisa dipaksa. Tukang bisa dipaksa untuk membuat lemari yang bagus. Tetapi politik termasuk tindakan manusia paling tinggi (action) yang harus dilakukan dalam kebersamaan. Di sini ada diskusi, ada debat, ada tukar menukar pendapat, ada konsensus, ada deal. Action harus dilakukan secara bebas, tanpa paksaan. Maka pemaksaan, penipuan, rekayasa, itu bukan politik. Rekayasa bisa dilakukan dalam dunia labor atau work.

Bahwa kita bisa dikelabui orang untuk mengeruk hasil tambang kita itu sebenarnya tidak lebih buruk daripada ketika kita ditipu orang untuk mendapatkan suara kita. Ketika singa memaksa pelanduk menjadi mangsanya, terjadilah labor. Pedagang ayam memaksa ayam menjadi daging terjadilah labor, atau work. Ketika orang berpolitik, terjadilah action. Maka ketika politisi merekayasa suara rakyat, sebenarnya mereka juga telah mereduksi rakyat menjadi sekedar produk. Di sini politik yang adalah action diturunkan derajatnya menjadi work bahkan labor. Itu sudah disadari Aristoteles abad kelima sebelum Masehi. Semoga Aristoteles menyadarkan kita juga reu. Salam.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s