LEMBATA: TUA DAN (ATAU) MUDA?

Pilkada di Lembata terus menerus dijadikan ajang perebutan posisi kepala daerah antara kelompok tua dan muda. Yang tua mau maju, dan yang muda merasa terganjal. Orang tua merasa lebih berpengalaman dan merasa bertanggung jawab untuk menggoalkan programnya yang diyakini bisa mensejahterakan sesama orang Lembata. Yang muda menuding orang tua “tak tau diri” bahkan ada yang mau supaya diberlakukan aturan batas usia KPK untuk bupati Lembata. Pertanyaan lagi, kenapa mesti peraturan KPK yang dipakai? Mengapa bukan persyaratan usia untuk presiden? Kenapa bukan usia pemain sepak bola? Kita lalu menjadi selektif, dan tidak lagi argumentatif. Kita hanya mau menerapkan aturan yang sesuai dengan kepentingan kita, atau yang cocok dengan kita. Seolah-olah yang cocok dengan kita itu yang benar, yang tidak cocok itu keliru dan sesat. Lalu siapa yang boleh mencalonkan diri, tua atau muda? Ataukah tua dan muda?

Ketika saudara ayah saya almarhum Yosef Demong Amuntoda, mulai sakit-sakitan, karena usia tua, dia berucap pasrah menanggapi saat-saat akhir hidup yang dirasakannya tak lama lagi akan tiba: “Laeq te pewang uliq ma anaq utun puaq seqe,” yang terjemahan harafiahnya menjadi, “biar kita lowongkan tempat supaya anak-anak hidup mereka punya”. Hidup kita dibatasi oleh umur. Bayangkan kalau tidak ada batas umur, dan tidak ada kematian, bagaimana dengan hidup dan bumi kita. Karena itu perlu ada seleksi alamiah dalam hidup. Tetapi seleksi alamiah ini bukannya membuat kita pasif menerima nasib melainkan mendorong kita untuk melakukan tindakan dalam hidup kita, supaya menjadi berarti. Dengan kata lain kematian membuat hidup kita menjadi berarti. Maka kita pun tidak akan menyesal karena pernah hidup, lalu pada saatnya kita pun pasrah mengestafetkan kehidupan pada generasi berikut, dan dengan lapang dada menerima kematian.

Dorongan tindakan ini ada pada setiap manusia dan tidak dibatasi oleh usia. Termasuk di sini tindakan politik. Politik adalah transaksi argumentasi. Maka yang penting dalam politik adalah argumentasi, program kerja, rekam jejak, prestasi, dan adanya kepastian moral untuk menjadi politikus yang baik. Tujuan kita bukan sekadar perubahan. Maka jangan sekadar bicara perubahan. Apa yang sudah dilakukan untuk perubahan? Apa yang akan dilakukan untuk perubahan? Program dan langkahnya pun harus jelas, kalau perlu dengan janji, “selama jangka waktu tertentu tidak sukses, saya mundur”. Itu lebih penting. Jangan hanya bicara bungkusnya, penampilannya, pesonanya, bicarakanlah isinya.

Kesan saya —mudah-mudahan keliru — orang muda kita cengeng. Mereka hanya mengeluarkan himbaun agar orang tua tahu diri, dan mulai meniupkan argumentasi yang deterministik bahwa perubahan itu identik dengan orang muda. Burung-burung terbang tinggi, meskipun ada hukum gravitasi. Itu kata Karl Polanyi. Artinya manusia itu tidak deterministik. Yang tua bisa melakukan perubahan, dan yang muda pun bisa saja mempertahankan statusquo. Bukankah pembaharuan di Gereja Katolik justru dilakukan oleh seorang Paus yang sudah uzur: Yohanes XXIII? Ironisnya Paus ini dipilih sekadar mengisi lowongan. Konon kabarnya waktu itu tidak ada calon yang menonjol, maka dipilihlah Paus Yohannes XXIII yang sudah tua dan karena itu tidak lama lagi akan meninggal. Perhitungannya adalah bahwa pada saat Paus yang sudah tua ini meninggal nantinya, pasti sudah muncul calon yang dianggap lebih energik. Tetapi, sekali lagi ironisnya, Paus yang sudah uzur ini, justru melakukan pembaharuan besar dalam sejarah Gereja Katolik yakni Konsili Vatikan II. Paus uzur ini justru telah menyelamatkan Gereja dari hempasan gelombang zaman.

Karena itu “pembaharuan” yes, “tua dan muda” yes, tetapi “tua atau muda” no. Biarkan semua turun ke gelanggang secara leluasa. Biarkan semua konsep dan ide dibeberkan dan mengalir secara terbuka. Biarkan mereka mengerahkan seluruh potensi dan kiat-kiat mereka secara bermartabat. Biarkan argumentasi mereka diuji. Biarkan rakyat yang memilih. Malahan kehadiran orang tua akan menjadi mitra-tanding yang baik bagi orang muda untuk semakin matang, terlatih, ulet, dan teruji dalam berargumentasi dan berpolitik.

Jangan habiskan waktu dan energi untuk bicara soal tua dan muda. Masih ada masalah lain yang lebih urgen untuk pilkada, misalnya bagaimana mengawal pilkada ini agar berjalan sesuai dengan aturan dan hati nurani rakyat. Bagaimana mempersiapkan rakyat untuk memilih secara bertanggung jawab. Bagaimana membebaskan pilkada dari kecurangan, politik uang, primordialisme pada semua bidang, adu domba, dan sebagainya. Dan yang sangat diharapkan adalah lahirnya program-program dan konsep-konsep bermutu yang bisa ditawarkan dan juga bisa diakomodasi dan dimanfaatkan, bagi dan oleh, bupati periode hasil pemilukada Lembata 2011.

Selamat berjuang tua dan muda. Bertarunglah secara bermartabat.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s