PILKADA LEMBATA: BALON ATAU BALO

Makin mendekati 2011 balon (bakal calon) bupati dan wakil bupati Lembata semakin bermunculan. Baliho dan spanduk sudah mulai  semarak di bumi Lembata. Nama-nama lama sibuk mencari pasangan dan pintu masuk, nama-nama baru tak mau ketinggalan muncul menjegal untuk menyatakan eksistensinya. Bagaimana menafsirkan fakta ini, terserah kepada setiap orang. Fakta itu fakta, dan baru menjadi nilai kalau ditafsirkan. Ada yang menafsirkannya sebagai maraknya demokrasi di Lembata. Ada lagi yang menafsirkannya sebagai tingginya rasa percaya diri orang Lembata yang siap bersaing. Ada lagi yang mengagumi dinamika dan pergumulan yang berkembang di Lembata, sebagai perlu untuk mendapatkan calon yang berbobot dan tersaring dari begitu banyak calon.

Namun ada juga yang mencibir dan bertanya sinis, mengapa begitu ada pilkada, banyak sekali balon bermunculan, dari Jakarta, dari Kupang, Ende, Makasar, Yogya,  dan dari Lembata sendiri? Semuanya tiba-tiba begitu bersemangat mau membangun Lembata. Apakah membangun Lembata hanya bisa dengan menjadi bupati?

Balon dan Balo

Saya menafsirkan fakta di atas dari budaya politik yang sudah cukup akrab di kuping kita. Ada yang menyebutnya politik dagang sapi, percaloan, papalele, pengkaplingan, sistem ijon dsb.

Saya melihat ada dua kelompok bakal calon yang tampil dan menyatakan ikut mencalonkan diri menjadi bupati. Pertama adalah kelompok Balon (bakal calon). Kelompok ini adalah mereka yang betul memperhitungkan kemampuan, posisinya, rekam jejak, peluang dan tingkat probabilitas dengan pertimbangan yang matang untuk menjadi balon. Yang kedua saya sebut Balo (bakal calo). Kelompok ini sebenarnya tidak menargetkan untuk lolos menjadi calon bupati. Mereka hanya meramaikan pilkada sebagai oportunis, memanfaatkan momen ini entah untuk mendapatkan popularitas atau menggerakkan aktivitas percaloan politik. Artinya sebagai balo, misalnya, saya akan mengumumkan diri untuk maju menjadi calon bupati. Dengan melakukan itu saya mempromulgasikan bahwa saya punya pendukung. Kalau saya tidak lolos seleksi di KPU, maka saya akan menawarkan pendukung saya kepada balon yang lolos, tentu saja bukan sekadar basa basi.

Mereka tidak bedanya dengan calo penumpang di tempat-tempat pengeteman kendaraan umum di Jakarta. Jangan heran bila saat Anda menahan taksi di pinggir jalan, tiba-tiba nongol calo yang minta uang jasa dari sopir taksi. Dia mengklaim bahwa penumpang itu adalah milik dia. Begitu juga di tempat bis atau mikrolet mengetem, biasanya ada calo penumpang yang menunggu di situ, memanggil-manggil penumpang. Setelah kendaraan penuh dan berangkat, si calo pun akan mendapatkan jatahnya, dengan mengklaim bahwa penumpang itu milik (komoditas) dia; pada hal penumpang yang menuju ke situ memang bukan karena dipanggil calo. Artinya tanpa calo pun kendaraan itu akan penuh.

Mereka juga bisa diibaratkan para papalele yang mulai mengumpulkan dan mengemas komoditasnya sebelum masuk pasar. Ironisnya lagi, komoditas itu sebenarnya bukan hasil produksi melainkan cuma dikemas. Bukankah oksigen di udara yang dihirup bebas akan menjadi komoditas kalau dikemas dalam tabung oksigen? Bukankah air pegunungan yang bisa diambil siapa saja, akan menjadi komoditas kalau dikemas dalam botol?

Rakyat Lembata, bukan hasil produksi, tetapi akan menjadi komoditi kalau dikemas dalam paket pendukung, atau dikapling dalam primordialisme. Suara rakyat Lembata adalah suara manusia, suara nurani, yang tidak pantas dikapling dan dijadikan komoditi.

Keliru

Harapan saya adalah bahwa penafsiran saya ini keliru. Mudah-mudahan tidak ada yang tampil sebagai balo. Jika tidak maka jabatan bupati Lembata akan menjadi jabatan berbiaya tinggi, tetapi tidak bernilai. Dan para elit yang berperan sebagai balo justru ikut berperan dalam hal ini. Rententan efek domino akan berlaku. Calon yang akan menang adalah calon yang menghamburkan banyak duit. Dan selanjutnya jabatan bupati akan menjadi jabatan balik modal. Dan rakyat Lembata akan menjadi rongsokan yang hanya menunggu untuk didaur ulang, dikapling kembali dan dijadikan komoditi pada pilkada berikutnya.

Benyamin Molan Amuntoda

4 thoughts on “PILKADA LEMBATA: BALON ATAU BALO

  1. pemerintah lembata masih mudah/ masih belum pandai mengatur diri sehingga.. masih banyak belajar tentang politik// siapa pun bupati yang kalian pilih sama saja orang jawa bilang podo wae… tak akan merubah lembatah itu menjadi lebih baik// dari beberpa periode ini lembata masih tetap korup terbesar di negara ini// selamat memilih pemimpin korup yang baru … salam dari batam

    • Jangan korupsi, yang setali tiga uang dengan jangan mencuri, sebenarnya merupakan nilai dasar minimalis yang diketahui semua orang tanpa harus belajar di sekolah dan juga di dunia politik. Tetapi karena korupsi itu tidak sesederhana maling jemuran, maka selain punya integritas moral, seorang bupati harus memiliki pengetahuan yang memadai di dunia politik dan birokrasi agar tidak mudah dipecundangi. Wassalam.

    • Sudah diposting jou. Sorry, saya tidak berani tulis selama ini karena berita dari Lembata juga cukup simpang, siur dan hanya didapatkan lewat sms yang sumbernya tidak jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s