LEMBATA: TOLAK TAMBANG, LALU APA?

Saat gencarnya pemerintah daerah kabupaten Lembata meniupkan program tambang sebagai upaya mempercepat peningkatan pendapatan daerah, kita rakyat Lembata ramai-ramai menolak. Kita bahkan berjuang mati-matian dengan segala kemampuan agar tambang harus ditolak. Seluruh kekuatan elemen masyarakat mulai dari yang modern sampai tradisional, yang sekuler sampai religius, dikerahkan untuk seia sekata, “tolak”. Tetapi setelah masalah tambang mulai sepi, rakyat tampaknya juga mulai ikut menyepi. Ada semacam rasa puas lantaran telah merasa berhasil menggagalkan satu program yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Tetapi apakah itu sungguh suatu keberhasilan? Mungkin lebih tepat disebut sebagai keberhasilan-antara, tetapi bukan keberhasilan-final.

Memang ada keberhasilan dalam mencegah, menggagalkan, tetapi jelas itu bukan tujuan utama. Tujuan yang sesungguhnya bukan sekadar menolak tambang melainkan agar Lembata dibangun dengan cara lain demi mensejahterakan rakyat Lembata. Rakyat sepertinya terkondisi untuk berjuang keras dengan mengatakan sesuatu secara negatif dengan rumusan “jangan”, daripada mengatakan secara positif dengan rumusan “lakukan”. Kita seolah-olah hanya bisa mengatakan “jangan ini jangan itu”, tetapi tidak bisa mengatakan “lakukan ini, lakukan itu”. Demo untuk mengatakan jangan, tampaknya sangat gencar, tetapi mengapa tidak ada demo yang sama gencarnya untuk menuntut pemerintah melakukan ini atau itu? Jangan-jangan kita hanya bisa melarang, yang artinya membangun sikap diam pasif adem ayem dan tidak beraksi, tetapi tidak pernah bisa membolehkan untuk mendukung sikap aktif, kreatif, dinamis, dan membangun.

Mungkin sekarang rakyat hanya menunggu datangnya pembaharuan yang mudah-mudahan beriring dengan rapatnya pilkada Lembata 2011. Seolah-olah ada harapan bahwa pilkada akan datang dengan perubahan. Tetapi apa ya? Yang jelas ada pergantian, tetapi apakah betul ada perubahan? Kita berharap. Tetapi sepertinya ada rasa pesimis yang menggelayut terhadap datangnya angin perubahan. Pembaharuan, perubahan, nampaknya masih merupakan barang luks, yang sulit untuk digapai di Lembata. Perubahan nampaknya masih lebih merupakan slogan yang digaungkan untuk mengusung tokoh daripada mengusung program. Banyak tokoh vokal yang bermental bunglon. Saat bersama rakyat membunglon jadi rakyat yang meneriakkan perubahan untuk mendapatkan dukungan, tetapi setelah jadi pejabat membunglon jadi birokrat yang tanam kaki membangun statusquo.

Perubahan dan pembaharuan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Selama rakyat yang memilih pemimpin juga tidak berubah, sulit bagi kita untuk mengharapkan datangnya iklim perubahan Kalau politik uang masih berlaku sulit ada pembaharuan. Kalau politik primordialisme masih kental, sulit mengharapkan sesuatu yang baru. Selama sumber daya manusia kita masih terbatas, sulit untuk mendapatkan pembaharuan yang drastis. Maka yang perlu kita mainkan kalau ingin membangun lembata, bukan bergerak pada tataran figur, melainkan pada tataran program. Biarkan rakyat yang menentukan siapa yang jadi pemimpin. Biarkan rakyat mulai belajar juga bahwa jika salah pilih, rakyat jugalah yang menanggung risikonya. Yang perlu lebih banyak mendapatkan perhatian adalah memberikan sumbangan pemikiran menyangkut program apa yang bisa dibuat, entah siapa pun yang jadi bupatinya. Lalu perjuangkan itu dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga seperti saat berjuang menolak tambang. Jangan hanya menolaknya yang kencang, melainkan mendukung sebuah program pun harus sama kencangnya. Saya ingin mulai dengan pariwisata dan mudah-mudahan ada yang mau menyumbangkan pemikiran-pemikiran lagi di bidang ini atau bidang-bidang lainnya.

Pariwisata

Seorang Lembata menulis di facebook “Andai LEMBATA..dijadikan tempat wisata……!!!.. bisa jadi BALI bagian timur…..tapi sayang…….teh ada (tidak ada) yg mikir kesana……????? mereka hanya jadikan kabupaten untuk menjadi penguasa joh (saja)…kasihan tanah airku….”

Saya kira sebenarnya banyak yang sudah mikir ke sana. Dinas pariwisata Lembata paling kurang sudah pasti memikirkannya. Tetapi sejauh pengamatan kami, yang mudah-mudahan keliru, yang dipikirkan itu masih terbatas pada program-program konvensional yang dibangun di sekitar budaya dan kesenian daerah. Padahal kalau mau dikaji secara serius, program ini harus menjadi program seluruh rakyat Lembata; program yang dikaji secara sungguh-sungguh, dengan langkah dan rencana yang matang dan terpadu, yang dikonsolidasikan dan disosialisasikan. Pariwisata tidak bisa dibangun secara fragmentaris, terpecah-pecah, lepas dari koordinasi dengan program-program lain.

Obyek dan Subyek Wisata

Obyek wisata di Lembata sebenarnya tidak kalah menarik dibanding obyek wisata di tempat lain. Pantainya bersih, sangat indah, dengan pasir yang benar-benar putih. Airnya bening dan biru, bukan coklat dan berselimutkan sampah. Pantai utara Lembata indah dan menarik bagi mereka yang menginginkan laut yang ramah, sementara pantai selatan sangat atraktif bagi mereka yang senang bermain dan menantang ombak. Teluk Hadakewa punya potensi besar untuk ditata menjadi semacam danau dan tempat rekreasi air yang variatif dan menarik. Penangkapan ikan paus di Lamalera yang sudah begitu terkenal, pantas untuk lebih dipromosikan. Sumber panas bumi di Atadei bisa dikembangkan; dan yang tak kalah menarik adalah atraksi-atraksi ritual, adat, dan seni budaya yang bisa dikemas dengan baik untuk konsumsi dunia pariwisata, dan masih banyak lagi.

Tetapi obyek wisata saja tidak cukup untuk mendukung sebuah program pariwisata. Pariwisata selalu digandeng dengan hospitality, keramahan-tamahan, keterbukaan, kesantunan, dan kesediaan untuk menjamu. Maka pariwisata bukan hanya masalah obyek wisata melainkan juga masalah subyek. Artinya ketika berbicara tentang pariwisata, kita tidak hanya berbicara dan berkutat dengan obyek wisata, dalam arti apa yang patut kita jual, melainkan kita juga berbicara tentang bagaimana mental hospitality kita. Obyek itu menyangkut sesuatu yang dijual, sedangkan subyek wisata menyangkut dunia dan kemasannya. Keamanan, kenyamanan, transportasi, akomodasi, semuanya tidak bisa lepas dari pariwisata. Kotler dalam Marketing for Hospitality and Tourism menulis: “Dua industri penting yang mencakup kegiatan yang kita sebut turisme adalah industri perhotelan dan perjalanan.” Tampaknya kita masih jauh dari konsep ini. Tetapi tidak berarti tidak bisa dimulai.

Semua kegiatan pembangunan termasuk pembangunan pariwisata tidak bisa lepas dari landasan prasarana dan infrastruktur. Membangun hotel harus ditunjang dengan transportasi yang baik dan akomodasi yang nyaman. Wisatawan itu ingin mendapatkan kenyamanan. Yang dijual dalam usaha pariwisata adalah kenyamanan. Para turis ingin mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi mereka sebenarnya juga ingin tetap menikmati situasi mereka, di tempat yang baru. Ibaratnya mereka ingin pergi membawa serta rumah mereka. Mereka ingin menikmati pengalaman baru, tetapi dengan kenyamanan yang sama, alias tidak ingin mengorbankan kenyamanan. Memang ada juga yang mau mengorbankan kenyamanan untuk mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi turis tipe ini tidak banyak dan lebih berciri petualang. Para turis avonturir semacam ini akan menemukan jalannya sendiri. Yang perlu kita perhatikan adalah wisatawan yang menginginkan kenyamanan. Kita buat mereka berlama-lama tinggal di tempat kita. Makin lama mereka tinggal makin baik. Dengan kata lain kita harus mampu membuat mereka merasa krasan atau rasa at home.

Membangun pariwisata adalah membangun rumah bagi para turis, bukan sekadar menjual obyek wisata. Maka seperti halnya perusahaan jasa lainnya yang berorientasi pada pelanggan, usaha pariwisata adalah usaha yang juga harus berorientasi pada pelanggan, yang dalam hal ini adalah wisatawan, dan bukan pada obyek wisata. Tujuan kita tidak sekadar membangun obyek wisata yang bagus melainkan supaya mendatangkan kenyamanan bagi para wisatawan untuk datang dan tinggal. Obyek wisata yang bagus harus ditunjang dengan rasa nyaman untuk menikmatinya. Jika tidak, promosi obyek pariwisata justru akan menjadi bumerang. Pengalaman yang jelek yang dialami para turis ketika berkunjung, justru akan menjadi promosi hitam bagi obyek wisata kita. Kabar buruk tentang pengalaman buruk itu akan disampaikan kepada para turis lain, lalu para turis bukannya mau datang tetapi malah enggan datang. Riset pemasaran yang sudah sangat dikenal mengatakan bahwa bahwa kabar buruk itu jauh lebih mudah beredar daripada kabar baik.

Dengan demikian, promosi adalah bagian yang penting dalam pariwisata, tetapi harus dilakukan dengan baik. Jangan sampai promosi tidak sesuai dengan apa yang dipromosikan. Bahkan mutu dan pelayanan jasa yang baik akan dengan sendirinya berfungsi sebagai promosi. Kesan yang baik akan menjadi bagian dari promosi. Cerita para pengunjung yang puas akan menjadi bagian promosi tersendiri yang tidak kalah gencar dibanding iklan.

Infrastruktur dan Suprastruktur

Seperti sudah dikatakan, kegiatan pariwisata harus didukung oleh obyek wisata yang baik dalam hal ini didukung oleh infrastruktur dan suprastruktur yang baik. Dengan infrastruktur kita membangun transportasi dan sarana-sarana yang menjadi landasan kegiatan pariwisata, dengan suprastruktur kita membangun manusianya, agar menjadi subyek pariwisata yang bisa menciptakan iklim dan kondisi yang sehat bagi pariwisata di Lembata. Maka membangun prasarana yang baik dan bermutu itu harus dituntut oleh rakyat, kalau perlu dengan demo, karena ini menjadi landasaan bagi seluruh kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kontrol terhadap proyek-proyek pemerintah harus dilakukan oleh rakyat dengan serius dan terkoordinasi seperti ketika menolak tambang. Inilah pelajaran penting dari tolak tambang. Dengan kekuatan dan keteguhan yang sama kita juga menuntut agar pemerintah benar-benar bekerja dan bukan sekadar memanfaatkan kedudukan dan kekuasaannya.

Bagaimana memulai? Pariwisata harus dimulai dengan pariwisata domestik. Pantai yang bagus harus dijadikan tempat wisata, dibangun secara serius, supaya juga menjadi obyek kunjungan wisata oleh wisatawan kita sendiri. Jangan hanya menunggu wisatawan dari luar. Katakanlah, kita menciptakan, mempromosikan, dan memperkenalkan tempat wisata itu, supaya pelan-pelan berkembang secara terkonsentrasi. Untuk itu harus juga dibangun mental wisata pada masyarakat kita. Wisata harus diciptakan menjadi suatu kebutuhan. Di Kedang misalnya ada kebiasaan pergi bertandak (sapang namang). Mengapa tidak dibangun semacam namang center, yang dibuka setiap bulan sekali di mana orang bisa datang dan bermain tandak di sana, hamang sole atau oha dengan pelantun-pelantun oha alamiah yang sudah mulai pupus karena tidak mendapat tempat dan peluang untuk mengembangkan kemampuannya lagi. Pusat-pusat pariwisata ini harus dikembangkan terus menerus dan mudah-mudahan tidak hanya menjadi konsumsi wisatawan domestik melainkan juga pada gilirannya mendapatkan perhatian investor, dan suatu saat mendapatkan peluang untuk dibangun dengan apik dan dikonsumsi wisatawan manca negara. Singkat kata, semangat tolak tambang harus dialihkan menjadi semangat membangun pariwisata. Seluruh rakyat harus ikut serta. Semoga.

Benyamin Molan Amuntoda

5 thoughts on “LEMBATA: TOLAK TAMBANG, LALU APA?

  1. Lembataku,,kaulah segala-galanya bagiku..kini engkau telah dilanda ketidak adilan PEMDA Lembata untuk mengilegalkan hasil bumi pertiwi yang sangat saya sayangi khususnya kedang,,saya sebagai salah satu putri asal kedang yg dengan bersikeras mengecam kepada pemda lembata agar segerah meniadakan perda yg berisi tntang tata ruang dan sbganya,dan membangun lembata ke depanya bukan semata-mata dari tembang,tapi kita masih punya banyk SDA yg melimpah dan bgaman kita mengelolahnya,kenapa harus tambang????? lmbat sudah 10 thn otonom tapi syng,tidak ada perubahan di lembata,,apakah membangun lembta hanya nerlaku bagi kalangan tertentu??? dan jangan sampai tambang yg sekarang ini pemda dgn bersikeras untuk melakukan tambang tersebut hanya untuk menutup utang-utang yg sudah segunung??? oleh karena itu,saya selaku mewakili para putri kedand dgn bersikeras”tolak tambang harga mati”,tanah kami kedang adalah salah satu kebutuhan produktif dimana kami bisa sekolah,,kalau tambang apakah pemda bisa membiayai kami??? saya yakin tidak. dan sampai kapanpun kedang ttp pada yg utuh,saat ini,dan sampai kapan pun.

    • Terima kasih srikandi Lembata asal Kedang. Perlu saya klarifikasi posisi saya:

      1. Untuk melihat posisi saya terhadap Lembata, simak seluruh tulisan saya tentang Lembata di blog ini. Eqi di Edang u ino.


      2. Ketika tulisan ini diturunkan, Lembata sedang sepi dari kegiatan tolak tambang. Saya sudah mengandaikan program tambang itu isapan jempol. Pemda Lembata sudah seharusnya melupakannya. Sudah semakin jelas ini program yang vulgar. Saya kira DPRD cukup akomodatif terhadap aspirasi tolak tambang. Tetapi tolak tambang saja tidak cukup. Pemda perlu disuguhi alternatif lain yang tidak vulgar, biar mereka melepaskan kupingnya dari suara gemerencing emas. Maka saya mulai dengan pariwisata yang paling banyak diusulkan orang. Silahkan Anda juga boleh mengusulkan program lain.

      3. Sebentar lagi akan ada pemilukada. Calon bupati yang mendukung tambang tak bakal terpilih. Selamat berjuang untuk Lembata.

    • Hahaha. . . , berlebihan Jon. Ini cuma uneg-uneg saya karena gregetan melihat Lembata yang mungil itu terus saja bergejolak. Menulis untuk Opini Pos Kupang? Saya kira ada banyak penulis dan calon penulis opini yang bagus-bagus di NTT. Sayangnya kolom untuk Lembata terlalu sedikit. Terima kasih atas komentarnya. Salamku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s