BEBASKAN PARA PEMBEBAS

Pembebas adalah mereka yang berjuang untuk membebaskan manusia dari berbagai macam keterbelengguan. Entah keterbelengguan yang bersifat eksternal (dari luar diri) atau internal (dari dalam diri). Lepas dari diskusi tentang apakah betul ada keterbelengguan eksternal (karena ada anggapan semua keterbelengguan itu bersifat internal), para pembebas ini tampil dengan ajaran-ajaran yang sarat dengan keyakinan diri dan penuh wibawa. Sikap mereka teguh, kokoh, tak pernah menyerah pada kekuatan apa pun yang menghadang. Sasaran dan pandangan mereka jelas terarah pada kebenaran. Bahkan hidup dan nyawa mereka jadi taruhannya.

Kita kenal tokoh manusia model ini, misalnya, dalam diri Sokrates. Sokrates yang tampil dengan pertanyaan-pertanyaan kritis telah memberikan pencerahan kepada masyarakat dan kaum muda Yunani pada zamannya. Pertanyaan-pertanyaan Sokrates telah membebaskan rakyat Yunani dari kebodohan dan kebutaan nurani, intelektual, dan politis. Tindakan yang telah membuat para penguasa di zamannya merasa gerah. Tidak heran dia akhirnya dijatuhi hukuman mati karena didakwa telah menyebarkan ajaran sesat bagi kaum muda Yunani. Walaupun sebenarnya bisa dibebaskan, toh Sokrates siap menerima hukuman dengan meminum cawan beracun untuk menunjukkan bahwa kebenaran tak bisa dipasung oleh ancaman penguasa samber nyawa. Dengan pertanyaan-pertanyaannya yang cerdas menukik dia mau berusaha menggali dan menemukan kebenaran sejati. Plato, murid setia yang begitu mengagumi sikap sang guru, telah mengabadikan ajaran-ajaran gurunya dalam tulisan-tulisannya yang sangat monumental.

Tapi Sokrates mungkin bernasib lebih baik. Karena ajaran-ajaran Sokrates seperti universalitas dan kemutlakan kebenaran, intelektualisme etis, tetap bisa dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Ajarannya tidak diekslusivikasikan dalam kelompok tertentu.. Dengan ajarannya (yang oleh Aristoteles dinamai Intelektualisme Etis) bahwa tidak ada kesalahan yang dilakukan dengan sengaja, dia mengajarkan bagaimana kita harus bersikap terhadap orang yang salah. Orang yang salah adalah orang yang tidak tahu. Karena itu orang yang salah itu melakukan kesalahannya secara tidak sengaja.

Semua orang mempunyai tujuan akhir yakni mencapai eudaimonia (keadaan bahagia). Orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang tidak mengenal atau tidak mengidentifikasi eudaimonia atau kebahagiaan sejati itu secara benar. Bila seseorang mencuri pasti dia ingin mengejar eudaimonia dengan jalan mencuri. Ternyata kemudian tindakan mencuri malah tidak membawa dia kepada eudaimonia. Berarti dia keliru. Sedangkan orang yang bertindak benar adalah orang yang sudah tahu tentang kebahagiaan. Orang yang bertindak baik adalah orang yang tahu tentang yang baik. Dan orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang tidak tahu tentang yang baik. Kalau orang bersalah itu melakukan tindakan dalam ketidak-tahuannya, maka orang bersalah itu bertindak secara tidak sengaja. Maka tindakan yang tepat untuk dilakukan terhadap orang yang berbuat salah adalah mengajar mereka. Orang bersalah adalah orang yang tidak tahu maka harus diberitahu, atau diajarkan, sampai dia tahu. Kiranya pendidikan bagi Sokrates adalah memberitahu atau mengajar supaya orang menjadi tahu. Dan pengetahuan itu dibuktikan saat dia bertindak benar. (Konsekwensinya tentu saja orang yang telah menjatuhi hukuman mati bagi Sokrates adalah orang-orang yang tidak tahu tentang apa yang mereka lakukan alias tidak sengaja).

Di sini Sokrates menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pembebasan, bukan pemaksaan kehendak. Orang yang melakukan kebenaran adalah orang yang tahu tentang kebenaran, bukan dipaksa untuk menerima kebenaran.

Tokoh-tokoh besar lainnya, mungkin agak kurang beruntung dibanding Sokrates. Walaupun mereka punya banyak pengikut, dan ajaran mereka tersebar luas dan sangat berpengaruh, namun ajaran-ajaran tersebut kemudian menjadi eksklusif dan hanya dikonsumsi oleh kelompok tertentu, bahkan ada kecenderungan dimonopoli.

Yesus, sang pembebas dari Nazareth bisa kita tampilkan sebagai tokoh pembebas lainnya yang justru terkungkung. Dia secara radikal menentang kekerasan dan kemunafikan. Kasihilah musuhmu dan berbuat baiklah kepada mereka yang menganiaya kamu. Cinta itu jauh lebih kuat untuk mengubah, dan bukannya kekerasan. Memaafkan dan mengampuni orang justru tidak hanya membebaskan orang yang dimaafkan tetapi juga menentramkan orang yang memberi maaf. Tapi kelembutan pria dari Nazareth ini malah telah terpenjara hanya dalam lingkungan Kristen dan dicap berbau Kristen. Pada hal ajaran tokoh besar yang hanya bekerja selama tiga tahun itu, tidak hanya relevan untuk kelompok tertentu saja yakni kelompok Kristen atau Gereja melainkan untuk semua umat manusia. Sebenarnya Yesus itu juga bukan orang Kristen. Tetapi kenyataannya sekarang ajaran Yesus sang pembebas itu terkungkung secara eksklusif dalam kelompok Kristen. Bahkan penolakan terhadap agama Kristen telah membawa penolakan juga terhadap ajaran Yesus. Maka Gereja sebenarnya harus membebaskan sang pembebas ini agar kelembutannya dirasakan juga oleh dunia lain. Sikapnya yang anti kekerasan telah ikut memberi inspirasi kepada tokoh besar pejuang kemerdekaan tanpa kekerasan, Mahatma Gandhi, yang sebenarnya juga termasuk seorang tokoh pembebas, yang bernasib lebih baik daripada orang yang dikaguminya. Ajaran-ajaran Gandhi dapat dikonsumsi secara universal, tidak dikapling dan dimonopoli.

Tokoh lainnya adalah nabi Muhammad s.a.w. Tokoh yang membebaskan manusia dari segala macam berhala ini sebenarnya sangat relevan untuk semua manusia yang selalu memberhalakan dan mendewakan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Tanpa takut sang nabi telah mengecam kehidupan orang-orang kaya yang egois, individualis dan penuh dengan kemungkaran. Dia yakin manusia harus ditertibkan dengan aturan-aturan dari Allah dan diajak untuk solider. Kekayaan melimpah adalah karunia Allah yang harus digunakan secara merata juga oleh yang tidak atau belum memiliki. Tetapi ajaran nabi besar ini pun telah dikemas dalam kemasan eksklusivisme, dan dianggap hanya milik orang muslim. Akibatnya orang non-muslim tidak merasa perlu memahami ajarannya.

Hal serupa juga mulai menerpa ajaran-ajaran pembebasan lainnya. Ajaran-ajaran Budha yang mau membebaskan kita dari segala macam belenggu rasa takut yang mengerdilkan kita, mulai hanya dianggap milik orang Budha. Sejak diakui sebagai agama resmi di Indonesia mulai terasa bahwa ajaran Budha pun cenderung memasuki dunia eksklusivisme monopolistis ini. Sayang sekali.

Begitu juga ajaran-ajaran mengenai empat tujuan pokok manusia dalam agama Hindu yang menghantar manusia menuju pembebasan (kama, artha, dharma dan mokhsha) dianggap hanya milik orang-orang Hindu. Singkat kata eksklusivisme agama telah membatasi energi pembebasan yang dipancarkan oleh para pembebas ke atas umat manusia di seluruh dunia. Eksklusivisme telah membatasi kesejukan-kesejukkan yang menenteramkan yang mengalir dari ajaran para tokoh ini, hanya untuk konsumsi sendiri, dan menampilkan wajah yang kurang ramah dan sejuk terhadap kelompok lain. Timbul kesan seolah-olah pihak lain tidak boleh menikmatinya.

Lebih parah lagi kesejukan-kesejukan ini telah berubah menjadi pemaksaan kehendak dan sarat dengan berbagai kepentingan terselubung. Lalu kelompok agama menjadi tidak bedanya lagi dengan kelompok sekular lainnya. Hanya mementingkan kelompok yang harus diperjuangkan, kalau perlu dengan kekerasan menghancurkan kelompok lain. Lalu apa bedanya agama dengan kelompok suku, kelompok politik, kelompok kepentingan? Jangan-jangan agama hanyalah pembentukan kelompok sekular baru dengan wajah dan kemasan religius. Dan lebih bahaya lagi kalau kelompok sekular model ini dianggap selalu benar, karena sudah ada keyakinan baku bahwa semua yang dilakukan atas nama dan demi agama itu, seperti tidak ada salahnya dan harus didukung mati-matian dengan imbalan surga.

Sudah saatnya kita membebaskan para pembebas ini, dan tidak mengungkung dan memonopoli ajaran-ajaran mereka dalam kepentingan-kepentingan kelompok sendiri saja. Dengan demikian kita mengembalikan para pembebas ini pada posisinya yakni membebaskan umat manusia. Tujuan para pembebas ini adalah benar-benar membebaskan, bukan mengungkung dan mengikat manusia dalam pandangan yang sempit fanatisme kelompok. Dan selanjutnya mari kita membuka diri terhadap pembebasan yang mereka tawarkan, dan bukan menutup diri dan menganggap para pembebas yang tak pernah mengajarkan kejahatan ini, sebagai ancaman. Bebaskanlah para pembebas dan kita pun akan bebas.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s