MENDANDANI LEMBATA

Artikel Jumal Hauteas, di Kupang Pos.com, Sabtu, 28 Agustus, “Lembata Perlu Ditelanjangi”, menggelitik untuk dikomentari.

Aneh bahwa hari gini masih ada pejabat yang berbicara tanpa menunjukkan identitasnya. Alasan klasiknya selalu dipasang, “tidak etis.” Etis dalam arti apa? Etika atau etiket? Pejabat adalah orang yang diberi otoritas dan kebebasan lebih besar yang dibutuhkannya untuk menjalankan tanggung jawabnya, lantaran dalam setiap kebebasan selalu terkandung tanggung jawab. Makin besar kebebasan makin besar tanggung jawab. Ini prinsip etis dalam arti etika. Justru kewenangannya sebagai pejabat itu membuat dia mendapatkan otoritas dan kebebasan yang lebih besar untuk menjadi sumber berita dan dikutip. Maka dia harus tampil untuk mempertanggung jawabkan wewenang dan kebebasan yang dipercayakan kepadanya. Sikap hanya mau bebas tanpa mau bertanggung jawab itu yang justru tidak etis.

Kalau yang dimaksudkan di sini adalah etiket, kesantunan, tata krama, prosedur, maka harus dikatakan bahwa sang pejabat justru telah lebih mengutamakan etiket daripada etika. Padahal etika adalah prinsip orientasi dasar yang mengatur perilaku manusia, termasuk di sini konstitusi, hukum dan etiket atau tatakrama, sementara etiket hanyalah mengatur perilaku-perilaku lahiriah dalam dunia pergaulan dengan orang lain. Anggapan bahwa etiket lebih utama daripada etika itu ibarat anggapan bahwa mencuri itu tidak masalah asal dilakukan dengan tangan kanan. Padahal mencuri itu justru tidak etis (melanggar etika) walaupun dilakukan dengan cara yang etis (etiket).

Pejabat yang menyembunyikan identitas adalah pejabat yang hanya memanfaatkan kebebasan dan kewenangannya untuk berbicara sebagai pejabat, tetapi enggan bertanggung jawab seiring dengan kebebasan dan kewenangan yang didapatkannya sebagai pejabat juga. Jangan-jangan kata “tidak etis” sudah menjadi frase tameng yang dikemukakan untuk membentengi dan mengamankan posisi.

Lembata ditelanjangi

Artikel itu telah mengutip ucapan sang pejabat bahwa Lembata perlu ditelanjangi, supaya bisa didandani. Lembata tak perlu ditelanjangi. Lembata sudah ditelanjangi. Habis ditelanjangi malah nyaris digagahi. Maka analoginya sekarang bukannya Lembata menolak ditelanjangi melainkan menolak digagahi. Trauma dan kecemasan itu memang tak bisa dipungkiri. Penolakan Ranperda Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tambang, yang selain materinya juga memang belum matang, juga mensinyalkan tanda masih adanya trauma ini. Itu berarti belum adanya ketenangan hati untuk membahas Ranperda. Yang perlu dilakukan adalah mencairkan dulu ketakutan dan kecemasan itu, bahkan kalau itu cuma ketakutan bayangan sekalipun. Persoalannya adalah mengapa masih ada ketakutan bayangan itu?

Selain itu Lembata jangan direduksi hanya sebatas bumi, tanah, dan bangunan. Lembata adalah manusia. Membangun Lembata adalah membangun manusia Lembata. Bumi Lembata adalah dunia orang Lembata. Keamanan dan ketenangan hidup orang Lembata adalah taruhannya. Jaminan undang-undang, ketenangan orang Lembata, dan pertambangan atas kekayaan perut bumi Lembata, adalah tiga hal yang tidak selalu berjalan sesuai prinsip ceteris paribus, prinsip dinamika di satu pihak yang mengandaikan hal-hal lain yang tetap, dan tidak berubah. Berapa banyak undang-undang di negeri ini yang hanya dibuat tetapi tidak bisa dijalankan. Bukan rahasia lagi bahwa keadilaan di negeri ini hanya berpihak pada yang punya duit. Pecunia locuta causa finita. Duit bicara habis perkara. Bagaimana bisa ada kepastian moral bahwa aturan dan undang-undang itu bisa menjamin ketenangan masyarakat Lembata.

Maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah menciptakan ketenangan dan ketenteraman pada manusia Lembata. Ini justru tujuan utama pembangunan. Bahkan kalau Lembata tidak punya RPJP sekali pun, ini adalah RPJP dasarnya: Kesejahteraan dan keselamatan orang Lembata. Pembangunan yang tidak berujung pada mensejahterakan rakyat, adalah pembangunan yang tidak sesuai RPJP. Begitu lama kita terbius oleh pelembagaan nilai, seolah-olah nilai kesejahteraan setali tiga uang dengan pembangunan (Illich). Pada hal begitu banyak pembangunan yang justru menyengsarakan rakyat, yang dibangun di atas piramide korban. Pembangunan yang mengorbankan sebagian manusia dan merusak alam, adalah pembangunan semu yang bukannya membangun melainkan sebaliknya merobohkan. Rakyat Lembata harus kritis dalam menguji semua kegiatan pembangunan agar tidak melenceng dari RPJP dasar ini.

Swa-dandan Lembata

Pembangunan di Lembata harus sampai pada memampukan orang Lembata mendandani dirinya sendiri dari dalam agar menunjukkan inner beauty-nya. Lembata tak perlu dipaksa untuk bertumbuh dari luar. Dandanan yang dipoles dari luar adalah hasil rekayasa, yang tidak mendarah daging, tidak otentik, hanya tempelan, tidak asli, mudah pupus, dan luntur. Lembata perlu dibangun secara otentik, penuh kesabaran. Pertumbuhan yang sehat perlu waktu, ruang, keleluasaan, dan kebebasan. Pertumbuhan yang dipaksa adalah pertumbuhan karbitan, dan akan menghasilkan manusia-manusia katrolan.

Untuk mendandani dirinya Lembata memerlukan nutrisi, gizi, vitamin, dan mineral untuk bisa bertumbuh sehat dan ceriah. Gizi, vitamin, dan mineral itu tidak hanya didapatkan dari roti saja melainkan dari kultur, konteks, dan relasi sosial manusia yang tidak bisa didandani dari luar, melainkan harus bertumbuh dari dalam. Relasi sosial manusia hanya menjadi relasi yang cantik kalau yang ditampilkan adalah keotentikan dan bukan topeng-topeng kemunafikan yang tidak jelas mana muka mana belakangnya.

Kalau gizi dan vitamin ini terpenuhi Lembata akan cantik luar dalam. Konsep pendandanan macam apa pun tidak boleh melanggar konsep dasar ini. Jika tidak, Lembata bisa saja tampil cantik mempesona dari luar, berpoleskan gincu, maskara, dan eyeshadow, tetapi hatinya hancur, berantakan, berkeping-keping, karena kehilangan kesejatiannya. Lembata sare dan hara diqen yang disenandungkan pada himne Lembata itu bukan senandung pembangunannya, bukan senandung gedung perkantorannya, bukan senandung rumah sakitnya, bukan senandung sekolahnya, bukan senandung jalan rayanya, bukan senandung teknologinya, melainkan senandung manusianya, manusia Lembata dan dunianya. Jangan mengurai manusia Lembata dari ketenangan di dunianya, hanya dengan alasan mau didandani.

Benyamin M. Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s