KESESATAN BERARGUMENTASI

Lembata mulai menggeliat lagi. Isu dan wacana menyangkut pilkada 2011 di Lembata, mulai menghangatkan suasana. Kita berharap bahwa argumentasi-argumentasi yang dinamis akan bermunculan untuk melahirkan gagasan bermutu bagi Lembata ke depan, dan bukan sekadar ritual jegal menjegal yang destruktif, dengan cara-cara yang tak elok dan tidak bermartabat. Jangan sampai yang kita dapatkan nanti hanyalah pemimpin yang punya pangkat tetapi tidak punya kehormatan, punya jabatan tapi tidak punya martabat.

Mengutip Rocky Gerung, bahwa politik adalah transaksi argumentasi, maka politik yang sehat akan membuka arena yang leluasa bagi lalu-lintas berargumentasi. Transaksi argumentasi ini akan meningkatkan dinamika yang dibutuhkan untuk menghasilkan ide-ide, dan melahirkan konsep-konsep yang bermutu dan teruji. Berikut adalah beberapa kesesatan dalam berargumentasi yang perlu diwaspadai, agar tidak diam-diam membiaskan hasil pilkada di Lembata.

Argumentum ad hominem. Dalam transaksi argumentasi, mudah sekali orang meninggalkan arena persoalan dan masuk ke ranah “pribadi” (personam) atau orangnya (hominem). Sering kita dengar pernyataan-pernyataan seperti “dia anak ingusan tahu apa”. “Tahu apa” itu harus dibuktikan dengan argumentasi kualitatif, dan bukan dengan kemasan usia, atau kelebihan-kelebihan kuantitatif lainnya. Ada orang yang cuma dewasa dalam usia, tetapi tidak dewasa dalam sikap dan perilaku, termasuk perilaku berpikir dan berargumentasi. Yang senada dengan ini adalah praktik poisoning the well (meracuni sumur). Seseorang dijegal dari cabub atau cawabub hanya karena orang tua atau keluarganya pernah bermasalah. Pada hal persoalannya sudah selesai dan tidak lagi mempengaruhi prestasi kerjanya.

Argumentum ad auctoritatem. Argumen berdasarkan kepakaran. Apa yang dikatakan seorang pakar di bidangnya tidak diragukan lagi secara kritis. “Serahkan pada ahlinya,” secara tersamar merupakan model yang memanfaatkan kesesatan ini. Seolah-olah ahli tak akan melakukan kesalahan. Perlu diamati secara kritis, apakah kepakaran memang aplikatif atau hanya buat gagah-gagahan saja.

Argumentum ad crumemam. Ini merupakan kesesatan yang tidak asing lagi dalam dunia politik, terutama pemilu dan pilkada, yang akrab dikenal sebagai money politics. Kesesatan ini dianggap sangat merusak dunia politik sebagai transaksi argumentasi. Semua argumentasi akan rontok ketika kebenaran bisa dibayar dengan uang.

Argumentum ad verecundiam. Argumen ini mengandalkan tradisi dan keyakinan sebagai dasar argumentasinya. Seperti argumentum ad crumemam, kesesatan ini juga melumpuhkan prinsip politik sebagai transaksi argumentasi. Semua argumen akan kehilangan daya fungsinya dan lumpuh, kalau ada yang datang dengan ayat-ayat suci yang tabu untuk diperdebatkan.

Non causa pro causa. Dalam berargumentasi orang bisa menjadikan sesuatu yang bukan merupakan alasan, menjadi alasan. Salah satu modelnya adalah post hoc ergo propter hoc. Dua hal yang terjadi berurutan secara kronologis, mudah sekali dianggap sebagai ada hubungan sebab akibat. Yang terjadi lebih dahulu dianggap sebagai sebab, dan kejadian berikutnya dianggap sebagai akibatnya. Setelah SBY terpilih menjadi presiden, banyak bencana alam terjadi. Artinya bahwa bencana alam di Indonesia merupakan akibat dari terpilihnya SBY sebagai presiden. Kesimpulannya alam tidak merestui presiden yang baru. Pada hal kedua peristiwa itu hanya terjadi pada saat yang kebetulan hampir bersamaan, dan bukannya satu disebabkan oleh yang lain.

Argumentum ad populum. Ini juga adalah kesesatan khas pemilu dan pilkada. Janji-janji kampanye yang disampaikan dalam pidato-pidato kampanye lebih merupakan bagian dari retorika persuasif dan bukan argumentasi. Persuasi itu tidak bertujuan untuk menunjukkan kebenaran sebuah argumentasi, melainkan lebih bermaksud untuk mendapatkan persetujuan, keberpihakan, dan simpati. Persuasi bisa membuat ….. kucing terasa coklat, tetapi tidak bisa membuktikan bahwa itu memang coklat (argumentasi). Maka hati-hati terhadap kesesatan ini.

Semoga ciri-ciri kesesatan ini dikenali agar tidak mencemari jalannya transaksi argumentasi dalam perhelatan pilkada di Lembata. Dengan demikian pilkada Lembata 2011, yang katanya mau dijadikan contoh pilkada di NTT, bisa berjalan secara fair, dan menemukan bupati yang tepat, bermutu, serta bermartabat.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s