KEKERASAN: BERIAK TANDA TAK DALAM

“Hari gini masih pake kekerasan.” Canda seorang mahasiswa ketika melihat temannya siap adu jotos.” “Hari gini” merupakan ungkapan khas Jakarta untuk menyatakan sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Artinya bahwa sekarang ini kekerasan sudah tidak laku lagi. Zaman di mana wadah untuk berkomunikasi, berdialog dan berdiskusi semakin terbuka, pendidikan, kecerdasaran yang juga semakin meningkat, mestinya semakin tidak ada peluang buat bertumbuhnya kekerasan.

Bahkan ada yang menganggap kekerasan sebagai bagian dari kedangkalan yang tak bermutu. Kita punya peribahasa yang mengungkapkan itu dengan sangat kaya dan tepat. “Air beriak tanda tak dalam”. Kekerasan adalah bagian dari perilaku yang beriak, yang menunjukkan kualitas pelakunya yang sudah kehilangan akal dan tidak mampu melakukan pertimbangan-pertimbangan sehat, mendalam, dan manusiawi.

Orang Kedang punya istilah bukeq bekeq, yang sedikit banyak juga menggambarkan hal ini. Bukeq artinya bodoh dan bekeq artinya mengamuk. Bukeq bekeq mau menggambarkan bahwa orang yang mengamuk dan melakukan kekerasan adalah karena bodoh, tidak cerdas, dalam arti tidak mampu berargumentasi lagi, lantaran pikirannya sudah buntu. Emosi sudah sepenuhnya merasuki dirinya. Saat itulah kekerasan tampil menggantikan argumentasi. Orang menjadi bekeq (ngamuk) karena bukeq (bodoh).

Kekerasan mudah tampil sebagai alat untuk memenangkan satu pertarungan atau adu argumentasi, apa lagi kalau orang punya potensi untuk melakukan itu, misalnya kekuasaan, tenaga, dan kekuatan yang lebih hebat, jumlah yang lebih besar, duit yang lebih banyak, suara yang lebih keras, wajah yang lebih serem. Tidak heran kekerasan juga tampil sebagai alat untuk menuntut kepatuhan, maka mudah sekali menjadi alat untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Kekerasan bukan Alat Kekuasaan

Dalam sejarah dunia, kekerasan sering digunakan sebagai alat kekuasaan (Weber, Machiavelli), bahkan bagian dari kodrat manusia (Hobbes). Tetapi sejarah jugalah yang mencatat bahwa kekuasaan yang memperalat kekerasan selalu gagal.

Sudah terbukti terus menerus bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah; kekerasan bahkan menimbulkan masalah dan menciptakan rantai masalah baru. Pihak-pihak yang berseteru dalam kekerasan-peperangan sama-sama hancur. Yang menang jadi arang yang kalah jadi abu.

Hannah Arendt, perempuan filsuf yang banyak berbicara tentang kekeraan, mengatakan bahwa kekerasan itu bukan alat yang efisien dan efektif untuk membangun kekuasaan. Kekuasan berada pada ranah aktivitas manusia yang disebut action (aksi) dan bukan pada ranah aktivitas labor (bekerja) atau work (karya). Aktivitas labor (kerja) adalah aktivitas untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup, yang dilakukan oleh semua makhluk hidup. Sedangkan aktivitas work (berkarya) merupakan aktivitas manusia untuk berproduksi. Dalam ranah aktivitas ini, manusia membutuhkan alat. Selanjutnya aktivitas action (bertindak) adalah aktivitas manusia yang dilakukan dalam kebersamaan (in concert).

Karena itu action tidak membutuhkan alat. Penggunaan alat dalam aktivitas action setali tiga uang dengan mereduksi action menjadi sekadar work atau labor.

Action harus mensyaratkan adanya kebebasan. Syarat ini tidak dikenakan pada labor dan work. Orang tetap bisa sukses memproduksi sesuatu walaupun dilakukan secara paksa. Artinya paksaan tidak bisa mengurangi kemampuan seseorang untuk memproduksi sesuatu. Tetapi paksaan tidak bisa membuat orang bertindak. Tindakan hanya dilakukan dengan inspirasi, kreativitas, dan inisiatip, maka tidak bisa dipaksakan. Orang bisa dipaksa untuk bekerja, tetapi tidak bisa dipaksa untuk bertindak.

Kekuasaan termasuk dalam ranah tindakan. Maka kekuasaan bukan merupakan aktivitas individual. Kekuasan dilimpahkan dari orang banyak. Politik kekuasaan yang dilakukan dengan paksaan sejatinya bukan kekuasaan melainkan penaklukan. Dalam penaklukan, kekuasaan direduksi ke dunia labor dan work, dan itu berarti juga mereduksi kekuasaan ke ranah infrahuman.

Karena itu kekerasan bukan alat kekuasaan. Bahkan kekerasan adalah ujung dari kekuasaan. Saat kekuasaan goyah, datanglah kekerasan. Dengan demikian kekerasan menjadi pertanda bahwa kekuasaan sudah mencapai titik redupnya. Di saat itu, yang muncul adalah keberingasan infrahuman, kegeraman binatang jalang, untuk menegakkan kembali dan mempertahankan kekuasan. Dengan kata lain, kekerasan yang menggelora ibarat riak, justru menandakan kedangkalan kekuasaan. Saat itulah kekuasaan direduksi ke dalam ranah kerja dan karya. Saat itu hilanglah makna kekuasaan.

Kekerasan juga bukan alat kesuksesan. Menuntut dan pemperjuangkan sesuatu dengan memperalat kekerasan juga tidak akan menghasilkan kesuksesan sejati. Yang didapatkan hanya kesuksesan semu dan sementara, tidak berkualitas. Kesuksesan semu itu tidak matang, karena tidak digodog melalui proses pertumbuhan, dalam ruang dan waktu. Kesuksesan yang dicapai melalui kekerasan adalah kesuksesan jalan pintas, kesuksesan karbitan; kesuksesan yang hanya hebat dan menggelora dalam riak-riaknya, tetapi dangkal dalam hal mutunya.

Damai dan Kekerasan

Dengan pola pikir dan alur argumentasi yang sama, kekerasan juga tidak bisa menjadi alat perdamaian. Perdamaian juga dapat kita masukkan dalam ranah aktivitas manusia yang disebut tindakan (action) dan bukan kerja (labor) atau karya (work) Mengapa? Karena perdamaian juga mengandaikan kebebasan, dan dilakukan dalam kebersamaan (in concert), sehingga juga tidak bisa dipaksakan secara sepihak. Sedangkan kerja dan karya bisa dilakukan dalam keadaan tidak bebas. Seseorang penyanyi bisa didaulat untuk bernyanyi dengan bagus. Tetapi orang tidak bisa dipaksa untuk berdamai. Karena perdamaian itu bukan produk. Perdamaian adalah tindakan, yang terus berkembang secara dinamis. Dia tergantung dari interaksi subyek dalam kebersamaan tadi. Itu berarti perdamaian tidak bisa dituntut, tidak bisa dipaksakan dari luar. Maka mengupayakan kedamaian dengan melakukan kekerasan adalah kontradiktoris, dan tidak sesuai dengan akal sehat.

Betapa tidak reasonable-nya membangun satu masyarakat yang damai di balik tumpukan bahan-bahan peledak. Ini adalah model perdamaian ala Caesar, si vis pacem para bellum. Perdamaian yang dibangun di atas ancaman rakitan bom dan senjata tajam adalah damai yang menyeramkan, dan tidak pantas disebut damai. Perdamaian yang dicapai secara instan melalui paksaan pasti merupakan perdamaian yang keropos; perdamaian jenis itu harus terus dikawal ketat dengan kekerasan senjata.

Ancaman naraka sebagai alat untuk menciptakan masyarakat yang damai pun patut dicermati secara kritis. Damai yang dicapai dengan alat ini hanyalah damai dalam ketakutan. Masyarakat yang damai karena terus menerus diteror ketakutan akan cenderung menjadi tidak kreatif, pasif, tidak dinamis, tidak dewasa, dan hanya mau bermain aman dengan tidak melakukan apa-apa agar tidak terancam naraka.

Pada hal perdamaian sejati adalah perdamaian yang alamiah, perdamaian yang mengalir seperti air, keluar dari sumber mata hati yang damai, bening, dan menyerap ke dalam hati yang terbuka dan dinamis, hangat, tanpa terbakar dendam serta rasa iri dan dengki yang membara. Perdamaian sejati itu tidak bisa dipompakan, atau pun dipaksakan agar mengalir. Tidak. Dia harus mengalir sendiri secara kodrati, dengan energinya sendiri, yang terpancar dari rasa kemanusiaan yang sudah terpatek secara batiniah dalam suara hatinya.

Pencerahan etis

Dalam dunia yang masih mengandalkan kekerasan sebagai alat, sikap etis perlu dibangun. Kekuasaan, kesuksesan, damai, yang memperalat kekerasan, akan berarti diperalatnya sebagian manusia. Padahal sikap etis paling utama yang dibangun adalah menghargai martabat manusia. Manusia harus selalu menjadi tujuan dan bukan alat. Orang lain tidak bisa menjadi alat bagi seseorang untuk mendapatkan kekuasaan, kesuksesan, kedamaian, atau kebahagiaan, entah itu kebahagiaan di dunia ini, apa lagi kebahagiaan di alam baka. Dibutuhkan di sini pencerahan etis yang tidak sekedar himbauan melainkan juga tindakan aplikatif.

Salah satu bentuk aplikasi yang perlu dibangun adalah mengembangkan tokoh-tokoh agama menjadi tokoh-tokoh kemanusiaan. Seorang pastor, ustad, pendeta, bhiku, pedanda atau pimpinan agama apa pun, bukan hanya terpanggil untuk menjadi pemuka agamanya melainkan juga terpanggil untuk menjadi pemuka kemanusiaan. Artinya mereka harus menjadi pemuka agama yang etis; pemuka agama yang menghargai manusia tanpa pamrih; pemuka agama yang punya kesadaran moral yang tinggi, yang menghargai kemanusiaan universal, dan bisa bisa menyerapkan itu pada komunitasnya.

Perlu ditanamkan sikap etis bahwa perbuatan mulia seseorang untuk menolong atau menyelamatkan sesama yang bernasib buruk, misalnya, akan berkurang bobot moralnya, kalau hanya dilakukan untuk mendapatkan pahala saja, dan bukan karena mau menolong sesama karena sesamanya adalah manusia juga. Melakukan berbagai kekerasan dengan menghancurkan manusia lain, apa lagi yang tidak punya kepentingan, jelas bukan tindakan bermoral, walaupun perbuatan itu dilakukan dengan tujuan yang luhur sekali pun.

Karena itu pencerahan-pencerahan etis perlu lebih digalakkan untuk mendampingi pengembangan kehidupan religius dan spiritual yang cenderung semakin marak dan kaya, kalau tidak mau dikatakan liar. Dengan demikian etika akan menjalankan fungsinya dengan baik sebagai sarana orientasi untuk mengambil sikap terhadap berbagai tawaran hidup yang menuntut pengambilan keputusan bertindak, terutama kalau tawaran-tawaran itu saling bertentangan dan tidak sesuai dengan hati nurani. Kemanusiaan harus menjadi framework etis, yang bisa membingkai hidup serta tindakan kita sehingga menjadi kaya dan terefleksi, dan tidak hanya penuh dengan riak-riak gejolak sia-sia yang menghabiskan waktu dan energi.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s