LEMBATA UNTUK PERUBAHAN ATAU LEMBATA UNTUK UANG RECEH?

Menghadapi pilkada Lembata 2011, orang Lembata punya moto atau semboyan yang rada keren, “Lembata untuk perubahan.” Lebih hebat lagi kalau dibahasa-Inggriskan: “Lembata for change”, wah keren abis. Tetapi kalau kita bertanya lebih lanjut, apa yang mesti berubah? Tidak ada konsep yang jelas. Ada yang malah nyeletuk, “Yang ada saja belum dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, malah sudah mau berubah”. Jangan-jangan kita cuma  latah-latahan, ikut-ikutan, sok aksi, dan sok keren. Memangnya mau mengubah atau cuma sekadar mengutak atik. Namun, lepas dari keren-kerenan dan latah-latahan, Lembata memang harus berubah. (1) Perubahan harus berjalan di atas sesuatu yang tetap. (2) Rakyat Lembata juga harus berubah.

Tetap dan Berubah

Bicara tentang perubahan saya jadi teringat akan dua filsuf Yunani kuno Herakleitos dan Parmenides. Herakleitos mengatakan bahwa segala sesuatu itu berubah. Tidak ada yang tinggal tetap. Panta rhei kai uden menei, segala sesuatu mengalir seperti air sungai. Maka kita tidak dapat menginjakkan kaki dua kali pada air sungai yang sama. Pada saat kita mengangkat kaki dan menginjakkan kaki lagi, yang terinjak adalah air sungai baru, karena air yang lama sudah mengalir pergi. Begitulah Herakleitos menggambarkan realitas kita yang selalu mengalir. Sementara menurut Parmenides tidak ada yang berubah, semuanya tetap. Tidak ada hal baru di bawah kolong langit. Semuanya tetap, yang ada tetap ada dan yang tidak ada tetap tidak ada. Tidak mungkin bahwa yang ada muncul dari ketiadaan.

Dari dua pendapat inilah kemudian muncul dialektika, di mana ada tesis, antitesis, dan sintesis. Yang dibicarakan oleh Parmenides adalah tesis dan antitesis, sedangkan yang dibicarakan Herakleitos adalah sintesisnya. Tesisnya ada, antitesisnya tidak ada, maka sintesisnya adalah menjadi (proses). Berarti menjadi atau proses itu harus berjalan di atas kutub yang tetap. Atas dasar itu bisa dijelaskan pandangan Empedokles misalnya bahwa segala sesuatu berasal dari empat unsur yang tetap, yakni api air tanah dan udara, dan bukan hanya satu unsur saja seperti pada Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Dari keempat unsur itulah terbentuk berbagai macam realitas yang identitasnya terbentuk lewat komposisi dari keempat unsur tadi. Begitu juga pandangan Anaxagoras bahwa unsur tetapnya adalah benih-benih, dan komposisi tertentu dari benih-benih itu akan membentuk realitas tertentu pula. Realitas itu bisa berubah sesuai dengan perubahan komposisi.

Itu berarti bahwa dalam perubahan ada unsur yang tetap. Maka Jangan berbicara tentang perubahan tanpa berbicara tentang hal yang tetap. Itu berlaku dalam semua konsep menyangkut realitas kita. Dan kalau dikaitkan dengan konsep pembangunan di Lembata yang juga merupakan bagian dari realitas kita, kedua unsur ini, yakni tetap dan berubah, harus juga mendapat tempat. Bukan hanya perubahan saja yang mendapat perhatian melainkan juga kutub yang tetap. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa tugas pemerintah adalah membangun kutub yang tetap itu, yang di atasnya rakyat akan menggelar perubahan, tempat rakyat akan berkreasi dan mencipta, bertransaksi dan berpolitik, berdoa dan merenung, bernyanyi dan berdendang, merajut hidupnya yang bebas dan merdeka. Lembata tidak hanya membutuhkan perubahan reu. Lembata juga membutuhkan kutub yang tetap dan mantap. (Baca tulisan saya Quo Vadis Lembata di blog ini).

Rakyat berubah

Dalam menghadapi pilkada 2011 perubahan juga harus terjadi di pihak rakyat Lembata. Jangan rakyat hanya menuntut pemerintah berubah, tetapi rakyat sendiri enggan berubah. Rakyat harus lebih kritis memilih calonnya; rakyat harus menjauhkan diri dari sikap primordialisme yang sempit. Dia harus melepaskan diri dari politik uang. Rakyat harus berani tampil untuk bukan hanya secara negatif tidak memilih, melainkan juga secara afirmatif, menolak balon yang menebar uang dan menuai kuasa, karena saat si balon itu menjabat nantinya, yang pertama dilakukan adalah upacara balik modal, dan itulah saatnya rakyat akan dilupakan. Kalau itu yang terjadi jangan menyesal.  Itu bukan hasil ulah siapa-siapa. Itu hasil ulah rakyat juga yang tidak mau berubah.

Maka kalau ada balon yang nekat bagi-bagi uang, “ambil uangnya belikan rokok dan siri pinang, biar merah bibirmu dan panas lidahmu, untuk berani mengatakan tidak pada politik uang atau (kerennya) money politics.”  Kalau tidak ada perubahan di pihak rakyat, maka Lembata for change tidak lagi berarti Lembata untuk perubahan, melainkan akan menjadi Lembata for change yang bisa diterjemahkan menjadi Lembata untuk uang receh. Lembata mau yang mana, perubahan atau uang receh? Jangan tanya pada rumput yang bergoyang. Tanyakah pada nurani kita sendiri.

Jakarta, 14 Agustus 2010

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s