PENJUNGKIR-BALIKAN CARA BERPIKIR

Walaupun sudah lama berlalu, masih segar dalam ingatan kita betapa sederhananya upacara pelantikan Presiden A. S. Barack Obama yang lalu. Tidak tampak adanya formalitas yang berlebihan. Hal yang sedikit berbeda kalau tidak mau dikatakan kontras dengan yang biasanya terjadi di Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu Harian Media Indonesia pernah menampilkan foto seorang anggota Congress Amerika yang sedang bertamu ke bapak presiden RI. Tampaknya sang tamu hanya mengenakan celana pendek   Foto ini sempat mengundang reaksi, seolah-olah prestise dan harga diri kita sebagai bangsa telah dilecehkan. Walaupun reaksi ini langsung mengendor setelah dijelaskan bahwa pakaian yang dikenakan itu bukan celana pendek melainkan busana adat budaya Samoa Barat, reaksi spontan bernada protes tersebut menyiratkan sekelumit kesan betapa bangsa kita sangat memperhatikan tata krama, etiket, sopan santun yang sifatnya formalistis lahiriah dan prestisious. Harga diri kita sebagai bangsa tercoreng ketika kita diperlakukan secara kurang etis (baca: kurang beretiket, bukan kurang beretika)..

Prestise tanpa Prestasi

Reaksi-reaksi itu secara tersamar menyiratkan model  kepribadian kita sebagai bangsa yang lebih mengutamakan formalitas ketimbang content, etiket ketimbang etika,  kemasan ketimbang barangnya, kuantitas ketimbang kualitas, prestise ketimbang prestasi, terpukau pada nilai instrumental ketimbang pada nilai terminal (Aristoteles), atau, pinjam istilahnya Fromm, mengutamakan having daripada being, atau lebih melihat siapa yang berbicara ketimbang apa yang dibicarakan, atau pinjam kisah Nasrudin dari cerita Sufi, mengutamakan jas daripada orang yang mengenakannya. (Al kisah, Nasrudin datang ke sebuah pesta dengan pakaian sederhana. Ternyata tidak ada yang peduli. Dia pulang mengenakan setelan jas, lalu kembali ke pesta itu, yang selanjutnya disambut ramah dan disajikan hidangan yang lezat. Nasrudin pun mencopot jasnya dan mempersilahkan jasnya menyantap hidangan itu.).

Apa yang terjadi kalau kebiasaan itu ditanamkan dalam perilaku-perilaku yang menukik ke dalam lingkaran yang mengitari dan menyentuh inti kepribadian kita seperti perilaku kultural dalam pergaulan sosial, ekonomi, politik, religius. Tidak bisa tidak, internalisasi perilaku itu akan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian kita entah sebagai individu atau kelompok. Kita akan berkembang menjadi manusia yang hanya bereaksi dan bukannya beraksi, lebih mudah tersinggung serta terprovokasi dan sulit memaafkan; manusia yang mungkin SQ (spiritual quotiens)  dan mungkin juga IQ-nya (intelectual quotiens) selangit, tetapi EQ-nya (emotional quotiens-nya) rendah; lebih negative thinking daripada positive thinking; lalu menjadi involutif dan bukannya evolutif; destruktif dan bukannya konstruktif.

Semua sikap ini menjadi batu pemberat langkah kita untuk bisa berprestasi. Prestise dan prestasi merupakan dua hal yang berkaitan. Prestise tanpa prestasi sama dengan orang yang punya pangkat tetapi tidak punya kehormatan, punya jabatan tapi tidak bermartabat. Prestasi itu secara intrinsik meningkatkan prestise. Artinya prestasi itu dari dirinya sendiri prestisius. Maka orang yang tidak menghargai prestasi sebenarnya orang yang iri. Dan orang yang iri hanya menginginkan prestise tanpa prestasi. Atau kalau mereka menginginkan prestise melalui prestasi maka tanpa malu-malu mereka akan membeli atau mengklaim prestasi supaya mendapatkan prestise. Namun prestasi semacam ini hanya merupakan prestasi kopong alias hampa dan karena itu prestisenya juga kopong. Prestasi semacam ini tidak tahan uji, karena begitu teruji maka akan ketahuan belangnya.

Etiket tanpa Etika

Penjungkir-balikan di atas sepertinya tercermin juga dalam kegagalan kita membedakan antara etika dan etiket. Banyak orang tidak bisa membedakan antara etiket dan etika. Dua konsep ini berbaur menjadi adonan yang tak teridentifikasi ketika orang menggunakan kata etis. Sebaliknya bila orang menggunakan kata etika, sering yang dimaksudkan adalah etiket. Jangan-jangan ini merupakan puncak gunung es yang merembuyung dari satu sikap dasar yang sudah diam-diam mengkristal dalam kepribadian kita sebagai bangsa; sikap yang lebih mengutamakan hal-hal yang sifatnya lahiriah (etiket) dan bukannya sesuatu yang lebih menukik ke dalam hal-hal yang batiniah (etika). Akibatnya kita tumbuh menjadi manusia-manusia munafik yang seperti kubur, di luarnya bagus tetapi di dalamnya busuk.

Kita lebih mengutamakan tata-krama daripada tata-susila, dan menyederhanakan tata susila menjadi tata krama; melihat pornografi sebagai tata krama  lahiriah (etiket) ketimbang tatasusila yang batiniah (etika). Coba tengok ke dunia pendidikan kita, siswa lebih takut kalau ke sekolah tanpa mengenakan atribut-atribut seperti topi, dasi (etiket); atau juga mahasiswa kita yang lebih takut mengenakan sendal jepit saat kuliah (etiket) daripada menyontek dan berplagiat ria (etika).

Ini membuat cara berpikir kita menjadi tidak nyambung, bahkan terjungkir balik. Sering kali pokok masalahnya berada dalam ranah etika, tetapi yang diatur adalah etiket; masalahnya adalah masalah batiniah, tetapi yang diatur malah lahiriah; yang bermasalah adalah hidup di dunia, kita disuruh mengarahkan pandangan ke surga dan neraka; yang bemasalah adalah sekarang, kita di suruh menatap ke akhirat; yang bermasalah adalah hukum kita malah mengatur etika dan moral; yang menjadi masalah adalah tata susila, namun yang diatur malah tata busana; yang bermasalah adalah pria, namun yang diatur-atur malah wanita; yang kelaparan adalah batin yang diisi malah perut; yang bermasalah adalah saya, tetapi yang dibereskan adalah orang lain; yang bermasalah adalah orang, tetapi yang diatur adalah sistem. Sebaliknya, yang bermasalah adalah sistem, yang diutak-atik adalah orangnya.

Kita larut dalam aspek formalistis yang mengutamakan aksi daripada kontemplasi. Kita lebih senang dengan bunyi yang nyaring tapi kosong ketimbang suara yang sember tetapi berisi. Kita lebih senang dengan padi kempes yang tegak menantang daripada padi merunduk yang sarat berisi. Kita lebih sibuk menilai aspek legalistik dan cenderung melupakan landasan moralistik. Kita lebih terpukau pada aspek seremonial dan ritual daripada aspek kewajaran (reasonable) dan keseharian kita. Kita lebih senang dengan aspek institusional agama daripada aspek spiritualnya.

Kita bisa tunduk menyembah Tuhan menepuk dada pertanda tobat, sementara kaki kita menendang sesama. Kita bisa menteologikan apa yang sosiologis (Asghar Ali ) dan bukannya mengaplikasikan yang teologis ke dalam dunia kehidupan yang sosiologis. Kita lalu mengagamakan politik dan mempolitikkan agama (Sinn). Kita tidak segan mengubah dunia politik yang sejatinya merupakan tempat orang bertransaksi argumentasi, menjadi tempat untuk bertransaksi uang atau ayat suci (Rocky Gerung). Kita sibuk memanipulasi sesama sambil menyogok Tuhan agar bisa menggapai sorga.

Menuai tanpa Menanam

Penjungkir-balikan pola berpikir. seperti ini perlu disadari, terutama di saat-saat pemilu atau pilkada.  Pemilu atau pilkada adalah saatnya menuai, bukan menanam. Menuai tanpa menanam itu penjungkir-balikan.  Menanam langsung menuai itu tanaman instan, bahkan mungkin virtual. Pantas kalau ada klaim-klaim prestasi, ada yang mengaku bersama rakyat, di pihak rakyat, memihak rakyat, berada di tengah rakyat. Seharusnya saat pemilu atau pilkada, rakyat yang ada bersama partai dan calegnya, karena selama ini partai dan caleg sudah bersama rakyat, dan bukannya saat partai dan caleg bersama dan merangkul rakyat untuk kemudian ditinggalkan seusai pemilu atau pilkada. Mudah-mudahan pemilu dan pilkada juga tidak menjadi pengukuhan rutin atas penjungkir balikan nilai.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s