MENCIUM KODOK

Pernahkah Anda mencium kodok? Sepertinya belum! Tetapi seorang pangeran pernah melakukannya. Anda pasti pernah mendengar kisahnya. Suatu saat si pangeran pergi berburu. Setelah keluar masuk hutan, dia tersesat. Di tengah hutan dia menemukan sebuah istana besar tak berpenghuni. Tetapi anehnya, di istana tak berpenghuni itu tersedia hidangan yang enak baginya. Siapa gerangan yang menyediakan makanan ini? Dia mencari kesekeliling istana, tetapi tidak menemukan seorang pun. Karena lapar, dia pun menyantap hidangan itu. Selanjutnya dia menunggu datangnya si penghuni rumah. Lantaran kelelahan dia pun tertidur. Anehnya saat dia bangun keesokan harinya, makanan sudah tersaji lagi. Begitu terjadi setiap malam. Suatu malam dia sengaja tidak pergi tidur. Diam-diam dia bersembunyi di dapur untuk memperhatikan apa yang sesungguhnya terjadi. Dan pada malam hari dia menyaksikan seorang putri cantik masuk ke dapur dan sibuk memasak makanan untuknya. Tetapi saat siang tiba, sang putri menghilang. Suatu malam dia ingin memergoki sang putri. Tetapi begitu dia keluar dari persembunyiannya, sang putri menghilang. Setelah beberapa kali dia memperhatikan, ternyata saat menghilang, sang putri sebenarnya berubah menjadi seekor kodok.

Kecewa dengan kenyataan bahwa dia ternyata tak pernah bisa berkomunikasi dengan sang putri, dia memutuskan untuk meninggalkan istana itu dan pulang ke negerinya. Untuk menyatakan rasa terima kasihnya dia tunduk dan mencium sang kodok. Dan apa yang terjadi. Sang kodok pun berubah menjadi putri lagi. Ternyata sang kodok adalah jelmaan seorang putri raja. Lantaran menolak dinikahkan dengan orang dikehendaki ayahnya, dia dikutuk menjadi kodok. Sang kodok hanya bisa berubah menjadi putri lagi bila ada seorang pangeran mencium dia. Begitu kutukan sang ayah. Dan ciuman pangeran tersesat itu telah mengakhiri kutukan itu. Kodok berubah kembali menjadi putri yang cantik. Dan ….mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya.

Sebuah ciuman telah mengubah sang kodok menjadi seorang permaisuri yang cantik jelita. Betapa besar kekuatan sebuah ciuman. Itulah yang ditunjukkan dalam kisah sang pangeran ini. Pernah kah Anda mencium kodok? Jangan kan mencium, menjamahnya pun banyak orang tak sudi. Kodok itu menjijikan. Tetapi tindakan sang pangeran mencium kodok menyiratkan pesan buat kita. Mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik itu harus dengan ciuman, bukan dengan kekerasan. Sering kita lebih suka mengubah sesuatu yang “busuk” dan menjijikkan bukan dengan cinta dan kelembutan melainkan dengan kekerasan. Sering sekali suami ingin mengubah sifat dan perilaku isterinya yang tidak disukainya, bukan dengan kelembutan melainkan dengan kekerasan. Berapa banyak orang tua yang mendidik anaknya dengan tangan besi. Banyak guru ingin mengubah siswa menjadi pandai bukan dengan “ciuman” melainkan dengan kekerasan. Pemerintah ingin menertibkan rakyatnya, bukan dengan “ciuman” melainkan dengan satpol PP dan buldoser. Kelompok agama ingin meluruskan ajarannya bukan dengan penjelasan-penjelasan dan dialog agar terjadi pertobatan dari dalam, melainkan dengan kekerasan untuk memaksakan pertobatan. Padahal pertobatan yang dipaksakan pasti pertobatan palsu. Dan pertobatan palsu pasti bukan pertobatan.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s