USAI SUDAH: SPANYOL JUARANYA

Just & Fair

Setelah perhelatan akbar sepak bola dunia selesai, kita seperti baru kembali dari libur panjang. Sebulan penuh kita dihibur. Emosi kita diaduk-aduk, dan kita melupakan untuk sementara berbagai persoalan yang mengggelayut dalam hidup kita. Kita larut secara universal bersama sesama manusia lainnya menikmati tontonan yang sama. Riuh rendah dan sorak sorai di stadion negeri opa Nelson Mandela seolah mewakili sorak sorai seluruh dunia yang sedang menyaksikan peristiwa yang sama.

Namun fakta yang sama itu ternyata mendapatkan penafsiran yang bermacam-macam. Ada yang menganggap gol Spanyol itu berbau offiside, dan memaki-maki wasit karena mensahkan gol itu sehingga Spanyol menang dan menjadi juara. Ada yang menganggap bahwa gol Spanyol itu tidak offside dan keputusan wasit itu benar. Ada yang mengecam wasit terlalu memihak Spanyol, karena tidak memberikan hukuman pada pelanggaran-pelanggaran yang dibuat Spanyol. Ada juga yang membela wasit dengan mengatakan bahwa Belanda masih beruntung karena wasit tidak langsung mengkartu-merahkan de Jong yang menendang dada Xabi Alonso. Tidak kurang dari Johan Cruiff yang menilai bahwa seharusnya dua kartu merah dikeluarkan untuk Belanda, dan mengecam permainan Belanda sebagai brutal. Yang jelas setiap penilaian selalu sangat dekat dengan kepentingan di belakangnya.

Fakta empiris yang sama ternyata bisa mendapatkan penilaian yang berbeda-beda. Apa lagi kalau menyangkut keyakinan yang sifatnya lebih bersifat meta-empiris. Kalau soal offside, kita dapat menggunakan rekaman video untuk membuktikan kebenaran penilaian kita atas fakta. Tetapi kalau keyakinan, bagaimana kita bisa membuktikannya. Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa keyakinan saya benar dan keyakinan Anda salah dan sesat. Kalau Anda percaya bahwa Paul si gurita itu bisa menebak hasil pertandingan, silahkan, tetapi jangan paksa saya untuk ikut percaya, walaupun saya tidak bisa membuktikan bahwa itu salah. Ukuran yang saya pakai adalah akal sehat. Dan kalau Anda tidak percaya pada akal sehat silahkan, tetapi jangan menganggap orang yang berpikir secara akal sehat itu salah. Itu berarti orang boleh berkeyakinan apa pun sejauh tidak merugikan saya. Bahwa ada yang menganggap dirinya dewa atau tigaperempat dewa, atau titisan dewa silahkan saja, asal tidak merugikan orang lain. Patokan untuk mengukur apakah merugikan orang atau tidak adalah konstitusi yang kita sepakati bersama. Maka orang boleh berkeyakinan apa pun sejauh tidak melanggar konstitusi. Kalau melanggar konstitusi, maka negara harus turun tangan.

Begitu juga orang boleh menyampaikan penilaian dan pandangannya tentang fakta pertandingan final piala dunia. Tetapi kesepakatan bahwa keputusan wasit tidak bisa diganggu gugat adalah prinsip fair play. Maka Spanyol yang keluar sebagai juara adalah fair (sesuai prosedur), walaupun mungkin ada yang menganggap tidak just (isi), karena wasit memihak.

Ini yang sering terjadi dalam sepak bola Indonesia, orang tidak membedakan antara fairness dan justice (John Rawls). Hanya melototi justice orang lupa pada fairness. Lalu mengorbankan fairness untuk mendapatkan justice. Mungkin itu juga yang terjadi di luar lapangan. Demi justice orang boleh melanggar fairness. Keadilan harus menyangkut fairness sekaligus justice.

Jakarta, 13 Juli 2010
Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s