PREDIKSI: ARGENTINA VS JERMAN DAN SPANYOL VS PARAGUAY

Kelincahan Individual VS Ketangguhan Tim

Dua pertandingan delapan besar Brazil vs Belanda dan Ghana vs Uruguay sudah usai. Di partai kedua, Ghana hampir saja membuat kejutan besar dalam sejarah sepak bola, seandainya bola tidak ditahan pemain Uruguay dengan tangan dan penalti Ghana sukses, di saat-saat terakhir tambahan waktu. “Tangan tuhan” ala Maradona kembali beraksi. Kali ini aksinya lain, bukannya menjebol, melainkan menyelamatkan gawang Uruguay dari kebobolan.

Di partai pertama, Brazil yang tampil bagus pada awal ternyata cuma gertak samba(l). Beberapa pemainnya tidak menunjukkan kewibawaan dan kebesaran Brazil sebagai juara Piala Dunia 5 kali. Mereka tampil angkuh, temperamental dan terlalu over acting. Ujungnya, wasit harus mengeluarkan kartu merah. Akibatnya tidak tanggung-tanggung. Brazil akhirnya tumbang di tangan Belanda.

Setelah kekalahan Brazil dari Belanda, pertandingan Argentina melawan Jerman menjadi semakin menarik perhatian. Akankah tim berkelas dari Amerika Selatan ini juga harus mengakui ketangguhan tim Eropa? Yang jelas pertandingan ini mengingatkan kita pada pertandingan kedua tim di Piala Dunia 2006 lalu. Ketika itu Jerman menang dalam adu penalti. Pertandingannya mirip Belanda melawan Brazil. Seperti halnya Brazil, Argentina waktu itu juga tampil memukau pada babak pertama. Jerman hampir tak bisa menguasai bola. Situasi ini membuat Jerman hanya bisa bertahan. Pertahanan Jerman akhirnya jebol juga dan lahirlah gol Argentina empat menit sebelum babak pertama usai. Riquelme yang memecah kebuntuan itu dengan tendangan pojok yang kemudian disontek Roberto Ayala dengan kepalanya. 1-0 untuk Argentina.

Pada babak kedua Michael Ballack dan kawan-kawan berusaha membalas tetapi tampaknya Argentina terlalu kukuh. Pada menit 72, Pakerman menarik Riquelme dan memasukkan Esteban Cambiasso untuk memperkuat pertahanan. Ternyata pergantian itu menjadi kunci bangkitnya Jerman. Jerman seperti mendapatkan kelonggaran. Dan pada menit ke 80 Klose, juga dengan kepala, berhasil menjebol gawang Argentina. Gemuruh seluruh stadion. Perpanjangan waktu tidak berhasil mengubah kedudukan. Adu penalti tidak bisa dihindari dan Argentina kalah 5-3. Jens Lehmann menjadi pahlawan karena berhasil menahan tendangan Ayala dan Cambiasso. Argentina yang tampil impulsif dan temperamental, sepertinya tidak siap menerima kekalahan ini, dan sempat terjadi kericuhan. Pantas kalau Lahm dan Schweinsteiger mengecam sikap ini. Sekarang saatnya Argentina akan melampiaskan dendam ini. Akankah terjadi pembalasan?

Membandingkan pertandingan 2006 dan 2010, kita harus mengakui bahwa Jerman waktu itu memang kalah kelas dibandingkan Argentina. Jerman hanya mendapatkan keuntungan dalam posisinya sebagai tuan rumah. Tetapi Jerman sekarang tampaknya cukup berimbang dengan Argentina. Sebagai tim, Jerman sangat solid. Tetapi Argentina juga punya kelincahan-kelincahan tidak hanya pada permainan individual, melainkan juga piawai dalam mengubah dan mengganti taktik dan strategi. Bahkan mereka lincah dalam menciptakan improvisasi yang dibutuhkan di lapangan. Maka yang paling menentukan adalah masalah mental. Argentina memang terkenal impulsif dan temperamental. Apakah Jerman tidak terpancing? Apa lagi pemain Jerman sekarang masih muda-muda.

Kalau membandingkan prestasi kedua tim dalam babak penyisihan, tampak Argentina lebih stabil. Tetapi tim-tim yang pernah menjadi lawan Argentina juga tidak sekelas tim-tim lawan Jerman. Tampaknya Argentina belum teruji oleh tim-tim yang tangguh.

Prestasi kedua tim dalam sejarah Piala Dunia juga tidak jauh berbeda. Argentina tampil 14 kali di putaran final Piala Dunia, dan meraih juara 2 kali. Pertama tahun 1978 dengan bintangnya Mario Kempes, dan 1986 dengan bintangnya Maradona. Apakah 2010 adalah gilirannya Messi? Sementara itu Jerman tampil 16 kali, dan menjadi juara 3 kali, lebih banyak mengandalkan kekuatan tim. Beckenbauer adalah pemimpin tim yang piawai. Gerd Muller menjadi “bomber” juga karena dukungan tim. Maka pertandingan ini akan menjawab pertanyaan apakah kemampuan individual akan menyolidkan tim atau kesolidan tim akan mengembangkan kemampuan indvidual? Bagaimana dalam bola kehidupan?

Argentina akan turun dengan kekuatan penuh. Apakah Jerman juga demikian? Sepertinya Podolski dan Ozil absen saat latihan. Apakah pertanda keduanya tidak akan diturunkan? Mungkin ini hanya bagian dari taktik Jerman. Seperti saat melawan Inggris, Schweinsteiger dan Jerome Boateng dikabarkan cedera. Ternyata keduanya diturunkan. Bila kedua tim turun dengan kekuatan penuh maka pertandingan akan menarik dan berimbang. Kali ini, emosi Argentina akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Argentina akan belajar dari pertandingan 2006. Dia akan bermain aman dan berupaya mengungguli Jerman 2-0, bukan cuma 1-0 seperti pada tahun 2006. Jerman akan membalik keadaan menjadi 3-2.

SPANYOL VS PARAGUAY

Paraguay yang tertatih-tatih melawan Jepang tampaknya akan stop sampai di sini. Paraguay memang bermain bagus, tetapi tidak ada finishing toucher yang piawai. Spanyol yang sedang dalam kondisi menanjak, akan sulit dibendung. Skor 2-0 untuk keunggulan Spanyol. Bahkan kalau Spanyol berhasil mencapai kondisi puncaknya pada final Piala Dunia ini, bukan tidak mungkin David Villa dan kawan-kawan akan mengukir sejarah baru dan menjadi juara untuk pertama kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s