BERAGAMA SECARA ETIS

Kalau moral berbicara tentang baik buruk, benar salahnya tingkah laku manusia, dan memuat ajaran dan petunjuk untuk hidup baik dan manusiawi, maka etika atau filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang mengapa tindakan tertentu disebut baik dan yang lainnya buruk. Mengapa tindakan tertentu disebut benar dan yang lainnya salah. Mengapa ada tindakan yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan? Apa yang menjadi dasar norma moral atau etika dari tindakan manusia? Ada yang mendasarkannya pada “hati nurani,” “pendapat umum” (common sense), atau “kaidah emas” (golden rule). Ada yang lain menemukan dasar etika mereka pada “akibat baik yang maksimal”. Ada pula yang mendasarkannya bukan pada akibat melainkan pada sikap. Orang beragama, menemukan dasar norma moral tindakan manusia dalam perintah Tuhan. Tetapi itu hanya perbedaan-perbedaan dalam dasarnya tetapi ujung-ujungnya adalah ajaran moral yang tidak banyak berbeda. Bahwa kita harus bersikap sebagai manusia, menjaga harkat dan martabat manusia, hidup baik.
Tampak di sini bahwa dasar norma moral itu bisa bermacam-macam. Bahkan ada kecenderungan masing-masing pihak untuk menganggap normanya sebagai paling valid dan efektif. Orang beragama menganggap dasar moralnya sebagai yang paling valid karena datang dari perintah Tuhan sendiri. Sementara kaum humanis menganggap kaum beragama sebagai manusia yang belum dewasa yang hanya melakukan hal-hal yang baik bukan sebagai kesadaran dari dalam dirinya, melainkan karena diperintahkan dari luar; bukan sebagai imperatif kategoris (tanpa syarat) melainkan sebagai imperatif hipotetis (bersyarat) (Kant). Pantas kalau Sartre atau Nitsche mengharapkan Tuhan mundur supaya manusia bisa menjadi dewasa. Manusia yang dewasa melakukan sesuatu yang baik bukan karena diperintahkan, atau diiming-imingi surga, dan/atau  tidak melakukan kejahatan hanya karena takut dihukum di neraka, melainkan karena dia mencintai sesamanya sebagai manusia, titik. Pandangan kritis ini membuat Kisah Pengadilan Terakhir dalam Alkitab akhirnya ditafsirkan kembali. Kisah ini pernah dianggap sebagai ajaran moral untuk berbuat baik kepada sesama, misalnya mengasihani orang miskin, mengunjungi orang sakit karena mereka itu adalah Yesus. Seolah-olah orang memberi makan kepada orang miskin bukan karena menghargai orang miskin melainkan karena menghargai Yesus dalam diri orang miskin itu. Dengan demikian bukan orang miskin yang dibantu dan dihargai melainkan Yesus. Penafsiran ini dianggap kurang pas karena bukankah dalam Kisah itu orang-orang yang berbuat baik itu sebenarnya tidak mengetahui bahwa mereka telah membantu Yesus? Berarti bahwa sikap yang benar adalah bukan mencintai orang miskin karena Yesus, apa lagi supaya masuk surga, melainkan melihat orang miskin sebagai manusia yang harus dihargai.
Karena itu agama selalu mempunyai sisi ajaran moral untuk memberi petunjuk, mana tindakan yang baik dan mana tindakan yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah. Namun perintah-perintah itu tidak asal-asalan dibuat melainkan ada dasar etisnya. Maka etika menjadi penting untuk mendalami perintah-perintah itu. Misalnya Tuhan melarang manusia membunuh sesamanya, bukan sekadar untuk menunjukkan kekuasaannya melainkan karena Tuhan menghargai manusia sebagai makluk ciptaan yang serupa dengan citraNya. Dalam etika, ajaran-ajaran moral agama ditafsirkan supaya bisa masuk dalam daya tangkap manusia yang terbatas.
Dasar moral dan pertimbangan etika itu mencakup segala bidang kehidupan dan aspek kegiatan manusia, termasuk bidang kehidupan dan aspek kegiatan beragama. Bahkan bidang kegiatan beragama justru harus menjadi pelopornya. Kita tahu dewasa ini semakin lantang disuarakan tuntutan etika untuk berbagai bidang kehidupan. Selain etika umum untuk perilaku manusia pada umumnya, ada etika khusus, untuk perilaku di bidang tertentu seperti perkawinan, seksual, etika profesi seperti kedokteran, politik, bisnis, ekonomi, dan etika terapan seperti etika biomedis. Muncul pertanyaan, apakah harus ada etika agama? Ada sedikit rasa risih yang menggelayut pada pertanyaan ini terutama karena agama itu sesuatu yang luhur bahkan merupakan mata air bagi moral dan etika. Bagaimana agama bisa diragukan keetisan dan kemoralannya?
Betul, agama memang luhur dan menjadi sumber ajaran moral dan etika. Tetapi keluhuran itu harus mendunia. Keluhuran agama harus bersentuhan dengan aspek manusia yang mempunyai keterbatasan. Persentuhan antara keluhuran agama dan keterbatasan manusia itu kita sebut beragama. Di sini aspek etisnya menjadi relevan. Agama selalu benar tapi beragama tidak selalu benar. Menjalankan ajaran agama tidak luput dari kesesatan-kesesatan. Makanya harus disikapi secara kritis. Apakah semua yang dilakukan demi agama dalam kegiatan beragama selalu benar. Berbohong demi agama, memfitnah demi agama, membunuh demi agama, apakah dapat dibenarkan? Kalau agama selalu benar sementara agama dianggap identik dengan kegiatan beragama, lalu agama bisa diperalat untuk kepentingan apa saja. Bahkan ayat-ayat kitab suci pun dapat ditafsirkan sesuai selera penguasa mimbar, tanpa metode-metode penafsiran yang dapat dipertanggung-jawabkan. Kalau semua yang disiarkan dari mimbar itu benar, maka kebenaran menjadi sangat tergantung pada the men behind the microphone. Kepentingan-kepentingan yang berhasil menggunakan agama sebagai kendaraannya, otomatis akan memasuki jalan tol bebas hambatan dan melaju mulus mencapai cita-citanya, karena orang beragama menganggap bahwa agama, yang identik dengan beragama, adalah tuan atas moral dan etika, dan karena itu tuan atas kebenaran dan keselamatan.
Dewasa ini salah satu etika terapan yang semakin mendapat perhatian besar adalah etika bisnis. Para pelaku bisnis kontemporer misalnya, sudah sampai pada keyakinan bahwa berbisnis yang efektif adalah berbisnis secara etis. Kebohongan-kebohongan dalam bisnis, kegiatan bisnis yang tidak ramah lingkungan, ketidak adilan terhadap karyawan, tidak hanya akan berujung pada dosa melanggar perintah Tuhan melainkan juga pada efek ketidak-berhasilan dalam bisnis. Bukan lantaran dosa terhadap Tuhan maka terjadilah ketidak-berhasilan (banyak orang berdosa justru hidupnya lebih sejahtera daripada orang jujur) melainkan karena memang kelanggengan bisnis hanya bisa dipelihara kalau orang berbisnis secara etis. Membohongi pelanggan hanya akan menggerogoti kesetiaan pelanggan. Padahal lebih sulit dan lebih mahal mencari pelanggan baru dibanding mempertahankan pelanggan yang ada. Pemerasan karyawan bukannya membawa keuntungan bagi perusahaan melainkan kerugian bagi perusahaan; misalnya persentase perputaran karyawan yang tinggi menuntut biaya pelatihan yang mahal atau bahwa karyawan yang tidak nyaman tidak bisa menghasilkan produk yang bermutu.
Kalau para pelaku bisnis yang sekuler saja bisa menyadari pentingnya berperilaku etis, mengapa hidup beragama yang justru mengajarkan kebaikan dan keluhuran hidup tidak lebih unggul dalam hal ini? Para pelaku bisnis saja tahu bagaimana berbisnis secara etis, beriklan secara etis, bertransaksi secara etis. Betapa ironisnya kalau sikap etis ini justru kurang mendapat perhatian dalam kehidupan beragama. Orang beragama juga harus tahu bagaimana beragama secara etis. Orang beragama harus merasa risi kalau ternyata orang-orang tidak beragama bisa jauh lebih etis dari pada orang-orang beragama. Orang-orang beragama harus menjadi pelopor dalam tindakan-tindakan etis. Jangan sampai orang-orang humanis yang atheis dan tidak mengharapkan surga, justru menjadi lebih suci dan malah masuk surga mendahului kita yang mengaku diri beragama ini.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s