PINTAR TETAPI BIJAKSANA

Judul di atas rasanya kurang pas. Mestinya pintar dan bijaksana. Pintar biasanya disejajarkan dengan bijaksana, sedangkan bodoh disejajarkan dengan tidak bijaksana. (bodoh tetapi bijaksana). Seolah-olah wajar kalau orang pintar itu bijaksana, sementara orang bodoh itu pantas kalau tidak bijaksana. Mengutip Kant, “orang pintar itu mengorganisasi pengetahuan, tetapi hanya orang bijaksana yang mengorganisasi kehidupan”.
Anggapan bahwa pintar itu sejajar dengan bijaksana kiranya mendasari hampir seluruh pendidikan kita baik dalam pendidikan keluarga, sekolah, dan agama. Anak akan dipuji dan diberi hadiah kalau mencapai peringkat satu di sekolah. Anak dianggap orang beragama kalau pandai dalam mempelajari ajaran agama, pandai membaca kitab suci, pandai menceramahkan ajaran-ajaran agama.
Karena menganggap kepintaran itu dekat dengan kebijaksanaan maka kita selalu mengharapkan anak kita pintar. Kalau anak ditanya, untuk apa ke sekolah, jawabnya adalah supaya jadi anak pintar. Seolah-olah pendidikan itu adalah upaya untuk membuat anak yang bodoh menjadi pintar. Ironisnya lagi banyak sekolah yang justru membuat seleksi dan hanya menerima anak-anak pintar dan menolak anak-anak bodoh supaya menjaga mutu sekolah. Ujian nasional kita hanya menguji kepintaran anak dan kesan itu begitu melekat pada diri siswa sehingga siswa akan merasakan kegagalan luar biasa kalau tidak lulus. Kompas 24 April memberitakan: “dari 1.522.162 peserta ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, sebanyak 154.079 siswa di antaranya, atau sekitar 10,12 persen tidak lulus.”
Apakah pendidikan adalah hak orang pintar? Bagaimana dengan pendidikan anak-anak yang sedang-sedang saja atau bahkan cenderung bodoh? Dan yang menarik adalah pernyataan Menteri Pendidikan Nasional bahwa ”Kelulusan siswa ditentukan satuan pendidikan masing-masing. Siswa yang dinyatakan lulus berarti sudah rampung seluruh program pendidikan, lulus aspek akhlak dan kepribadian, lulus mata pelajaran yang diujikan sekolah, dan lulus ujian nasional.” Mengapa ujian nasional hanya untuk aspek pengetahuan sedangkan akhlak dan kepribadian cuma dinilai pada tingkat sekolah. Kalau alasannya adalah bahwa ujian akhlak dan kepribadian tidak bisa dilakukan secara nasional, maka sebaiknya ujian nasional pun dihilangkan saja untuk tidak memberikan tekanan yang berlebihan pada aspek kognitif.
Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang bodoh dan orang pintar menjadi bijaksana. Bukan membuat orang bodoh menjadi pintar atau membuat orang pintar menjadi tambah pintar. Orang bodoh dan orang pintar sama bodohnya kalau keduanya tidak bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang licik seperti ular tetapi tulus seperti merpati. Kadang-kadang orang bodoh terlalu tulus tetapi kurang licik. Orang pintar terlalu licik tetapi kurang tulus.
Orang bijaksana adalah orang yang dewasa. Dewasa tidak ditentukan oleh tingkat usia. Ada orang yang masih muda tetapi sangat dewasa dan bijaksana. Ada yang sudah tua bangka tetapi tetap bertingkah seperti kanak-kanak dan tak pernah menjadi bijaksana. Begitu juga banyak orang pintar tapi tak pernah menjadi bijaksana. Fungsi dari kebijaksanaan adalah untuk membedakan yang baik dari yang jahat (The function of wisdom is to discriminate between good and evil. Cicero).
Orang pintar sering memanfaatkan dan memperalat orang bodoh. Orang bijaksana tidak akan memanfaatkan orang bodoh. Orang pintar gampang menipu orang bodoh. Orang bijaksana tak pernah menipu orang bodoh. Orang pintar yang tidak bijaksana itu lebih berbahaya daripada orang bodoh yang tidak bijaksana, lantaran orang bodoh yang tak bijaksana tidak bisa menipu orang bodoh.
Orang bodoh bisa lebih sukses belajar untuk menjadi bijaksana ketimbang belajar untuk menjadi pintar. Orang pintar tidak otomatis bijaksana, dia harus belajar untuk menjadi bijaksana.
Kebodohan dan kepintaran sama sekali bukan nilai bagi kemanusiaan. Yang mempunyai nilai adalah kebijaksanaan. Maka jangan sedih karena bodoh. Itu bukan kekurangan. Tetapi juga jangan sombong karena pintar. Itu juga bukan kelebihan. Karena orang bisa pintar di satu bidang tetapi bodoh di bidang lainnya. Atau orang bisa bodoh di satu bidang tetapi pintar di bidang lainnya. Yang merupakan kelebihan adalah kebijaksanaan. Tetapi orang bijaksana tak pernah menjadi sombong. Begitu kesombongan menghinggapi dirinya dia hanya menjadi bodoh atau pintar. Lalu tak ada lagi yang bisa disombongkan.
Kebodohan dan kepintaran bisa diwariskan (apa lagi kalau kebodohan dan kepintaran dilembagakan dalam sekolah, sementara hanya orang berduit yang bisa sekolah). Tetapi kebijaksanaan adalah pilihan. Jangan bangga dengan apa yang dimiliki, apa lagi dari warisan. Makna kehidupan tidak diukur dari apa yang dimiliki melainkan dari apa yang diusahakan, apa yang dipilih, apa yang dilakukan.
Di negeri ini banyak orang pintar dan bodoh, tetapi sedikit yang bijaksana. Pendidikan di negeri ini juga hanya mendidik orang pintar dan mengabaikan orang bodoh. Orang pintar dididik untuk bertambah pintar. Orang bodoh apa lagi miskin tak ada tempat dalam pendidikan di sini. Karena pendidikan hanyalah lewat sekolah, dan sekolah hanya untuk orang pintar dan orang bodoh yang berduit. Di negeri ini orang bisa membeli kepintaran dan tetap bodoh, tetapi tidak bisa membeli kebijaksanaan. Kebijaksanaan harus bertumbuh dari dalam, dan tidak bisa dikembangkan dengan suntikan dana dari luar.
Orang bijaksana adalah orang, manusia, bukan malaekat dan bukan setan. Dia bisa belajar dari kesalahan. Bukan orang yang tak pernah salah. Orang yang merasa diri malaekat tidak banyak bedanya dengan orang yang merasa diri setan. Dua-duanya bukan orang bijaksana; keduanya hanyalah orang saleh dan orang jahat. Orang saleh dan orang jahat tidak banyak bedanya kalau tidak punya kebijaksanaan. Karena orang yang tidak punya kebijaksanaan sama tak bernilainya, entah dia bodoh atau pintar, lelaki atau perempuan, anak kecil atau orang tua, saleh atau berdosa.
Jakarta, 24 April 2010

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s