New Oasis

Tempat kremasi asri yang tidak jauh dari kota Tangerang ini sama sekali jauh dari kesan angker. Tempat yang lega, dengan rumah duka dan tempat penyimpanan abu ini benar-benar merupakan oasis. Ada taman yang bersih dan terawat, ada pohon yang sejuk, ada kolam ikan, dan terutama ada orang-orangnya yang ramah.
Saya bersyukur mendapat kesempatan mengunjungi tempat ini pada tanggal 25 Maret 2007 yang lalu, dalam rangka upacara kremasi almarhum bapak Yohanes Hidajat Muljadi HS, ayah tercinta dari sahabatku Lily Puspawati HS. Iring-iringan jenazah yang berangkat dari Rumah Duka “Abadi” ini disambut petugas sekuriti di pintu gerbang. Jenazah kemudian disemayamkan di sebuah ruang yang nyaman berdampingan dengan ruang oven kremasi.
Para pelayat diterima oleh seorang perempuan petugas pastoral yang ramah dan sangat menguasai bidangnya. Wanita langsing dan berwibawa ini mengenakan jas hitam yang disemati sebuah salib kecil. Dengan lugas dia menjelaskan proses yang akan dilalui dalam seluruh rangkaian upacara kremasi. Ibadat pemakaman yang dipimpin seorang prodiakon, dilanjutkan di tempat itu. Seluruh upacara diakhiri dengan tabur bunga, suatu upacara penghormatan yang sangat menyentuh, untuk mengenang jasa sang ayah, menyampaikan tanda terima kasih dan. . . mengucapkan selamat jalan. Sang ayah akan menembus api pembebasan dan mengarungi lautan lepas untuk menyatu kembali dengan Sang Penciptanya, untuk nantinya kembali mendampingi orang-orang yang dicintainya dengan caranya yang baru.
Setelah selesai tabur bunga, pintu ruang oven dibuka. Peti jenazah didorong perlahan dan ditempatkan di pintu oven kremasi. Setelah semuanya siap, tombol pun ditekan, dan peti jenazah bergerak, perlahan tapi pasti, memasuki ruang oven, layaknya sebuah cakram (Compact Disc/ CD) terdorong masuk ke dalam CD player. Rasa tersentak tak dapat disembunyikan dan ratap tangis pun meledak. CD itu telah masuk dan segera akan melantunkan lagu-lagunya sendiri. Lagu-lagu kehidupan sejati yang telah diciptakan dan diaransir sepanjang hayatnya, untuk dipersembahkan bagi sang Khalik, dan didendangkan anak-anaknya.
Oven kremasi sudah menyala. Proses kremasi sudah berjalan. Saya teringat akan Empedokles, sang filsuf zaman Yunani kuno yang telah menyumbangkan pikirannya untuk menembus rahasia alam ini. Kata Empedokles, segala sesuatu berasal dari empat unsur saja yang dia sebut akar atau rizomata. Komposisi tertentu dari keempat unsur inilah yang akan membentuk masing-masing realitas, mulai dari berbagai bentuk benda mati, sampai beraneka ragam hayati.
Proses kremasi adalah proses penguraian setiap unsur kembali ke empat akar atau rizomata tadi yakni: api, air, tanah, dan udara. Api sedang membakar, air menguap ke udara dan akan turun lagi menjadi hujan yang bakal mengairi mahkluk hidup lainnya, udara pun tampak dalam asap yang membubung ke langit yang akan mengalami pembersihan dan kembali dihirup makhluk hidup lainnya. Dan abu yang akan dikumpulkan keluarga untuk dilarung ke lautan agar menyatu kembali dengan bumi pertiwi sang pemilik tanah. Paduan dari keempat unsur ini pada gilirannya akan terkomposisi lagi membentuk makhluk lainnya, lagi-lagi ibarat lagu dan nyanyian, yang juga hanya terdiri dari tujuh nada dasar yakni do re mi fa so la si. Dengan ketujuh nada dasar itu telah, dan bisa, terkomposisi tembang-tembang indah, mulai dari tembang klasik sampai tembang-tembang modern dari berbagai aliran musik.
Kremasi sedang berjalan. CD sedang melantunkan syair-syair lagu indah. Proses penguraian Empedokles sedang berlangsung. Itulah kematian. Senada dengan kata-kata Rasul Paulus, bahwa dalam kematian hidup kita diubah, bukannya dilenyapkan. Hidup itu lebih kuat daripada kematian. Sekali hidup tetap hidup. Dalam kematian kita diuraikan dan diperbaharui untuk kembali masuk dunia kehidupan.
Entah dalam hidup maupun dalam kematian, manusia tetaplah mahkluk sosial. Kita semua berbagi (sharing) nafas kehidupan yang satu dan sama, dan dalam kematian kita terurai untuk kembali lagi masuk ke dunia kehidupan. Manusia boleh mati tetapi kehidupan tak pernah mati, dan akan terus didendangkan. Inilah latar inspiratif bagi terlahirnya puisi berikut ini.

Papa

Ibarat sekeping cakram
Memasuki perangkat pendendangnya
Engkau melaju masuk
Pasti tanpa ragu
Disambut Sang Pemunya nada-nada abadi

Lalu engkau pun mulai melantunkan
Madah-madah indah
Yang telah kau gubah buat kami
Untuk kami dendangkan

New Oasis 25 Maret 2007
Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s