LEMBATA DARI KACAMATA ILLICH

Bulan Juli 2005 lalu saya sempat berjalan-jalan melakukan kunjungan keluarga dan berziarah ke makam orang tua di Lembata. Saya menyaksikan banyak perubahan, kalau tidak latah mengatakan kemajuan, sudah dan terus diupayakan di bumi Lembata. Tanda-tandanya cukup kasat mata. Transportasinya sudah jauh lebih lancar. Komunikasi dengan Lembata pun sudah jauh lebih mudah. Sudah ada listrik 24 jam di Lewoleba dan listrik swadaya di banyak desa. Pemukiman di Lewoleba sudah meluas memenuhi lahan-lahan yang dulunya kosong, pertanda telah terjadi urbanisasi besar-besaran. Kegiatan perkantoran pun sudah mulai bervariasi dan beranekaragam. Jaringan jalan raya sudah menjulur ke utara selatan timur barat sepanjang 610,45 km yang sebagian terbesarnya sudah bisa dilalui oto. Semua fenomena ini seolah membuka mata kita bahwa Lembata sedang menggeliat.
Kedang dan Ile Ape merupakan dua tempat yang menjadi sasaran kunjungan saya. Luar biasa. Empatpuluh tahun lalu saat kami meninggalkan kampung halaman untuk bersekolah ke Hokeng, jarak Kedang Lewoleba harus kami tempuh dengan berjalan kaki selama 2 hari. Perjalanan yang sangat berat terutama bagi anak-anak yang baru lepas SD dan masuk SMP.
Pada masa itu perjalanan Kedang-Lewoleba memang menjadi via intellectualita. Artinya jalan ini hanya dilalui anak-anak sekolah lanjutan yang pergi atau pulang dari liburan bersama rombongan pengantar atau penjemputnya, dan para guru yang harus pergi ke Lewoleba atau Larantuka untuk urusan kependidikan. Selain mereka tidak ada orang Kedang, waktu itu, yang pergi ke Lewoleba, entah untuk tujuan ke pasar, atau sekadar melancong. Mereka yang merantau ke Ambon atau Tawao umumnya berangkat dengan menggunakan perahu layar (Bugis). Biasanya perahu-perahu tersebut langsung mengangkut mereka dari lokasi yang tidak jauh dari kampung.
Lain halnya dengan perjalanan Ile Ape-Lewoleba. Karena jaraknya sudah lebih dekat, di masa itu lebih banyak orang Ile Ape pulang pergi ke Lewoleba. Terutama pada hari pasar, di jalan yang kini bernama Trans Lembata itu, kita bisa melebur dalam ramainya orang berjalan kaki menuju pasar Lewoleba. Tampak para gadis dan ibu-ibu mengayun langkah dengan junjungan di kepala, sambil tangannya terus asyik memainkan alat pintal benang untuk bahan pembuat sarung. Kini semua kenangan perjalanan ini tersimpan rapi dalam album nolstalgia. Setiap saat album itu bisa dibuka kembali untuk dikontraskan dengan situasi terkini yang memang sudah banyak berubah.
Namun ketika mengkontraskan pembangunan, yang menunjukkan perubahan besar itu, dengan manusia Lembatanya, saya mulai bertanya apakah memang pembangunan yang pesat ini sejalan dengan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat. Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja menuntut penelitian yang lebih cermat. Namun beberapa gejala yang cukup kasat mata membuat pertanyaan saya menjadi sah-sah saja. Bencana kelaparan misalnya masih saja menimpa penduduk yang tidak lagi tinggal di gubug-gubung dan rumah-rumah reyot. Di bidang kesehatan, sepertinya perkembangan kesehatan masyarakat kecil tidak begitu sejalan dengan bertambahnya rumah sakit dan klinik serta tenaga medis. Kebakaran hutan masih saja terjadi. Pelesetan Lembata menjadi lembakar juga masih tetap berlaku.
Saya jadi teringat lagi akan gagasan kritis Ivan Illich tentang pelembagaan nilai, yang disorotinya dengan menggunakan pendidikan sekolah sebagai paradigmanya. Romo kelahiran Wina dan bekerja di AS ini menulis buku Deschooling Society (Bebas dari Sekolah) hampir 30 tahun lalu, yang mengeritik pendidikan sekolah, antara lain karena sekolah melakukan pelembagaan nilai. Sekolah membuat murid tidak bisa lagi membedakan antara pengajaran dan pengetahuan, ijazah dan kemampuan, seperti halnya masyarakat juga sudah tidak membedakan lagi antara pelayanan medis dan kesehatan, kekuasaan militer dan keamanan. Nilai pengetahuan dilembagakan dalam pendidikan sekolah, nilai kesehatan dilembagakan dalam pelayanan medis, keamanan dilembagakan dalam kekuasaan militer.
Pertanyaan yang saya renungkan di Lembata adalah apakah tidak terjadi pelembagaan semacam itu juga? Misalnya, bahwa kesejahteraan masyarakat dilembagakan dalam pembangunan? Kesejahteraan dan pembangunan adalah dua hal yang tidak identik. Dua-duanya merupakan nilai dan karena itu merupakan tujuan yang harus dikejar. Tetapi keduanya mempunyai nilai yang berbeda. Pembangunan mengandung nilai instrumental karena itu boleh dikejar sebagai tujuan tetapi levelnya adalah tujuan instrumental juga. Sedangkan kesejahteraan mengandung nilai intrinsik maka bisa dikejar sebagai tujuan terminal. Pembangunan hanyalah sarana untuk mencapai kesejahteraan. Tetapi sarana tidak otomatis memandu ke nilai intrinsik atau tujuan terminal. Oleh karena itu harus dievaluasi secara serius bahwa pembangunan yang digalakkan itu betul menjadi sarana untuk mencapai tujuan kesejahteraan. Jangan sampai kedua nilai dan tujuan itu diidentikkan sehingga pembangunan dikejar demi pembangunan saja tanpa mempedulikan dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat. Kita sudah lihat banyak contoh di wilayah lain, di mana pembangunan dimitoskan sebagai kesejahteraan sehingga apa saja yang dilakukan demi pembangunan itu selalu sah-sah saja. Juga kalau pembangunan itu terpaksa memakan korban dan menyengsarakan sekelompok orang.
Di bidang kesehatan, timbul pertanyaan di benak saya apakah ada peningkatan kesehatan yang sejalan dengan sudah bertambahnya rumah sakit dan klinik? Apakah rakyat semakin sejahtera atau malah semakin menderita? Dulu dalam masyarakat animis orang mengaitkan penyakitnya dengan ketidak-selarasan hubungan vertikal dengan Tuhan, Lera Wulan atau apa pun namanya, atau hubungan horisontal dengan sesama dalam kaitan dengan adat. Maka pengobatannya sederhana saja. Mereka mendatangi dukun, mencari kesalahan si sakit, kesalahan pun dibereskan, lalu diharapkan datangnya kesembuhan. Memang tidak semua yang sakit itu sembuh. Yang punya daya tahan tubuh kuat, bisa sembuh dengan bantuan obat-obat tradisional atau sugesti sang dukun. Sekarang di zaman modern ini orang sudah tahu bahwa penyakit itu ada penyebabnya yang tidak ada hubungannya dengan kesalahan vertikal atau horizontal tadi. Makanya supaya sembuh, si sakit perlu mengunjungi klinik atau dokter, untuk mendapatkan obat. Tetapi kalau dia tidak bisa melakukan itu semua lantaran tak punya duit, bukankah itu membuat pusing tujuh keliling? Jalan keluarnya? Dukun lagi yang dicari, sementara keyakinan sisakit akan kepiawaian sang dukun sudah mulai memudar oleh pengetahuan tentang penyebab penyakit. Kekuatan sugestif sang dukun pun ikut memudar. Si sakit menjadi ibarat lebai malang. Ke dokter tak punya duit, ke dukun tak lagi yakin. Ini bukan kemajuan menuju kesejahteraan tetapi maju satu langkah mundur dua langkah. Kelihatannya maju tetapi sebenarnya mundur.
Di sinilah perlunya perencanaan pembangunan yang komprehensif dengan berkonsentrasi pada kesejahteraan, bukan sekadar pembangunan. Kesejahteraan dan pembangunan itu tidak identik. Jangan terpukau pada pembangunan dan melupakan kesejahteraan. Tolok ukur untuk segala aktivitas dan kesibukan pembangunan adalah sejauh mana semua itu menunjang kesejahteraan rakyat.
Sebentar lagi Lembata akan menyelenggarakan pilkada. Inilah titipan saya untuk para cabub baru dan bukan hanya bupati terpilih yang baru. Semoga cabub-cabub baru itu tidak hanya bersaing memperebutkan kursi bupati melainkan juga siap bekerja sama untuk mensejahterakan Lembata, dengan sarana dan instrumen-instrumen yang memadai.

Jakarta, 17 Agusrus 2005
Flore Pos, 25 Agustus 2005

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s