DARI PROBLEM-SOLVING-ER MENJADI PROBLEM SOLVER

Keterpurukan kita dalam hampir segala aspek kehidupan mungkin disebabkan juga karena kita justru terlalu mendewakan atau salah menilai proses. Artinya kita lebih sibuk dengan proses yang kemudian ternyata tidak menunjang pencapaian tujuan. Ini bisa terjadi kalau ada kesenjangan antara proses dan tujuan, atau juga kalau prosesnya lebih menarik (karena ada vested intererst) ketimbang tujuan.
Sejak bangsa kita tenggelam dalam multi krisis, sudah banyak usaha yang kita lakukan untuk keluar dari krisis ini. Tetapi kurang berhasil. Kita merupakan bangsa yang paling lama terkungkung dalam krisis, sementara bangsa lain sudah berhasil mengatasinya. Kiranya kurang pas kalau dikatakan kita kurang berusaha. Sebenarnya kita terus menerus sibuk dengan berbagai usaha, yang ternyata kurang efektif dan efisien. Kita menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya, dan berusaha keras untuk bisa keluar dari masalah, tetapi, hasilnya tidak sepadan. Masalah yang satu belum selesai, sudah datang masalah baru. Akhirnya, kita tertimbun di bawah tumpukan masalah dan hampir tak bisa lagi keluar. Dengan kata lain, kita lebih sibuk melakukan kegiatan problem solving tanpa pernah bisa benar-benar menyelesaikan masalahnya.
Sejak angin demokrasi mulai bertiup di negeri ini, muncul banyak tokoh yang ingin mengabdi (atau berambisi) menjadi pemimpin yang berniat menata negeri yang porak poranda ini, mulai dari pusat hingga daerah. Namun sebagian besar mereka lebih sibuk dengan kegiatan problem solving (menjadi problem-solving-er), dan tak pernah tuntas menyelesaikan berbagai masalah (menjadi problem solver). Rencananya bagus, bicaranya hebat, aksi dan manuvernya piawai, tetapi hasilnya tetap tidak jelas. Mereka memang bukan tipe orang malas, yang hanya pandai bicara tanpa kerja alias no action talk only, melainkan mereka juga bekerja keras dan sibuk melakukan banyak kegiatan, namun tidak mencapai hasil yang diharapkan (no result, action only).
Kiranya harus dikatakan bahwa bangsa kita tergolong bangsa problem solving-er, bukan problem solver; bangsa yang sibuk melakukan problem solving (menjadi problem solving-er) tanpa pernah bisa menyelesaikan masalahnya (menjadi problem solver).
Problem solver memang melakukan kegiatan problem solving. Tetapi berdasarkan prinsip konversi dalam logika, proposisi ini tidak begitu saja bisa dikonversi menjadi “semua yang melakukan problem solving adalah problem solver.” Lagi pula, problem solver itu bukan sekadar melakukan kegiatan problem solving saja, melainkan benar-benar menyelesaikan masalah. Jadi ada beda antara problem solver dan problem solving-er.

Penguasa dan Pengusaha
Sebenarnya problem solving-er juga bukan tidak punya hasil. Maka perlu dirumuskan dengan tepat, apa yang dimaksudkan dengan hasil. Hasil selalu berkaitan dengan tujuan. Kalau tujuan sesungguhnya adalah sekadar aksi, maka hasil problem solving-er adalah aksi itu sendiri. Apa lagi kalau aksi itu saja sudah menghasilkan sesuatu bagi sang aktor. Pantas kalau aksi atau proses itu bisa beralih fungsi menjadi tujuan.
Bukan rahasia lagi bahwa banyak proposal dan proyek yang diajukan atas nama problem solving sebenarnya lebih berfokus pada kegiatan problem solvingnya yang tentu saja membutuhkan anggaran, daripada berfokus pada penyelesaian masalahnya. Makin banyak masalah makin banyak kegiatan problem solving. Eksistensi masalah mengandaikan eksistensi proyek. Kegiatan proyek adalah kegiatannya pengusaha. Dengan kata lain pengusaha berurusan dengan aksi, proses (menjadi problem solvinger), penguasa berurusan dengan tujuan (menjadi problem solver). Kalau penguasa lebih dominan berarti fokusnya lebih pada tujuan . Tetapi kalau pengusaha lebih dominan, fokusnya lebih pada proses, aksi.

Produk, ouput, outcome
Roger Kaufman, dalam bukunya Identifying and Solving Problem membedakan dengan baik apa yang merupakan alat dan tujuan. Tujuan, yang pencapaiannya disebut hasil pun, dibedakannya menjadi product, output, dan outcome.
Product atau output itu masih terbatas pada lingkungan internal organisasi, sedangkan outcome itu sudah mencakup masyarakat luas Tujuan proyek pembangunan sesungguhnya adalah outcome dan bukan sekadar product atau output saja. Dengan kata lain product dan output termasuk tujuan instrumental, sedangkan outcome termasuk tujuan terminal.
Namun perlu disadari bahwa outcome pun tidak otomatis tercapai oleh alat atau pencapaian product dan output. Hubungannya tidak serta merta, maka perlu diarahkan dan dievaluasi terus menerus. Hal ini juga diingatkan Ivan Illich dalam kritiknya tentang pelembagaan nilai yang sering terjadi dalam berbagai aspek. Misalnya, pelembagaan nilai pengetahuan pada sekolah, nilai kesehatan pada pelayanan medis, atau keamanan pada kekuasaan militer. Pelembagaan ini mengakibatkan lebih terfokusnya perhatian kita pada lembaga, ketimbang pada nilai, pada product dan output, ketimbang pada outcome, pada proses, ketimbang pada tujuan, pada pengusaha ketimbang pada penguasa. Apa jadinya kalau pengusaha lebih dominan daripada penguasa?

Pemimpin yang problem solver
Untuk keluar dari masalah dan menjadi manusia unggul, kita juga membutuhkan tipe pemimpin problem solver, yang tidak hanya puas dengan hasil dalam bentuk product, atau out put untuk konstituen internal saja, melainkan terus mengupayakan terwujudnya outcome: kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Para pemimpin yang problem solver adalah pemimpin yang terpanggil dan bertanggung jawab untuk menyelamatkan rakyatnya (problem solver), bukan pemimpin yang memanfaatkan posisinya hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya (problem solving-er); pemimpin yang bisa memastikan bahwa lembaga-lembaga (politik, ekonomi, sosial, budaya, agama) adalah sarana dan karena itu merupakan tujuan instrumental, dan tidak boleh menjadi tujuan terminal; pemimpin yang berani mengambil tindakan terhadap lembaga dan personil mana pun dalam jajarannya yang tidak menjamin tercapainya nilai dan outcome: yakni kesejahteraan bersama.
Pemimpin bertipe problem solver adalah pemimpin dari manusia unggul, matang dan penuh kepercayaan diri, bukan pemimpin yang masih bergelut dengan kepribadiannya sendiri, yang merasa diri masih seperti katak di bawah tempurung, dan karenanya perlu diberikan tambahan anggaran untuk jalan-jalan keluar negeri, hanya supaya bisa tampil lebih pede.

Jakarta 6 Desember 2005

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s