BERCERMIN PADA PAGAR

Kita sudah sering mendengar pernyataan bahwa untuk menilai apakah suatu masyarakat berbudaya atau tidak, jangan perhatikan ruang tamunya melainkan kamar mandinya. Tidak jarang kita temukan rumah yang megah, dengan ruang tamunya tertata rapi, tetapi kamar mandinya jorok. Pernyataan senada dikemukakan juga mengenai bagaimana menilai kepribadian seseorang. Jangan terpukau oleh wajah dan penampilannya, perhatikan juga kakinya. Bisa jadi ada pria yang ganteng dan parlente tetapi kaus kakinya menyebar aroma yang membuat orang melengoskan hidung. Bisa saja ada wanita yang wajahnya menarik lantaran dipoles dandanan yang aduhai, tetapi kakinya kotor, budukan, dan tak terawat. Hal serupa juga bisa dikatakan tentang pagar. Pagar juga memerikan (describe) budaya lingkungannya. Singkat kata, kalau mau mengenal masyarakat lingkungan tertentu, coba perhatikan juga keadaan pagarnya. Apakah masih tegak dan tertata rapi, atau sudah berantakan, tak terawat, dan jebol atau dijebol sana sini.
Kita ambil saja Jakarta sebagai contohnya. Cobalah perhatikan pagar-pagarnya. Pagar batas jalanan misalnya, tampaknya tak pernah utuh. Pasti dibobol. Sekadar memberikan sedikit celah untuk bisa dilewati orang yang menginginkan jalan pintas. Pagar rel kereta api yang bermaksud memberi keamanan bagi mereka yang berada di sekitar rel, juga tak ada yang utuh. Amatilah pintu gerbong kereta terutama kereta rel listrik (KRL) yang melayani penumpang Jabotabek, kalau ini boleh diasosiasikan juga dengan pagar. Pintu pengaman yang dibuka dan ditutup secara otomatis itu, diganjal supaya rusak dan tak pernah bisa menutup lagi. Dengan demikian orang bisa bergelantungan di pintu walaupun sebenarnya di dalam gerbong ada tempat yang lowong.
Yang boleh kita analogikan dengan pagar juga adalah hukum dan peraturan. Kita mempunyai begitu banyak hukum dan peraturan yang bagus, bahkan sangat tegas, serta himbauan-himbauan bersifat ajakan yang simpatik. Mulai dari Undang-undang subversif sampai larangan merokok dan meludah dalam bis kota. Mulai dari yang ditegaskan lewat mekanisme fisik yang kokoh seperti beton pembatas sampai yang lebih berbudaya dan manusiawi lewat tulisan serta tanda dan simbol. Mulai dari himbauan yang bernada lembut seperti “Terima kasih, Anda tidak merokok dalam bis ini” sampai pengumuman bernada kasar seperti “dilarang kencing di sini kecuali anjing”. Namun banyak hukum, peraturan, larangan dan himbauan ini mengalami nasib yang sama dengan pagar, dijebolkan. Bahkan benar-benar ironis kalau sering terjadi bahwa persis di bawah papan larangan “dilarang berjualan di sini”, banyak orang justru berjualan.
Kesan yang tidak asing lagi juga adalah bahwa peraturan yang ditetapkan itu sering hanya sebagai macan ompong. Akibatnya tidak berwibawa. Banyak ketetapan yang dilanggar tanpa sanksi atau tanpa ada yang bisa memberikan sanksi. Kondektur takut kepada penumpang yang tidak beli karcis. Pada hal yang wajar itu penumpang yang tak membeli karcis takut kepada kondektur. Maka bukan hal luar biasa kalau Perumka mengumumkan akan menurunkan penumpang tanpa karcis atau penumpang yang duduk di atap. Siapa berani menjalankan keputusan ini, bukan hanya di saat masih hangat-hangat seperti ini, melainkan sampai tidak ada lagi yang menganggap bahwa naik kereta tanpa karcis itu aneh; atau sampai orang tidak menganggap lagi bahwa yang bisa naik kereta di atas atap itu jagoan. Sudah lama ada ancaman sejenis itu yang cuma sekadar ditegaskan kembali, berulang-ulang karena memang tak pernah tegas. Hanya semacam pernyataan perang-perangan (mungkin sebagai reaksi atas tertembaknya seorang kondektur saat memeriksa karcis kereta di Purwokerto?). Dan seperti perang-perangan, yang ini pun akan segera menjadi promulgasi yang cuma keras suaranya tapi tidak ada tenaganya. Yang cuma besar ekstensinya tapi kecil komprehensinya. Cuma siaran ulang yang membosankan.
Yang paling menarik perhatian adalah undang-undang lalu lintas, yang terkenal sangat keras itu. Bagaimana nasib undang-undang tersebut di lapangan? Bobol. Pada hal saat menjelang diluncurkan, undang-undang ini merupakan momok yang mengerikan dan ancaman yang menciutkan nyali bagi mereka yang roda hidupnya di atas roda. Tetapi sekarang? Tidak terlalu jadi masalah lagi. Sudah bobol. (Baca Kompas Minggu 7 September 1997) Ini membuktikan bahwa kita masih memegang kunci teknologi yang ampuh untuk membongkar pagar. Namanya sogok, suap, semir, korek api, rokok, kolusi dan seribu nama lagi dengan wajah yang sama, bongkar pagar.
Gejala ini memang bisa menceminkan sikap yang yang pernah dikemukakan oleh Koentjaraningrat bahwa masyarakat kita bermental suka menerabas. Tapi kalau dicermati, tampak bahwa sikap ini sebenarnya merupakan juga sisi lain dari sikap efisien yang dituntut dalam dunia bisnis dan ekonomi. Daripada harus menghabiskan waktu dan tenaga dengan menaiki jembatan penyeberangan, lebih baik jebolkan saja salah satu tiang pagar pembatas agar bisa lebih cepat menyeberang jalan. Daripada harus mengurus SIM yang berlaku tiga tahun dengan biayanya Rp. 100.000, saya memilih ditilang. Mengingat saya tidak punya kendaran, tetapi sering cuma meminjam kendaraan teman, maka menurut perhitungan selama tiga tahun saya bisa kena tilang 10 kali. Dan kalau denda sekali tilang adalah Rp. 5000, maka 10 x Rp. 5.000 = Rp. 50.000. Ternyata masih lebih murah.
Kalau dengan mencopet saya menghasilkan lebih banyak uang mengapa saya harus berlelah-lelah pulang pergi kerja dalam rutinitas yang membosankan, dan gajinya kecil? Bila dengan menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarangan tempat saya bisa menyedot lebih banyak penumpang, mengapa tidak saya lakukan? Kalau dengan memacu kendaraan secepat mungkin, saya dapat memenuhi setoran dan membawa pulang penghasilan lebih besar, mengapa strategi ini tidak saya tempuh? Kalau dengan mengetem kendaraan berlama-lama, saya akan menghasilkan lebih banyak uang, mengapa saya harus tergesa-gesa? Kalau dengan mengemis saya dapat menghasilkan banyak uang, mengapa saya harus berspekulasi mencari kegiatan lain? Mengapa saya juga harus alih profesi kalau menjadi hostes atau pekerja seks ternyata membuat saya bergelimang duit? Apa lagi kalau profesi lain itu begitu sulitnya didapatkan? Soal halal dan tidak halal? Pecunia non olet (uang tidak berbau) kata pepatah Latin. Dan semuanya mungkin. Yang penting menghasilkan uang. Dan uang adalah segala-galanya. Anda bisa membuat apa saja kalau punya uang. Bahkan uang bisa menyulap yang haram jadi halal.
Menjadi baik dan jahat sudah sama susahnya kini. Bahkan lebih susah dan melarat menjadi orang baik. Karena orang jahat banyak sabetannya, walaupun kecil gajinya, sedangkan orang baik hanya mengandalkan gaji yang seringkali kecil. Orang jahat ada komplotannya, ada mafianya, orang baik tidak; pencopet didampingi temannya yang siap membantu dan membela, orang baik tidak punya; dia harus sendirian menghadapi situasi bila nahas pun tiba dan dia harus berurusan dengan orang jahat, walaupun ada seribu orang baik di sekitarnya. Kalau dicopet dan si orang baik sempat berteriak, jangan heran jika tidak ada yang berani menolong. Orang jahat lebih bermotivasi, orang baik kurang kalau tidak mau mengatakan tidak. Orang jahat nekat, orang baik pengecut. Orang jahat berani, orang baik kecil nyalinya. Dan seringkali orang baik itu bodoh, dan orang jahat itu pintar. Orang jahat itu banyak akal, orang baik kurang akal. Orang jahat itu biadab, orang baik beradab. Orang jahat tak tahu aturan, orang baik tahu aturan. Orang jahat itu slebor, orang baik santun. Orang jahat tidak tahu malu, orang baik malu-malu. Orang jahat kasar alias tidak berperasaan, orang baik berperasaan, halus lagi. Pada hal bisa jadi dua-duanya berbudaya timur yang sebenarnya sama-sama berperasaan halus. Cuma yang pertama itu perasaannya begitu halus sampai menjadi tidak ada lagi.
Dan keadaan itu akan diperparah lagi kalau kejahatan ini juga sudah merasuki mereka yang menjaga batas pagar antara baik dan jahat, atau yang menjaga tegaknya pagar. Kalau menjaga tegaknya pagar hukum dan aturan ternyata penghasilannya jauh lebih rendah daripada membiarkan pagarnya jebol, maka sempurnalah penderitaan orang baik. Dia tidak punya siapa-siapa lagi sebagai tempat mengadu, tempat mencari keadilan. Pada hal ironisnya dia merasa punya, dan formalnya dia punya tetapi praktisnya tidak. Dia merasa seperti punya pembela. Nyatanya nanti justru dia dipojokkan dan menjadi terdakwa. Situasinya setali tiga uang dengan saat sistem kekebalan tubuh seorang manusia digerogoti virus Aids. Sel-sel T dalam darah putih yang fungsinya mengorganisasikan pembasmian virus atau bakteri-bakteri yang menyerang tubuh manusia, sudah dirasuki virus Aids dan tidak berfungsi lagi. Makanya penyakit lain dengan mudah sekali bisa menyerang dan merobohkan tubuh pengidap virus berbahaya tersebut. Kalau ada virus atau bakteri yang mengganggu, sel-sel tubuh melaporkan bahaya ini kepada sel-sel T. Namun sel-sel T ini tidak lagi tanggap dan seperti seharusnya mengkonsolidasi kekuatan, karena sudah dibuat tak berdaya oleh virus AIDS.
Maka pagar yang jebol itu juga mencerminkan sesuatu yang mengerikan. Pagar jebol itu seolah mengingatkan agar berhati-hatilah kalau mau jadi orang baik. Pagar jebol itu memaklumkan teralienasinya orang baik di negeri ini. Bahkan pagar jebol itu seolah menyampaikan bahwa sekarang yang jahat itu sudah lazim dan yang baik itu langka. Yang jahat itu umum dan yang baik itu aneh. Dan itu berarti tinggal sedikit langkah lagi keadaan berbalik menjadi yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat. Maka pada suatu saat pagar jebol juga bisa mencerminkan masyarakat kita sebagai tubuh yang sudah tergerogot virus AIDS, walaupun mungkin belum menjadi penyakit. Tetapi masyarakat kita lalu potensial menjadi penular berbahaya yang akan mematikan “tubuh” masyarakat “manusia” kita. Dan yang tinggal hanya homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya), seperti dinyatakan filsuf Thomas Hobbes.
Lalu kita sepertinya masuk ke dalam dunia yang oleh Albert Camus (filsuf Perancis kelahiran Aljazair ) disebut sebagai absurd, yang menurut dia bisa membawa kita ke dua sikap yang serba salah. Menentang absurditas di satu pihak atau mengiakannya di pihak lain. Menentang atau melarikan diri dari absurditas akan memunculkan dua sikap yakni (1) lompatan ke penyelesaian yang berbau transendental. Atau (2) sikap bunuh diri. Mengiakan absurditas akan membawa sikap larut ke dalam absurditas. Namun menurut Camus pula sikap yang tepat di sini bukan mengiakan bukan juga melarikan diri melainkan menghadapi dengan tegar. Istilah yang akrab sekali dengan Camus adalah “pemberontakan”. Apa pun yang merupakan maksud Camus dengan pemberontakan, yang jelas adalah bahwa absurditas jangan dihadapi dengan sikap pelarian, sikap putus asa karena tidak melihat jalan keluar, atau sikap keberlarutan dalam absurditas. Bercermin pada pandangan Camus ini kita barangkali perlu juga mencermati cara-cara kita menghadapi situasi kita yang tercermin dalam pagar yang jebol ini. Jangan sampai penyelesaian-penyelesaian yang kita tempuh juga mencerminkan ketak berdayaan kita terhadap situasi yang kita alami, lalu kita larut dalam pelarian-pelarian. Lebih parah lagi kalau pelarian kita itu disuport dan dirangsang lagi agar kita terbuai dan asik dalam pelarian kita sendiri. Atau kita telah hanyut dalam keberlarutan dengan mengiakan absurditas. Kalau begitu kita juga perlu berontak tidak dalam arti bermakar ria melainkan berupaya mencari alternatif lain dari kedua alternatif di atas yakni lari dari atau mengiakan absurditas. Mudah-mudahan pagar yang jebol bisa memantulkannya bagi kita.

Jakarta, 10 September 1997
Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s