AGAMA IDEAL

Judul tulisan di atas sebenarnya diinspirasikan oleh pemikiran Plato tentang dunia idea. Menurut dia realitas kita terdiri dari dua dunia yakni dunia idea dan dunia inderawi. Plato memang sangat meremehkan semua yang bersifat inderawi, termasuk tubuh manusia dan mengagungkan apa yang dia sebut sebagai realitas sejati yakni idea yang juga merupakan dunia jiwa manusia. Bahwa dunia inderawi itu cuma bayangan semu dari realitas sejati yang ada dalam dunia idea. Dunia idea itu abadi, sempurna, tak berawal tak berakhir, utuh, bulat, tak bisa ditambahkan, tak bisa dikurangi, seperti halnya jiwa manusia. Sedang dunia inderawi sebaliknya, bersifat sementara, berubah-ubah, tidak sempurna, tidak utuh, karena dunia inderawi adalah gambaran dari dunia idea, foto dari dunia idea, seperti halnya tubuh manusia. Maka jelas sekali bahwa aslinyalah yang sempurna dan bukan fotonya.
Misalnya saja segitiga idea dan segitiga inderawi. Segi tiga inderawi yang dapat saya tampilkan bagi indera dengan mewujudkannya dalam gambar atau membentuknya dari bahan tertentu, segi tiga ini sebenarnya diambil dari segitiga ideal yang sekali segi tiga tetap segitiga, karena memang tak bisa berubah menjadi lingkaran. Sementara segitiga inderawi itu bisa berubah, bisa hilang, bisa rusak, bisa dibuat lagi, bisa dikecilkan, bisa dibesarkan. Dan semua segitiga ini berasal dari hanya satu segitiga ideal yang dikatakannya satu-satunya, sempurna, tidak berubah, tak berawal dan tak berakhir tadi.
Plato juga mengamati bahwa banyak orang sudah merasa puas berhadapan dengan dunia inderawi saja. Dan mereka beranggapan bahwa dunia sejati, dunia yang benar adalah dunia inderawi. Pada hal sesungguhnya mereka tenggelam ke dalam kekeliruan. Karena apa yang mereka lihat dalam dunia inderawi hanya bayangan saja dari apa yang sejati yang berada dalam dunia idea. Plato mengilustrasikan pandangan ini dalam mite tentang penunggu-penunggu gua yang terkenal itu. Para tawanan di sebuah gua yang setiap hari hanya melihat bayangan di dinding gua beranggapan bahwa bayangan-bayangan itu lah yang merupakan realitas sebenarnya. Pada hal mereka tidak tahu bahwa realitas dari bayang-bayang yang mereka lihat pada dinding gua itu berada di belakang mereka. Dan hanya satu tawanan yang kemudian bebas dan berhasil melihat realitas sejati itu, namun dia tidak berhasil meyakinkan para tawanan lain yang mati-matian berpendapat bahwa apa yang terdapat pada dinding gua itu benar-benar merupakan realitas sesungguhnya.
Maka kalau kita secara konsisten menerapkan pemikiran Plato ini pada pembicaraan tentang agama, lantas bisa disimpulkan bahwa ada agama ideal dan ada agama inderawi. Agama ideal adalah agama yang sempurna, tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir. Maka agama yang kita anut di dunia ini sebenarnya agama inderawi. Sedang yang aslinya ada dalam dunia idea. Dengan demikian pisau analisis Plato akan sampai pada kesimpulan bahwa agama yang kita anut dan berupaya wujudkan di dunia ini sebenarnya sesuatu yang merupakan bayangan tak sempurna dari agama sempurna yang utuh, bulat, tak berawal tak berakhir yang berpangkal pada dunia idea. Karena agama kita sebenarnya hanya merupakan pengejawantahan dari agama idea, maka agama kita bisa berwujud macam-macam tetapi tetap merupakan perwujudan dari agama yang satu dan sempurna itu. Sama seperti segi tiga inderawi yang juga bisa bermacam-macam bentuk dan ukurannya, yang sebenarnya merupakan perwujudan dari satu segitiga idea yang utuh bulat dan sekali segi tiga tetap segitiga itu.
Sama halnya juga berbagai bentuk negara sebenarnya merupakan perwujudan tak sempurna dari satu negara ideal yang coba diperikan Plato dalam karyanya Politeia. Maka tidak pada tempatnya kalau sebuah negara misalnya mengklaim dirinya sebagai negara ideal dan paling sempurna di dunia. Karena negara yang sempurna tidak bersifat inderawi. Negara yang paling sempurna adalah negara ideal dan berada di dunia idea.
Plato memang pernah mencoba mewujudkan negara ideal itu di dunia, yang masyarakatnya terdiri dari tiga golongan yakni para pemimpin, pembantu (prajurit) dan para tukang. Ketiga kelompok ini sebenarnya merupakan bagian dari jiwa manusia yakni Ratio yang dalam tubuh manusia terdapat pada kepala merupakan sumber bagi kebijaksanaan yang diprasyaratkan bagi seorang pemimpin; keberanian yang dalam tubuh manusia terletak pada dada merupakan keutamaan pokok bagi seorang serdadu pembela negara; dan pengendalian diri yang dalam tubuh manusia terdapat pada perut ke bawah merupakan keutamaan yang erat berkaitan dengan para tukang dan pengrajin. Dan dia mengusulkan agar para pemimpin harus menjalani pendidikan khusus (kurikulum khusus) dan cara hidup khusus (tidak berkeluarga), agar seluruh konsentrasi dan pikiran pemimpin negara itu semata-mata untuk negara. Benar-benar negara ideal dan karena itu tak bisa diwujudkan.
Namun, seperti kita ketahui, Aristoteles membantah keras pandangan Plato gurunya ini, karena menurut dia apa yang oleh Plato disebut dunia idea itu sebenarnya baru ada dan muncul sesudah pengalaman manusia akan realitas yang konkrit. Maka idea itu sebenarnya tidak lain dari abstraksi dan aprehensi atas suatu realitas yang bersifat inderawi. Yang terjadi di sini adalah penarikan dan penangkapan hakikat dari suatu realitas. Dengan demikian idea itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri melainkan selalu bersatu dengan realitasnya. Aristoteles menggambarkan itu dalam ajarannya tentang forma materi atau aktus potensi . Bahwa setiap realitas selalu terdiri dari forma-materi, begitu juga aktus potensi yang tidak terpisahkan.
Tapi dalam persoalan agama ini Plato nampaknya membantu kita untuk memahami lebih jelas karena agama itu bukan merupakan abstraksi dan aprehensi dari suatu agama inderawi yang konkrit melainkan pengejahwantahan dari sesuatu yang kita sebut wahyu, yang di luar jangkauan inderawi bahkan ratio manusia, tetapi harus diterima oleh persepsi dan ratio. Dengan kata lain wahyu yang ilahi dan penuh dengan keluhuran, kekayaan, dan kekuatan transendental itu harus diterima dalam wadah kemampuan manusia yang terbatas. Bahkan wahyu itu disampaikan pada satu lingkup zaman dan masyarakat tertentu dan karena itu masih harus diterapkan pada zaman dan lingkup lain dengan berbagai macam persoalan yang mungkin sama sekali baru yang tidak dikenal pada zaman wahyu itu diturunkan.
Tanggapan terhadap wahyu itulah yang kita sebut iman. Lalu kita bisa katakan agama “ideal” itu adalah wahyunya sedangkan agama “inderawi” itu adalah iman. Karenanya manusia harus terus menerus memperdalam imannya lantaran kemanusiaannya membatasi dia untuk menerima secara utuh seluruh kekayaan dan keagungan wahyu itu. Maka boleh dikatakan wahyu itu sempurna tapi iman itu tidak. Karena ketidak sempurnaan itulah maka bisa muncul kemungkinan bahwa iman itu agak melenceng. Maka perlu juga adanya sikap pertobatan terus menerus. Pertobatan itu hanya mungkin kalau ada keterbukaan terhadap kemungkinan adanya ketidak sempurnaan. Sikap fanatisme yang ekstrim misalnya memperlihatkan bahwa kita terlalu mengikat diri bukan pada agama ideal melainkan pada agama manusia, atau lebih pada iman saja dan bukan pada wahyu. Dan kecenderungan pemolitisasian agama juga sebenarnya memanfaatkan kelemahan yang sama. Ada kecenderungan untuk menonjolkan segi-segi tertentu saja yang menguntungkan secara politis dan melupakan aspek lain yang sangat kaya dari wahyu.
* * *
Dilihat dari sejarah munculnya agama-agama, nampak bahwa misi dari agama-agama ini adalah membuat hidup kita menjadi lebih baik. Tidak hanya sekarang melainkan juga nanti dalam kehidupan di akhir zaman, akhirat, atau eskaton. Maka agama ideal itu tidak ada yang jelek. Tetapi apakah agama-agama kita membuat kita lebih baik atau justru lebih buruk? Apakah misi agama-agama ini memang tercapai kalau para penganutnya tenggelam dalam permusuhan, saling curiga, tanpa rasa persaudaraan, keakraban dan persaudaraan? Apa lagi kalau kita semua dipersatukan oleh satu bangsa, bahasa dan tanah air? Apakah kita sebagai orang yang beragama tidak merasa risi dan sepertinya ada sesuatu yang kurang kalau kita bersatu dan bersahabat bukan karena kita semua manusia-manusia religius melainkan karena kita satu bangsa? Apakah rasa kebangsaan yang manusiawi saja malah mau dan berupaya mempersatukan kita dalam persaudaraan sementara keseluhuran ajaran agama yang mengajarkan tentang yang baik tidak bisa mempersatukan kita sebagai saudara dan sesama manusia? Apakah kita sebagai orang beragama tidak merasa malu kalau Bung Karno bisa mempersatukan kita sementara keluhuran agama kita tidak sanggup membuat kita bisa saling bersahabat dan saling menghargai? Kami tidak bermaksud meremehkan rasa kebangsaan di sini, melainkan hanya mau menunjukkan bahwa apakah kita sebagai orang-orang berjiwa religius ini tega-teganya merusak karya yang baik yang sudah dimulai para pendahulu kita?
Tentang hal ini saya punya pengalaman yang menarik dari sebuah desa udik di belahan Indonesia bagian Timur. Rasanya tak perlu menyebutkan nama desa yang jauh dari terkenal itu, yang pasti tidak ada namanya dalam peta. Penduduk desa itu umumnya beragama Katolik dan Islam. Dalam satu rumah bahkan ada yang Katolik ada juga yang Muslim. Kalau ada pembangunan di mesjid semua orang Katolik turut bekerja bakti membangun mesjid, kalau ada pembangunan di gereja semua penduduk termasuk yang muslim turut bekerja bakti membangun gereja. Tidak ada masalah di sini karena memang semua masih berhubungan darah sebagai keluarga. Prinsip mereka sederhana saja. Kalau agama membuat pecah belah itu sama dengan tidak ada perubahan apa pun, karena keadaan kita tetap saja seperti masa sebelum adanya agama. Pada hal agama datang untuk membawa kebaikan. Kalau ternyata yang dibawa adalah perpecahan, permusuhan, maka itu bukan kemajuan melainkan kemunduran. Atau sekurang-kurangnya tidak ada perubahan. Karena agama ternyata tidak menyumbang apa-apa ke arah yang lebih baik.
Sikap ini sebenarnya juga memperlihatkan bahwa pada dasarnya agama itu secara ideal baik. Namun sering kali mengalami reduksi atau penyimpangan entah sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar dalam pengejahwantahannya. Maka yang perlu diperhatikan bukan agama idealnya melainkan perwujudannya, agar benar-benar tidak terlalu jauh melenceng.

Jakarta, 16 September 1997

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s