JANGAN SAMPE

Sekelompok guru di Lembata pernah mendatangi DPRD meminta bantuan dana pada para wakil rakyat untuk membiayai perjalanan mereka mengunjungi ibu kota. Alasannya karena mereka sering mengajar tentang isi perut ibu kota ini tetapi belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. “Jangan sampe pulang dari Jakarta Anda tidak mengajar lagi tentang Yesus karena Anda belum pernah lihat Yesus,” kelakar seorang wakil rakyat menanggapi niat baik ini. Tetapi rupanya faktor dana-lah yang telah menjadi hambatan utama bagi terlaksananya program para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Ternyata di era otonomi ini, di mana banyak orang pulang kampung, Jakarta masih tetap mempesona. Situasinya rupanya masih setali tiga uang dengan saat generasi kami masih bocah. Jakarta merupakan tanah “owe beweq” yang hanya bisa dibayangkan sebagai negeri dongeng, yang sarat dengan aneka keajaiban. Namun setelah menapakkan kaki di ibu kota negeri ini, saya merasakan keajaiban negeri dongeng yang penuh impian ini di satu pihak, dan kenyataan faktual paling riil yang tak kalah ajaib di pihak lain, sebagai panorama yang ironis. Kedua dunia yang kontras namun sama-sama ajaib ini langsung melebur menjadi satu pengalaman yang sangat mengusik nurani.
Di dunia yang serba ajaib ini, perbedaan orang kaya dan orang miskin benar-benar ajaib. Bahkan perbedaan ini telah menjadi potret yang sudah sampai pada tingkat yang sangat memalukan untuk digambarkan. Ibu Leila Ch Budiman, seorang psikolog terkemuka, menganalogikannya dengan “potret pornografi” yang tak pantas lagi dilihat, karena itu tadi, sangat memalukan.
Ada orang Jakarta yang memiliki kekayaan berlipat ganda. Rumah mereka bagai istana, yang serba asri dan berhalaman luas. Malam hari istana itu bersinar, gemerlap, bagaikan kapal pesiar yang serba mewah. Sementara rakyat biasa, hidup berdesak-desakan, di rumah-rumah sempit yang sering dipelesetkan menjadi RSS, dengan imbuhan sederetan S lagi, sehingga menjadi Rumah Sempit Sangat Sederhana Sehingga Sulit Slonjor (RSSSSS). Lebih ajaib lagi ada juga orang yang tidak memiliki apa-apa, bekerja hari ini untuk makan hari ini, tidur di kolong jembatan, bahkan ada juga yang mencari makan dengan mengais dari bak sampah. Banyak anak yang kelaparan, kurang gizi. Mau sakit? Jangan mau, alias dilarang keras, walaupun kondisinya memang rawan sakit. Tidak ada rumah sakit yang mau menerima orang sakit yang miskin, kecuali orang miskin yang sudah menjadi jenazah. Benar-benar ajaib.
Jakarta memang ibu kota Tanah Air kita tetapi bagaimana nasib sebagian besar rakyatnya? “Tanah tak punya dan air pun harus beli,” kata pengamen jalanan berpuisi. Harga tanah sejengkal sudah selangit, jauh dari jangkauan kocek rakyat biasa. Karena itu banyak yang jadi “kontraktor” alias tinggal di rumah kontrakan, yang sebenarnya merupakan versi modern (atau pasca-modern) dari hidup nomaden zaman primitif nenek moyang kita. Orang baru menetap saat sudah kehabisan napas, dan diam tenteram di dalam sejengkal tanah seluas dua kali satu meter, yang kalau tidak diperpanjang lagi izinnya akan menjadi tak lebih dari kuburan anjing tak bertuan.
Banyak orang tinggal di lahan yang pada awalnya sepertinya tak bertuan. Setelah bertahun-tahun berkembang menjadi pemukiman yang ramai, datanglah pasukan tramtib yang gagah perkasa dan berlagak penguasa turun menggemuruh membawa buldoser dan langsung meluluh-lantakkan pemukiman tersebut, sementara para penghuninya hanya bisa meraung-raung meratapi nasibnya.
Pengangguran pun meningkat sejalan dengan hengkangnya investor meninggalkan Indonesia. Banyak karyawan kehilangan pekerjaan. Dengan modal uang PHK yang tak seberapa, mereka berdagang. Akibatnya makin banyak orang berdagang, sementara tempat penampungan makin sempit. Badan jalan, trotoar untuk pejalan kaki dipakai sebagai tempat berdagang. Suatu saat tramtib datang. Para pedagang kaki lima itu meraup sekenanya barang dagangannya dan lari terbirit-birit berpacu dengan petugas tramtib yang ganas dan merasa paling benar.
Pendidikkan? Di sini ada banyak sekolah tetapi tidak sedikit orang yang tidak bersekolah. Sekolahnya mahal. Apa lagi banyak sekolah sudah dijadikan industri untuk mengeruk keuntungan. Makanya yang mau atau tidak mau sekolah, hanya orang berduit. Yang tidak berduit hanya bisa tidak bersekolah, walaupun ada hasrat besar dan kemampuan intelektual di kalangan ini untuk bersekolah Tidak aneh kalau perguruan tinggi kita menjadi kumpulan orang berduit, bukan berotak. Banyak mahasiswa sebenarnya tidak pantas masuk universitas. Sementara banyak orang yang memenuhi syarat untuk menjadi mahasiswa tidak bisa masuk universitas, lagi-lagi lantaran tidak punya duit. Ironisnya, ketika ada sekolah unggul, banyak orang kaya yang ingin anaknya masuk sekolah unggul, kalau perlu dengan uang pelicin, sogok, atau apa pun namanya, karena tidak mau anaknya dianggap bodoh dan masuk ke sekolah bukan unggul. Tidak heran kalau aktivitas belajar anak-anak ini pun jarang yang serius. Sementara yang mau belajar serius tidak mendapat kesempatan belajar. Pantas kalau seorang John Stuart Mill, yang pernah mengamati situasi semacam ini misalnya, mengusulkan supaya pemerintah menciptakan semacam lembaga kepemilikan (institution of ownership), suatu pengakuan hak milik yang didapatkan dari kerja keras, dan menolak lembaga warisan. Orang tua yang menghendaki anak-anaknya juga sama-sama berjuang hidup seperti anak-anak lain di dunia, sebaiknya menyerahkan kekayaannya (warisan) pada public property. Karena makna hidup tidak diukur dari apa yang didapatkan dari warisan melainkan dari apa yang diciptakannya sendiri.
Keamanan? Anda harus ekstra waspada, dan berdoa semoga setan-setan bentukan kondisi ini tidak menghampiri Anda suatu saat. Anda harus memastikan bahwa kantong celana Anda dikancing. Jangan lengah. Tas Anda harus senantiasa dalam pengawasan. Jangan percaya pada orang parlente yang menggelantung di belakang Anda saat menumpang kendaraan umum. Bisa jadi dia seorang pencopet, yang beruntung mendapatkan kesempatan dalam himpitan dan desakan orang, mengambil milik Anda atau menyilet kantong celana tanpa menyayat kulit pantat Anda. Ajaib. Tetapi bukan berarti yang lebih serem tidak ada. Di tempat sepi Anda bisa tiba-tiba dikalungi clurit atau diancam kampak merah.
Hiburan? Luar biasa. Tetapi hanya untuk yang berduit. Tanpa duit Anda hanya tahu ada hiburan tanpa sendiri bisa terhibur. Bahkan Anda bisa bertambah sedih bila tak kuasa melihat orang berkelimpahan duit menghibur diri ke berbagai tempat hiburan, mulai dari yang halal sampai yang haram, dari yang murah dan sehat sampai yang mahal tapi murahan. Di Jakarta memang serba ada, tetapi tidak serba terjangkau.
Sepenggal narasi klasik tentang ibu kota ini tidak bermaksud menghimbau orang daerah khususnya Lembata agar tak usah lagi ke Jakarta. Juga tidak memuat pesan sponsor Pemda DKI (Daerah Khusus Ibu Kota ) yang selalu menghimbau, terutama saat mudik Lebaran atau Natal, agar orang Jakarta tidak memboyong orang baru lagi ke Jakarta karena akan menimbulkan masalah sosial di ibu kota ajaib ini. Juga bukan sekadar menjelek-jelekkan Jakarta sebagai wujud politik anggur masam untuk menghibur sekelompok guru yang memendam hasrat mengunjungi Jakarta. Maksud narasi ini sederhana saja, ingin mengajukan satu himbauan tandingan, agar pemerintah daerah, menjaga agar situasi sosial seperti di Jakarta ini jangan sampe terjadi juga di daerah. Mudah-mudahan berbagai keajaiban terutama potret pornografi kesenjangan kaya miskin yang memalukan itu jangan sampe sekali kelak menjadi potret daerah juga. Mencap dan merasionalisasikan semua masalah sosial yang negatif sebagai realitas sisi gelap bayang-bayang pembangunan, adalah sangat tidak pada tempatnya.

Jakarta, 26 Mei 2009
Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s