BAHASA INDONESIA: BAHASA PERSATUAN DAN BAHASA PENGANTAR

BAHASA INDONESIA: ANTARA BAHASA PERSATUAN DAN BAHASA PENGANTAR

Setiap tahun kita memasuki bulan Oktober, pikiran kita langsung mengarah ke Sumpah Pemuda. Namun setelah sekian banyak kali kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia masih tetap hanya berfungsi sebagai Bahasa Persatuan. Sedangkan fungsinya sebagai bahasa pengantar masih cukup memprihatinkan.

Bahasa Persatuan
Kalau sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia memang tidak diragukan. Bahkan boleh dikatakan bahasa persatuan ini merupakan satu anugerah warisan berharga dari kearifan para pendiri republik ini. Kita boleh berbangga, bahwa kita memiliki bahasa yang mempersatukan kita. Hal yang masih perlu diperjuangkan oleh banyak negara lain, termasuk beberapa negara tetangga kita seperti Filipina, Malaysia misalnya.
Dan peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini telah berjalan baik. Terbukti bahwa hampir seluruh rakyat di nusantara ini memahami Bahasa Indonesia. Kalau toh masih ada juga yang sama sekali tidak memahami Bahasa Indonesia, ini pun bukan merupakan masalah karena pasti ada orang di sekitarnya yang bisa mengerti Bahasa Indonesia dan dengan demikian bisa membantu dia. Atau juga walaupun ada bermacam-macam dialek Bahasa Indonesia yang muncul di daerah-daerah, toh akarnya tetap sama dan tetap bisa dimengerti. Misalnya saja kalau orang di Indonesia bagian Timur mengatakan kitorang akar katanya tetap dari Bahasa Indonesia kita orang. Dan orang Betawi mengerti. Atau bila orang Minang berbicara tentang kampoang, masih bisa dimengerti juga oleh orang Ambon karena akar katanya tetap kampung. Begitu juga kalau orang Betawi bilang kite, ke mane, ke sono, dan sebagianya.
Bahkan dalam EYD (ejaan yang disempurnakan) yang berlaku sejak tanggal 16 Agustus 1972 terkandung maksud juga, antara lain, supaya Bahasa Indonesia bisa lebih dekat dengan bahasa Malaysia yang masih punya rumpun bahasa yang sama. Dengan demikian diharapkan kita bisa berkomunikasi lebih baik dengan saudara kita yang berwarga negara Malaysia dan bisa mengembangkan bersama bahasa ini. Namun apakah maksud baik ini juga sudah tercapai, pakar bahasa kita Harimurti Kridalaksana masih belum melihatnya, khususnya karena sampai sekarang misalnya orang Indonesia masih sukar memahami bahasa koran Malaysia begitu juga sebaliknya orang Malaysia belum bisa menikmati koran Indonesia (Kompas 21 Oktober 1997). Tapi sekali lagi fungsinya sebagai pemersatu bangsa kita jelas tetap tak teragukan.

Bahasa Pengantar
Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan bahasa pengantar adalah bahasa yang digunakan dalam perundingan atau memberi pelajaran dsb. Maka bahasa pengantar yang ingin kami soroti di sini lebih mengarah ke bahasa yang dipakai dalam pelajaran, atau dalam kegiatan belajar mengajar. Dan lebih tepat lagi adalah bahasa guru murid. Lebih khusus lagi adalah di sekolah dasar. Dan ini mungkin bisa menjelaskan mengapa muncul kesulitan juga pada tingkat pendidikan lebih tinggi untuk berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Bahkan ada keluhan bahwa sarjana yang baru mulai bekerja, tidak mampu mengkonsep surat misalnya.
Bahasa yang digunakan biasanya adalah bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan menggunakan pola suara sedangkan tulisan menggunakan pola visual. Dua-dua mempunyai efektivitas sendiri-sendiri dalam menyampaikan pengetahuan atau ilmu. Efektivitas penyampaian dengan bahasa lisan sering sangat dibantu oleh beberapa faktor antara lain, intonasi, konteks, mimik, dan pengulangan-pengulangan. Sedang efektivitas bahasa tulis adalah kemungkinannya untuk dibaca berulang-ulang, tanpa terjadi perubahan kata atau kalimat. Namun bahasa tulisan tidak bisa dibantu secara langsung oleh faktor-faktor seperti intonasi, atau konteks, dan mimik dari si penyampai. Ini kelemahannya. Makanya Plato dalam berfilsafat di abad kelima sebelum Masehi lebih senang menggunakan bahasa lisan dalam dialog-dialog seperti yang dilakukan oleh gurunya Sokrates. Bahkan menurut dia dialog adalah hakikat filsafat. Tidak ada filsafat tanpa dialog. Dan tentang bahasa tulisan dia mengatakan “pena dan tinta membekukan pemikiran yang sejati dan kalau kita meminta keterangan kepada naskah, huruf-hurufnya tetap membisu saja”. Karena itu bahasa tulisan sangat dituntut kecermatannya, agar benar-benar bisa memberi keterangan dan informasi cukup lengkap karena tidak bisa diajui pertanyaan dan dimintai keterangan. Untuk menjamin kepastian penjelasan itu maka penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar justru lebih penting dan utama dalam bahasa tulisan. Maka bahasa tulisan harus bebas dari kesalahan karena sifatnya yang lebih pasti melalui tulisan dan huruf-huruf. Apa yang dalam bahasa lisan bisa diucapkan sekenanya, dalam bahasa tulis harus pasti. Karena itu kata dan kalimat harus dikaji secara matang, mengingat obyektivitasnya bahasa tulisan ini.
Selanjutnya, lantaran yang bisa diperiksa secara pasti adalah bahasa tulisan maka yang akan disoroti di sini adalah bahasa tulisan. Berbicara tentang Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, khusus bahasa tulisan, dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar, ada kesan tidak adanya perkembangan, kalau tidak mau dikatakan mundur. Mungkin dalam buku-buku teks pelajaran kesan ini tak seberapa dirasakan, karena umumnya teks dipersiapkan cukup cermat dan biasanya setiap penerbit buku mempunyai editor yang memperhatikan segi bahasa. Tetapi coba perhatikan soal-soal test atau ulangan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar masih memprihatinkan. Dan yang sangat terasakan di sini adalah kuatnya pengaruh cara berpikir bahasa lisan terhadap bahasa tulisan. Mungkin karena latar belakang budaya lisan kita begitu kuat, sehingga bahasa tulis kita pun menjadi sangat terpengaruh. Lalu pengandalan pada intonasi, terutama konteks dalam bahasa lisan (kontekstual), diandaikan begitu saja dalam bahasa tulisan (tekstual) sama seperti bahasa lisan (kontekstual). Akibatnya bahasa tulisan juga menjadi bahasa kontekstual yang harus ditafsirkan. Bagi mereka yang mengalami konteks, tak jadi masalah, tapi bagi mereka yang tidak mengalami konteks dan hanya mengandalkan teks, hal ini membawa kesulitan. Apa lagi kalau jawaban yang dibenarkan adalah jawaban kontekstual dan bukan jawaban tekstual. Misalnya pada contoh soal berikut ini (isilah titik-titik): “pakaian kotor harus …..”. Jawaban kontekstual adalah dicuci. Tapi itu bukan satu-satunya kemungkinan untuk mengisi titik-titik itu. Ada kemungkinan lain yang tekstual yakni diganti. Tapi jawaban kedua ini dianggap salah karena yang dijelaskan pada saat pelajaran adalah pakaian kotor harus dicuci. Jadi benarnya jawaban hanya ditentukan oleh konteks. Kemungkinan jawaban yang diberikan oleh teks disalahkan.
Lebih jauh lagi bisa dikemukakan beberapa contoh dari Evaluasi Hasil Belajar Sekolah Dasar Cawu II Tahun Pelajaran 1195/1996 DKI Jakarta pada Mata Pelajaran: Keterampilan.
I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, atau d sebagai jawaban yang paling benar! 1. Bahan manakah sumber tenaga ialah (a) Sayuran (b) Ikan (c) Nasi (d) Buah. Pasti anak yang mengikuti pelajaran akan menyilangkan c. Nasi. Karena yang dimaksudkan di sini adalah “Bahan makanan manakah yang merupakan sumber tenaga?” Tetapi kalau dicermati apakah teks soal di atas itu memang menyatakan maksud itu secara cukup tepat? Contoh soal lainnya . Berpakaian seragam lengkap …….. (a) seragam memakai topi (b) seragam memakai dasi (c) seragam memakai lokasi (d) seragam memakai topi dan dasi. Dari konteksnya bisa dimengerti, dan anak bisa memberikan jawaban yang dimaksudkan. Tetapi dari teksnya? Masak ada seragam memakai topi? Bagaimana pula dengan seragam yang memakai dasi? Sebenarnya masih ada juga contoh model yang sama dari mata pelajaran lain yang tidak dapat kami kemukakan semuanya.
II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan singkat, jelas dan tepat! Rumusan perintah ini dipakai dalam testing dari hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran Bahasa Indonesia. (Jadi rupanya sudah jadi rumusan baku dan sudah tidak mengundang rasa kritis lagi). Tetapi lagi lagi dari konteks bisa ditangkap pengertiannya, tetapi apakah tidak ada rumusan lain yang dari konteks maupun teks itu bisa sejalan dan sama-sama jelas? Tidak heran kalau ada anak yang mengisi titik-titik itu dengan kata “singkat”, “jelas” dan “tepat”. Pada hal maksud perintah di sini tentu saja adalah Isilah titik-titik di bawah ini dengan kata-kata yang singkat, jelas, dan tepat. Berikut ini ini contoh soalnya. Pakaian dibutuhkan oleh ….. Jawaban kontekstual adalah manusia. Namun teksnya sendiri memberi banyak sekali kemungkinan jawaban yang ternyata disalahkan. Misalnya, oleh orang miskin (karena orang miskin tidak punya pakaian), oleh pedagang pakaian (mau dijual lagi). Soal lainnya: Makanan yang mengandung vitamin …… Maksudnya hanya jelas dari konteks yakni jenis makanan apa saja yang mengandung vitamin, dan jawabannya adalah buah-buahan, sayur-sayuran. Tapi itu jawaban kontekstual. Kemungkinan jawaban tekstualnya bisa lain dan seharusnya juga benar misalnya: Makanan yang mengandung vitamin adalah makanan sehat.
Contoh dari Mata Pelajaran: Pengetahuan Sosial. Dalam soal-soal ulangan kita sudah biasa mengenal kata perintah seperti jelaskan, terangkan, sebutkan, gambarkan, lukiskan. Kata-kata perintah ini harus dipilih secara cermat, dan tidak begitu saja saling mengganti. Dalam contoh berikut ini kata “Jelaskan” yang dipakai tidak terlalu pas pada tempatnya. Jelaskan itu artinya memberi keterangan; dan itu berarti menggunakan beberapa kata, kalau perlu kalimat. Coba perhatikan bagaimana kata jelaskan dipakai dalam soal-soal ini:
* Jelaskan siapa nama kepala pada wilayah kelurahan? Masalahnya, mengapa harus pakai kata jelaskan? Pada hal jawabannya (kontekstual) adalah Lurah, satu kata saja. Selain itu pertanyaan siapa nama berkonotasi nama individu. Pada hal yang ditanyakan di sini adalah nama jabatan. Maka kalau yang dimaksudkan di sini adalah jabatan, mengapa tidak ditanyakan saja “Jabatan kepala sebuah wilayah kelurahan disebut”? Atau “Disebut apakah kepala pada suatu wilayah kelurahan? Dengan pertanyaan siapa nama bisa mengundang pertanyaan lebih lanjut wilayah kelurahan yang mana? Karena nama lurah itu berbeda dalam setiap kelurahan.
* Jelaskan nama organisasi kegiatan wanita di kelurahan! Jawaban yang dimaksudkan adalah PKK. Kalau begitu tak perlu minta penjelasan. Soalnya bisa mengambil bentuk lain yakni “Apa nama organisasi kegiatan wanita di kelurahan”?
Dan contoh terakhir sebuah pertanyaan yang pasti sangat sulit untuk seorang anak kelas III SD. Jelaskan tentang terjadinya sejarah kecamatan di tempatmu tinggal! Kontekstualnya bisa ditangkap “Ceritakan sedikit tentang sejarah kecamatan Anda”. Tetapi tekstualnya? Menjelaskan terjadinya sejarah, adalah sebuah karya besar untuk ahli sejarah. Bagaimana anak tidak tergoda untuk menjawab dalam hati “emangnya gua pikirin”.
Melihat contoh-contoh seperti ini bagaimana bisa diharapkan bahwa murid-murid kita di sekolah bisa merumuskan dan membahasakan pikirannya dengan cermat. Test-test yang pada umumnya hanya berupa test obyektif yang hanya menuntut kemampuan muridnya untuk membaca dan memberi tanda silang atau lingkar, tanpa merumuskan sendiri, sudah membuat murid-murid tidak terlatih untuk merumuskan pikirannya sendiri. Apa lagi kalau rumusan-rumusan soal yang disajikan pun ternyata bukan merupakan rumusan tekstual yang baik. Ke mana lagi kita mengharapkan penanaman kemampuan berbahasa Indonesia yang baik benar kalau bukan di sekolah? Bahasa itu erat hubungannya dengan cara berpikir. Maka kalau bahasa kacau kemampuan untuk mengungkapkan pikiran juga kacau.
Enampuluh sembilan tahun sudah Bahasa Indonesia dicanangkan sebagai bahasa persatuan. Kita masih harus berusaha supaya Bahasa Indonesia juga bisa menjadi bahasa pengantar, bahasa ilmiah dan dengan demikian bisa meningkatkan lagi fungsinya sebagai persatuan. Untuk itu perlu diperhatikan penggunaan bahasa yang baik dan benar sejak dini. Dan lagi-lagi gurulah andalannya. Ah, betapa besar dan berat beban dan tanggung jawab guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa. Dia harus tetap menjaga penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, walaupun banyak pihak lain tak banyak memperdulikannya.

Jakarta, 23 Oktober 1997

Benyamin Molan
Editor buku tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s