Menepati Janji Tanpa Pedang

MENEPATI JANJI TANPA PEDANG

Akhirnya menjadi jelas siapa yang keluar sebagai pemenang dalam kedua pemilu yang baru saja kita jalani. Ada pihak yang sudah mengajak kita untuk mengasah pedang menagih janji yang sudah ditebar selama ini. Memang penting untuk mengingatkan kita menagih janji-janji itu. Karena kita sering sekali lupa pada apa yang sudah dijanjikan pada kita. Sebenarnya yang lazim adalah bahwa orang lupa dan tidak setia pada apa yang dijanjikannya (atau disumpahkannya), tetapi yang tidak kalah lazimnya di negeri ini adalah orang mudah lupa pada janji yang diterimanya dan tidak setia menuntut janji itu. Maka sekarang saatnya untuk menumpuk janji itu dan menebarkannya kembali pada pihak di hadapan mereka yang mengumbar janji-janji itu. Itu mungkin aspek eksternalnya.
Namun yang tidak kalah penting adalah aspek internal, yang merujuk pada pihak yang mengumbar janji-janjinya. Integritas moral mereka akan teruji. Apakah mereka memang setia pada janji-janjinya itu atau diam-diam. Tentu saja aspek kedua ini tidak terpisah begitu saja dari aspek pertama. Artinya pencapaian aspek internal tidak bisa dilakukan secara murni tanpa aspek eksternal. Orang akhirnya bisa membatinkan kebiasan memenuhi janjinya, dengan terus menerus dituntut untuk memenuhi janjinya. Namun aspek eksternal tidak harus menjadi tujuan terminal, melainkan harus menjadi tujuan instrumental untuk mencapai tujuan terminal, yakni kesadaran internal yang tertanam secara batiniah untuk menjadi pribadi integral yang terbiasa menepati janjinya. Maka dibutuhkan juga langkah-langkah dan upaya-upaya pencerahan etis untuk mengkondusifkan loncatan dari eksternal ke internal.
Kalau aspek eksternal mengajak pihak yang diberi janji (pihak pertama) untuk mengasah pedang, aspek internal mengajak pihak pemberi janji (pihak kedua) untuk mengasah suara hati. Melaksanakan janji karena takut pada pedang terasah itu bukanlah sesuatu yang jelek (not bad). Artinya bahwa janji memang akhirnya dipenuhi juga. Tujuan akhirnya hanya bermuara pada terpenuhinya janji. Tetapi sebenarnya lebih terhormat dan bermartabat kalau janji itu dipenuhi bukan karena takut pada pedang-janji melainkan karena kesetiaan pihak penebar janji untuk memenuhi janjinya.
Perbuatan memenuhi janji karena ketakutan pada tuntutan, oleh Immanuel Kant digolongkan sebagai bukan kewajiban moral, karena termasuk dalam tindakan imperatif hipotetis (perintah bersyarat). Perbuatan yang lebih bermartabat dan karena itu tergolong kewajiban moral adalah tindakan imperatif kategoris (perintah tidak bersayarat). Pantas kalau, mengacu pada tahap-tahap kesadaran moral menurut Lawrence Kohlberg, tindakan memenuhi janji yang didorong oleh ketakutan pedang terasah belaka, tergolong tingkat kesadaran moral yang lebih rendah ketimbang kalau pemenuhan janji tersebut dilakukan sebagai kewajiban moral, kewajiban yang dilakukan dalam kebebasan dan bukan dalam tekanan yang entah timbul dari paksaan (punish) atau iming-iming (reward).
Karena itu selain menyadarkan pihak yang terjanji akan hak, dan barangkali juga kewajiban serta tanggung jawab mereka untuk mengasah pedang janji, perlu juga dibangun kesadaran moral di pihak penebar janji untuk memenuhi janjinya. Perlu ada kesadaran bahwa memenuhi janji saja belum tentu berarti memiliki kesadaran moral yang tinggi. Apa lagi kalau tidak memenuhi janjinya.
Berdasarkan perilakunya terhadap janji, entah menepati atau tidak menepatinya, para pemberi janji bisa kita kategorikan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah pihak yang tidak memenuhi janjinya. Mereka kita kelompokkan sebagai orang yang tidak termasuk dalam tahap kesadaran moral apa pun alias pembohong. Kelompok ini sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan kedudukan. Mereka hanya giat mengumbar janji palsu untuk meraih kedudukan dan selanjutnya akan menikmati kedudukannya dan melupakan semua janjinya. Maka kedudukan yang mereka bangun adalah kedudukan formal yang keropos, hanya punya bentuk tanpa isi, forma tanpa materi, aktus tanpa potensi, valid tetapi tidak benar, berjas (tetapi sayangnya) tidak bernas. Terhadap kelompok ini rakyat tidak boleh lupa mengasah pedang janji.
Kelompok kedua adalah mereka yang pada akhirnya memenuhi janjinya hanya karena takut di satu pihak atau iming-iming di pihak lain. Mereka memang pantas mendapat kedudukan tetapi belum pantas untuk mendapatkan kehormatan dan martabat. Mereka berusaha untuk memenuhi janjinya untuk menenangkan konstituennya, atau untuk menunjukkan prestasinya. Mereka beranggapan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan yang akan menentukan mereka boleh dipilih lagi atau tidak. Kelompok ini hanya perlu belajar etika (bukan sekadar etiket, banyak orang tidak bisa membedakan etika dan etiket), agar tindakan-tindakan yang baik itu menjadi keyakinannya sendiri dan menjadi motivasi dalam dirinya sendiri
Kelompok ketiga adalah mereka yang memenuhi janjinya bukan karena rasa takut pada asahan pedang atau lantaran mau mengejar target pengumpulan suara pemilu berikut nanti, melainkan sebagai kewajiban moral yang dilakukannya secara bebas dan kritis. Mereka adalah pemimpin yang punya pangkat dan kedudukan sekaligus juga punya kehormatan dan martabat. Mereka adalah orang yang tidak melihat kedudukan sebagai kehormatan dan anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri, melainkan sebagai tugas pelayanan kepada rakyat yang harus dijalankan dengan setia. Mereka akan mengucapkan syukur pada akhir masa jabatan, dan bukannya pada awal masa jabatan.
Kalau sikap dan perilaku ketiga kelompok ini kita masukkan ke dalam enam tahap kesadaran moral Lawrence Kohlberg, maka kelompok pertama tidak termasuk tahap moral mana pun, karena tingkat kesadaran moral mengandaikan adanya kesadaran moral. Sedangkan untuk kelompok kedua, terlalu naif kalau kelompok ini dimasukkan ke dalam tahap pertama dengan orientasi hukum dan kepatuhan, walaupun tidak tertutup adanya kemungkinan ini, mengingat perkembangan kesadaran moral tidak selalu sejalan dengan tingkat pertambahan usia. Lebih wajar kalau kelompok ini dimasukkan pada tahap kedua dengan orientasi do ut des, atau pada tahap ketiga dengan orientasi good boy/nice girl. Kelompok ini juga sedang menapaki tahap keempat, yang berorientasi pada hukum dan ketertiban. Mereka ini hanya memenuhi janjinya supaya mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, atau menunjukkan kesetiaannya pada hukum dan ketertiban.
Sementara itu kelompok ketiga barangkali sudah mulai memasuki tahap kelima dengan orientasi pada kontrak sosial legalistik. Mereka akan menilai kembali janji-janji mereka, menetapkan langkah-langkah untuk memenuhi janji itu sebagai bagian dari tekad mereka, dan tidak melihatnya lagi sekadar sebagai tuntutan konstituen.
Kelompok ini pun siap memasuki tahap keenam untuk melakukan penilaian-penilaian berdasarkan suara hati. Orientasinya tidak lagi pada pedang terasah melainkan suara hati yang terasah. Merekalah pemimpin sejati yang memiliki kehormatan dan martabat. Mereka akan setia pada janji dan akan merasa bersalah kalau tidak bisa mewujudkan apa yang mereka janjikan, dan siap mundur dengan kepala tegak. Mereka akan dikenang sebagai negarawan sejati dan bukan pecundang yang tidak memiliki rasa malu (shame) apa lagi rasa bersalah (guilt).

Jakarta, 16 Juli 2009

Benyamin Molan
Staf MPK Universitas Atma Jaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s