Guruku sayang

GURU, JANGAN BERHENTI BICARA!

Akhir-akhir ini, banyak wacana tentang guru bergulir di media masa. Seperti biasa wacana ini pun akan segera berganti sesuai dengan arah angin kepentingan. Lalu sang guru pun akan segera kembali ke habitatnya, “pahlawan tanpa ada asa,” alias tanpa harapan.
Guru itu tukang bicara. Kerjanya adalah bicara. Dia berteriak sepanjang hari mengajar dan menuntun murid-muridnya. Suaranya menggelegar berwibawa, mengatasi riuhnya suara anak-anak didik yang harus diajari sikap dan pengetahuan dasar. Tetapi suara itu tenggelam tanpa berwibawa ketika dia harus berbicara tentang nasibnya sendiri.
Guru adalah guru. Dia terpola oleh budaya profesi guru yang telanjur menyatu dengan dirinya. Dia bukan hanya menjadi guru pada jam sekolah, melainkan juga di rumah, di luar jam sekolah, di masyarakat. Dia harus senantiasa menampilkan kewibawaan seorang guru di mana pun dia berada. (Saya pernah menyaksikan betapa tersipunya seorang guru ketika sekelompok muridnya memergoki dia menumpang kereta barang bersama para gelandangan dan pengemis.) Tuntutan bahwa guru harus tenang, teratur, menjadi teladan, tidak boleh melawan, harus suka mengalah, sepertinya membuat guru harus betul-betul menjaga sikap dan mengatur langkahnya.
Guru tidak sama dengan buruh. Buruh boleh berunjuk rasa, berdemo, mogok dsb, guru tidak boleh. Itu termasuk perilaku yang tidak elok bagi guru. Tak enak dilihat murid. Guru tidak boleh bandel, tidak boleh mbalelo. Murid atau mantan murid boleh mbalelo. Itu wajar. Seolah-olah menjadi guru itu harus nrimo, biar bisa dipuja dan sambil menikmati kerindingan bulu kuduk, saat himne sang guru dilantunkan “terpujilah wahai engkau ibu bapak guru….. engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa ada asa.”

*****
Dalam sebuah seminar tentang Minat Baca di Indonesia, J. Drost pernah menuding sekolah sebagai lembaga yang ikut menyebabkan menurunya minat baca. Buku tidak diperkenalkan secara tepat, sehingga timbul semacam rasa benci terhadap buku. Buku selalu dikaitkan dengan PR, dengan ulangan, dengan pelajaran yang membosankan, pantas kalau murid membenci buku. Dan apa yang terjadi, saat murid tamat sekolah? Mereka seolah-olah mengucapkan “selamat tinggal sekolah dan selamat tinggal buku.”
Nasib yang dialami sekolah dan buku berimbas juga pada guru. Karenanya ungkapan di atas menjadi lengkap kalau dikatakan “Selamat tinggal sekolah, selamat tinggal buku, dan …. selamat tinggal guru.” Bukan hal yang aneh bahwa selama sekolah guru sangat dihormati dan ditakuti, tetapi setamat sekolah bekas murid bahkan tidak mengenal gurunya lagi; menegur di jalan saja pun tidak. Dulu waktu masih sekolah, murid suka menyapa guru dengan senyuman paling manis, biar tidak diberi nilai jelek. Setelah tamat sikap mantan murid sudah berubah. “Sudah nggak ngaruh lagi”. Bagaimana mengharapkan murid semacam ini akan memperjuangkan nasib guru kalau dia sudah sukses menjadi “doktrandus sarjana hukum, tukang insinyur, dokter, profesor, presiden, direktur, DPR, MPR, penguasa, dan pengusaha sukses?”
Semua orang sukses di negeri ini, pernah diajar oleh guru. Tetapi anehnya perhatian terhadap guru sangat rendah. Bayangkan kalau setiap orang sukses di negeri ini memperhatikan sendiri gurunya, pasti kesejahteraan guru sudah sedikit terpetakan. Namun orang sukses lebih merupakan kebanggaan gurunya daripada membanggakan gurunya.. Setelah meraih sukses, biasanya orang lupa pada gurunya, dengan dalih bahwa mereka sudah dibayar. Pada hal kita sadar bahwa apa yang didapatkan para guru itu tidak sepadan dengan apa yang mereka korbankan. Bukankah banyak dari mantan murid sukses di negeri ini yang jeli melihat masalahnya dan karenanya enggan menjadi guru?.
Kita memperlakukan guru sama menyedihkan dengan kita memperlakukan para kuli bangunan. Para kuli bangunanlah yang telah membangun gedung-gedung megah, rumah-rumah mewah, hotel-hotel berbintang. Di sana para kuli dekil itu bekerja keras bersimbah keringat dengan baju-baju lusuh dan kotor saat gedung dibangun. Tetapi setelah gedung itu menjadi hotel berbintang misalnya, siapakah dari para kuli bangunan itu yang diizinkan menginap satu malam saja di sana? Jangankan menginap, baru mendekati areanya saja si kuli sudah diisir oleh personil sekuritinya yang galak berseragam perlente, yang nota bene hanya sedikit berbeda nasib dengan para kuli itu.
Situasi semacam itulah yang pernah diprihatinkan seorang Karl Marx dalam kritiknya terhadap kapitalisme; bahwa dalam dunia kapitalis manusia diasingkan dari hasil kerjanya sendiri. Orang tidak lagi menikmati hasil kerjanya, karena dia hanya dibayar tenaganya, sementara hasil kerjanya itu dinikmati orang lain. Para buruh bekerja di pabrik. Hasil kerja mereka dipersembahkan pada sang kapitalis. Kuli hanya membangun gedung, tetapi gedung hasil kerjanya adalah milik sang kapitalis. Pantas kalau seorang kuli yang penasaran, menasihati anaknya: “nak, bapak ikut membangun hotel itu, tetapi bapak belum pernah menginap di sana. Kau sekolah yang betul, mudah-mudahan nasibmu berubah dan sekali kelak kau bisa mencicipi seperti apa rasanya menginap di sana.”
Guru kita senasib dengan para kuli itu. Mereka telah ikut menghantarkan muridnya mencapai kesuksesan. Tetapi kesuksesan itu telah semakin menciptakan kesenjangan perhatian murid terhadap guru. Sementara muridnya terus melejit menjangkau bintang, sang guru hanya bisa dengan bangga mengatakan “lihat, itu murid saya.” Guru seolah-olah diasingkan dari muridnya. Pada hal seluruh petinggi dan penguasa di negeri ini pernah menjadi murid. Tetapi mengapa guru tak kunjung mendapatkan perhatian? Lupakah mereka pada sang guru?
Rupanya sulit untuk meminta para mantan murid itu ikut memperjuangkan nasib guru. Sudah saatnya para guru tak henti-hentinya berteriak sendiri menuntut perbaikan nasibnya. Para guru harus terus bersama tuan guru “Umar Bakri” setia mengayuh sepeda bututnya. Tetapi kali ini mereka harus melaju sambil mendendangkan lagu Iwan Fals lainnya: “Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang.” Beranikah para guru? Malu…. Tidak selaras dengan budaya profesi guru. Mengayuh sepeda bersama tuan guru Umar Bakri itu biasa, tetapi selanjutnya mendendangkan lagi itu? Ogah ah. Kalau begitu ganti saja kata “uang” dengan “perhatian.” Mudah-mudahan dapat.

Jakarta, 14 Desember 2005

Benyamin Molan

Mengajar di Atma Jaya Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s