NARASI NATAL

Dari sejarahnya, Natal itu muncul setelah Paskah. Tidak dimaksudkan di sini bahwa peristiwa kebangkitan atau Paskah itu mendahului kelahiran, melainkan bahwa perayaan Natal adalah perayaan yang direfleksikan dari peristiwa Paskah.

Sebenarnya ini bukan hal yang aneh. Ini hal yang lazim  juga terjadi pada para tokoh atau pesohor lainnya. Kelahiran sang tokoh biasanya baru mendapatkan perhatian setelah dia menjadi tokoh. Perhatikan betapa kita akhir-akhir ini demam sepak bola. Okto, Gonzales, Hamka Hamzah, Achmad Bustomi, Firman Utina, baru disoroti latar belakang kehidupan keluarganya di TV, ketika mereka menjadi “tokoh” dalam tim sepak bola Indonesia saat ini. Singkatnya orang baru diperhatikan latar belakangnya, termasuk kelahirannya, setelah dia menjadi tokoh. Hal serupa juga terjadi pada Yesus. Setelah peristiwa iman Kebangkitan di hari Paskah, baru kisah-kisah kelahiran Yesus mendapat perhatian. Dengan kata lain, Natal baru diperhatikan dan mendapat arti karena Paskah. Jadi Natal sesungguhnya merupakan perayaan refleksi. Karenanya Natal merupakan suatu peritiwa dengan narasi yang sarat refleksi.

Dalam garis kebangkitan kita bisa merefleksikan Natal sebagai awal dari perjuangan menuju sukses, awal dari salib dan penderitaan menuju kemuliaan dalam kebangkitan. Maka untuk yang sukses, entah dalam karir atau hidup (sehat kembali, lepas dari persoalan, luput dari bahaya, sukses dalam pendidikan, dan lain-lain) Natal bisa menjadi saat untuk bersyukur, melihat kembali seluruh perjalanan hidup dan karirnya. Kisah sukses pasti berawal dari kisah perjuangan. Dalam kesuksesan seluruh lingkup dan dunia perjuangan awal bisa menjadi lebih berarti dan memberikan inspirasi. Dengan demikian orang tidak gampang terhanyut, lalu menjadi angkuh, takabur, dan hanya menjunjung langit tetapi tidak lagi berpijak di bumi. Jadilah kacang yang tak lupa pada kulitnya.

Dari kesederhanaan narasi kelahiran, Natal bisa direfleksikan sebagai selebrasi solidaritas terhadap orang miskin dan tertindas, yakni kelompok yang selalu termarginalisasikan, terpinggirkan, dan terpojokkan dalam masyarakat; terutama dalam masyarakat yang mengembangkan sikap bahwa yang kuat boleh melibas yang lemah; yang berkuasa boleh menyingkirkan yang tak berdaya. Dalam masyarakat semacam itu kepentingan umum sering diidentikkan dengan kepentingan mayoritas, entah mayoritas suku, budaya, agama, keyakinan, kelas, kuasa, harta. Maka bagi orang yang miskin, gagal, kalah, tertindas, dan termarginalisasi, Natal bisa memberi inspirasi dan motivasi untuk terus teguh dan tangguh berjuang.

Dari narasi yang ironis dan kontradiktif dalam kelahiran seorang raja, Natal bisa direfleksikan sebagai pewartaan damai. Raja bukannya lahir di istana yang megah, melainkan di gua tempat hewan dan gembalanya berlindung dari panas dan berteduh dari hujan, serta menemukan kehangatan di kedinginan malam. Dalam hal ini kekuasaan ditunjukkan bukan dengan senjata dan keperkasaan, melainkan dalam damai, ketenangan, dan kasih. Perubahan dan pertobatan yang terdorong oleh damai dan kasih itu lebih teguh daripada perubahan dan pertobatan yang terdorong oleh senjata dan kekerasan. Senjata dan kekerasan hanya bisa mengubah dari luar tetapi tidak bisa mengubah dari dalam. Senjata hanya bisa menghasilkan kemunafikan dan formalisme yang mengkilap dari luar, tetapi tidak bisa membawa otentisitas dan kesejatian yang tak kasat mata dari dalam.

Dari narasi tentang Maria dan Yoseph yang tidak mendapatkan penginapan, Natal bisa direfleksikan sebagai selebrasi masalah yang justru bisa menjadi berkah bagi sebuah keluarga. Masalah-masalah dalam keluarga tidak perlu dilihat sebagai perongrong keutuhan keluarga melainkan menjadi semen perekat yang mengukuhkan keutuhan keluarga. Natal memberikan kesempatan untuk mengamati kembali masalah dan mengagumi kebersamaan yang kokoh dalam keluarga yang telah sukses berlayar mengarungi badai masalah. Bukan laut yang tenang, melainkan badailah yang telah menciptakan pelaut-pelaut yang tangguh. Maka rasanya tidak selalu tepat untuk mengatakan bahwa karena “banyak masalah maka kita bubar”. Justru banyak masalah kita seharusnya makin kokoh dan tangguh. Pinjam ucapannya Nietzsche, “That which does not kill me, makes me stronger.” (Masalah yang tidak membunuh saya, membuat saya menjadi lebih tangguh).

Masih ada narasi-narasi lain yang syarat dengan refleksi dan penafsiran yang bisa membangun inspirasi dan motivasi dalam menjalankan hidup kita. Narasi tentang gembala, tentang Herodes yang sewot dengan berita kelahiran, tentang orang majus dari Timur, tentang kesetiaan Yoseph dan Maria, pelarian ke Mesir, dan narasi-narasi lainnya bisa merupakan bagian dari narasi kehidupan kita sendiri. Mudah-mudahan narasi Natal, melahirkan semangat, motivasi, penghiburan, dan inspirasi baru dalam hidup kita. Selamat Natal kawan, 25 Desember 2010.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s